Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Janda rasa perawan


__ADS_3

Ke-3 bocah rusuh itu akhirnya bisa diboyong oleh kedua orang tua Aurelia serta Mama Syifa, dan suasana kamar kini terlihat nampak sunyi tidak seramai tadi. Wajah Emran jelas berubah total dengan menebarkan senyum yang lebar, akan tetapi berbeda jauh dengan Aurelia yang kini berada di kamar mandi.


Wanita itu membuka kotak berwarna hitam dengan tulisan Victoria, dan dikeluarkannya isi kotak yang diberikan oleh mama mertuanya.


“Kamu harus pakai yang ada dikotak ini, ingat menyenangi suami itu ibadah. Pahalanya banyak,” bisik Mama Syifa sebelum keluar dari kamar.


Berulang kali Aurelia menelan salivanya, melihat lingerie warna hitam itu, sungguh luar biasa sexy jika dia memakainya. “Duh si mama kenapa kasih baju kayak begini, ini sama saja gak pakai baju, mana tembus pandang,” gerutu Aurelia membolak balikkan lingerie tersebut.


Dia pun lantas menempelkan lingerie tersebut ke badannya, lalu menatap pantulan dirinya ke cermin. Penuh keraguan untuk memakainya, tapi teringat ucapan mertuanya memang benar, menyenangi suami itu ibadah.


“Kira-kira kalau pakai baju kayak begini bakal ditertawakan sama Mas Emran gak ya?” Masih saja Aurelia berpikir ulang.


“Sayang, kamu di dalam ngapaiin? Udah setengah jam di dalam loh?” Suara cemas Emran terdengar jelas di dalam kamar mandi bersamaan suara ketukan pintu.


“Iya Mas, aku lagi BAB ... sakit banget perutnya!” jawab Aurelia penuh dusta, sembari memencet flash air biar terdengar betulan.


“Aku takut kamu kenapa-napa, Sayang,” jawab kembali Emran dari dari balik pintu.


“Ya Mas, sebentar lagi aku keluar kok.”


Aurelia mendesah sembari masih menatap lingerie tersebut, lalu menatap pintu di mana suaminya sudah menunggunya.


Setelah beberapa menit kemudian Aurelia pun keluar dari kamar mandi, dengan langkah kaki yang mengendap-endap, namun sayangnya derit pintu kamar mandi terdengar jelas di telinga Emran, hingga pria yang sedang duduk bersandar di atas ranjang langsung menolehkan wajahnya.


Netra Erman langsung membulat dan melebar, sedangkan Aurelia tampak malu-malu ketika melangkahkan kakinya dengan kedua tangannya sibuk menutupi bagian atas dan bagian pahanya yang cukup tereskpos.


“S-Sayang ... k-kamu.” Sangking terpesona sama keseksian istrinya sendiri Emran sampai terbata-bata.


Pria itu lantas bangkit dari atas ranjang kemudian menghampiri istrinya yang tidak melanjutkan langkah kakinya.


“Mas, lihatnya jangan begitu dong.”


Emran tersenyum hangat lalu menarik tubuh mungil istrinya tersebut untuk dia rangkul pinggangnya. “Aku melihat seperti itu karena aku terpesona melihat, kamu seksi banget. Tapi ngomong-ngomong dapat baju ini dari mana? Perasaan belanjaan kita tempo hari gak ada lingerie ini?”


Lingerie berwarna hitam itu memang sangat kontras dengan kulit putih mulus milik Aurelia, belum lagi tubuhnya sangat indah dilihatnya, sampai-sampai bagian bawah Emran sudah berdenyut, padahal baru lihat saja. Bagian atas Aurelia yang bulat tampak menyembul dari balik lingerie, belum lagi bagian bawah tinggal disingkap maka akan tereskpos keintimannya.


“Ini dikasih sama mama, suruh dipakai,” jawab Aurelia pelan, dan tak berani menatap wajah suaminya.


Pria itu mengulurkan tangannya menyentuh dagu istrinya agar kembali menatapnya. “Kenapa menundukkan wajahnya?”


“Mmm ... malu Mas.”

__ADS_1


“Kok malu? Kan sama suami sendiri ... hem.”


Aurelia hanya bisa tersenyum tipis, dan tak mungkin dia berkata jujur jika ini untuk pertama kalinya berpenampilan seksi seperti ini.


“Sayang, boleh aku menyempurnakan ibadah kita?” tanya Emran dengan tatapan hangatnya.


Aurelia menelan salivanya susah payah, debaran jantungnya semakin cepat, akhirnya sesuatu yang dulu dinantikan saat menikah dengan Dhafi namun tidak pernah terwujud, sekarang sepertinya akan terjadi.


Emran masih memperhatikan manik mata istrinya yang tampak membeku, diusapnya pipi istrinya. “Bolehkan Sayang, aku memiliki dirimu seutuhnya? Tapi kalau kamu belum siap, gak pa-pa kita tunda dulu.” Emran tidak mau memaksakan kehendaknya jika istrinya belum siap, yang ada tidak akan ada kenikmatan dalam berhubungan intim.


Tangan Aurelia menyentuh tangan suaminya yang masih mengelus wajahnya. “Aku siap dimiliki olehmu.”


Jawaban yang membuat Emran tersenyum bahagia, dilafazkannya doa di atas kening istrinya lalu dilanjutkan mengecup kening Aurelia. Kemudian kecupan itu turun ke hidung, lalu berseluncur ke bibir ranum istrinya. Kali ini sentuhan di bibir mereka berdua penuh gelora yang panas. Tanpa melepas pagutan, Emran mengendong istrinya bagaikan anak koala menuju ranjang pengantin mereka berdua, lalu perlahan-lahan direbahkannya di atas ranjang.


Napas mereka berdua sudah memburu, apalagi Aurelia yang belum ada pengalaman agak kesulitan mengambil napas saat bibir suaminya bermain lincah dalam rongga mulutnya. Sejenak mereka mengatur napas sembari saling bersitatap.


Mereka berdua pun saling berbalas senyum, tatapan mereka berdua pun terlihat berkabut asmara, terutama Erman yang sudah dilingkupi hasrat ingin memiliki Aurelia seutuhnya. Pria yang sudah mengungkung istrinya mulai bergerak menelusuri tubuh Aurelia dengan bibirnya. Dan jelas tubuh Aurelia bergelinjang hebat dimulai daun telinganya dikecup hangat, lalu turun ke leher dan semakin lama lingerie yang dia kenakan lepas begitu saja, bra hitamnya pun sudah tak menempel sempurna di kedua bongkahan indahnya yang masih kencang dan padat.


“Mas Emran!” Suara merdu Aurelia terdengar jelas di telinga Emran, tangan wanita itu pun sudah meremat rambut lebat suaminya yang masih bermain dengan bongkahan indahnya itu, menahan gelombang yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.


Perut bagian bawahnya seakan ada yang menggelitik, dadanya pun seakan ada yang membuat dirinya ingin melayang ke udara, perasaan yang tidak bisa Aurelia lukiskan, yang jelas sentuhan suaminya membuat dirinya menggila, apalagi saat Emran sudah berada di antara kedua pangkal pahanya. Entah bagaimana ceritanya mereka berdua sudah dalam keadaan polos, Aurelia pun terlihat napasnya terengah-engah saat suaminya berhasil membuat dirinya mendapatkan kenikmatan untuk pertama kalinya.


“Kamu benar-benar indah dan seksi, sayang ... sungguh beruntung aku memilikimu,” puji Emran sembari menatap istrinya yang masih mengatur napasnya. Wanita itu hanya bisa bergumam, sembari membelalak netranya saat melihat benda pusaka suaminya yang sudah berdiri tegak dalam ukuran besar. Langsung saja dia menutup matanya dengan salah satu tangannya, namun Emran langsung menarik tangan Aurelia.


Hingga akhirnya ...


“AAKKHH ... Mas sakit Mas!” pekik Aurelia sampai dia terangkat badannya.


Emran pun juga merasa kesusahan saat ingin memasukkan pusakanya ke bagian intim istrinya. Dia pun lantas menatap heran kepada istrinya.


“Sakit sekali Sayang, ini punyaku belum masuk loh?”


“Iya Mas, sakit banget ... masuknya pelan-pelan aja,” pinta Aurelia dengan netranya yang mulai membasah.


Emran jadi tidak tega, dan berpikir apa karena Aurelia sudah lama menjanda jadi susah masuknya. Dia pun mengecup pipi istrinya.


“Kalau begitu kita tunda saja, aku gak tega melihat kamu kesakitan.”


Aurleia menggelengkan kepalanya, mau sekarang atau pun nanti pasti akan merasakan kesakitannya, apalagi dia kasihan lihat suaminya bakal sakit kepalanya karena menahan hasratnya.


“Lanjut aja Mas, tapi pelan-pelan aja, mau sekarang atau besok tetap aja sakit.”

__ADS_1


Emran kembali menatap dalam istrinya. “Gak pa-pa kamu terasa sakit lagi?”


“Ya Mas gak pa-pa.”


“Kalau begitu peluk aku, gigit aku atau cakar aku buat nahan sakitnya ya,” pinta Erman. Wanita itu menganggukkan pelan, Emran meraup kembali bibir istrinya untuk mengalihkan rasa sakit bagian intimnya.


1 kali, 2 kali, 3 kali hentakan ...


“MAS! SAAAKKKITTTT!” teriak Aurleia.


Emran benar-benar shock, wajahnya nampak pias saat mencoba memasukinya, suara robekan serta percikan darah terlihat di netranya sendiri di saat dia melirik bagian intim istrinya.


“Sayang, kamu masih perawan?”


Dengan air mata yang terjatuh karena menahan rasa sakit, dia menganggukkan kepalanya. Emran langsung merengkuh tubuh istrinya.


“Masya Allah, alhamdulillah ... kamu masih perawan, Sayang. Aku mimpi apa? Ya Allah terima kasih atas kado yang terindah ini. Aku sangat mencintaimu, istriku Aurelia,” ungkap kebahagiaan yang tak terkira rasanya di hati Emran, terlihat sekali wajah Emran sangat bahagia.


"Ya Allah, aku menikahi janda tapi rasa perawan."


Pria itu pun lantas menghunjami wajah Aurelia dengan ciumannya, sampai Aurelia kegelian sendiri. Hatinya pun turut bahagia melihat kebahagiaan suaminya. Mahkotanya yang berharga sudah diberikan kepada orang yang tepat.


“I love you more, istriku Aurelia.”


“I love you too, suamiku Mas Emran.”


Malam indah pun kembali berlanjut, rasa sakit yang mendera Aurelia semakin lama tergantikan dengan suara merdu yang saling bersahutan. Sempurna sudah ibadah mereka berdua yang kini sudah menjadi satu, dan sempurna sudah kebahagiaan Aurelia bersama Emran.


Doanya yang selama ini dia panjatkan ingin merasakan memiliki suami yang mencintainya, ingin memiliki rumah tangga yang harmonis, semuanya terkabulkan akan tetapi bukanlah Dhafi suaminya, justru Emranlah suaminya yang sekarang.


Jalan hidupnya yang dulu sangat menyedihkan, akhirnya tergantikan dengan kebahagiaan yang tak disangka-sangka. Benar kata pepatah, usai hujan pasti akan ada pelangi yang datang, tinggal kitanya yang bertawakal dan bersabar.


...THE END ...


 Tiba sudah di penghujung cerita, terima kasih buat Kakak Readers yang sudah menemani dari awal hingga akhir cerita. Mohon maaf jika masih banyak kekurangannya, ambil sisi yang baik buang yang sisi buruknya. Sampai bertemu lagi di karya selanjutnya, InsyaAllah bulan depan ya.


Bagi yang ingin baca kisah Emran versi terbaru yuuuk meluncur di PF berwarna unggu/kuda/love mumpung belum dikunci.


Lope-lope sekebon 🍊🍊🍊🍊🍊


__ADS_1



 


__ADS_2