Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Ada apa dengan hatiku!


__ADS_3

Ada keheningan yang menyeruak di antara Emran dan Aurelia di sepanjang perjalanan menuju mansion. Ya, selepas mereka berdua mengantar  Bapak Heri dan Bu Ida cek in ke kamar, mereka berdua lantas berpamitan untuk kembali ke mansion. Segala keperluan kedua orang tua Aurelia juga sudah disiapkan oleh Adam, jadi wanita muda itu tidak perlu mengkhawatirkan mereka.


Hampir selama 45 menit perjalanan ke mansion, Emran lebih banyak berdiam namun sesekali ujung ekor netranya melirik wanita yang duduk di sampingnya, sementara itu Aurelia lebih sering menatap ke arah luar jalanan dan lebih menikmati memandang panorama di luar sana. Pada dasarnya Emran dan Aurelia memang tidak terlalu dekat, jadi keheningan yang terjadi di antara mereka berdua tidak menjadi masalah buat Aurelia.


Setibanya mobil yang membawa mereka berdua tiba di luar lobby mansion, Emran turun terlebih dahulu lalu baru disusul oleh Aurelia. Wajah pria itu sudah kembali seperti awal Aurelia mengenalnya, dingin dan datar. Adam yang turut turun dari mobil, agak merasa aneh dengan perubahan tuannya, bisa secepat itu berubahnya, namun buat apa juga Adam memikirkannya, yang ada dia bergegas menyusul tuannya yang kini melangkahkan kakinya menuju ruang kerja.


Sementara itu, bocah tampan yang sedang bermain bersama Mama Syifa di ruang utama, langsung berhamburan dan memeluk Aurelia, ketika melihat kedatangan wanita muda itu.


HUP!


“Mbak!” seru Athallah, tubuh mungil itu pun langsung digendong oleh Aurelia. Bocah kecil itu pun merangkul leher wanita itu dan mengecup manis pipi pengasuhnya itu.


“Mbak udah cehat?” tanya Athallah, manik matanya berbinar-binar.


“Alhamdulillah, Mbak sudah sehat berkat doa Abang,” jawab Aurelia lembutnya.


Mama Syifa mengulas senyum tipisnya melihat kebersamaan cucunya bersama pengasuhnya, wanita tua itu pun menghampiri mereka.


“Alhamdulillah kamu sudah keluar dari rumah sakit, dan selamat datang kembali di sini, serta mulai hari ini kamu tinggal di sini, kan?” tanya Mama Syifa.


Aurelia membalas senyuman Mama Syifa. “Iya Nyonya, InsyaAllah mulai hari ini saya akan tinggal di sini seperti maid yang lainnya.”


“Hole Mbak tinggal di cini, belalti bobonya cama Atha, kan?” tanya Athallah kegirangan.

__ADS_1


“Iya Abang,” jawab Aurelia, mengulas senyum bahagianya.


Sesenang itu majikan kecilnya mengetahui pengasuhnya akan tinggal bersama, bagaikan dapat hadiah yang tak terhingga buat Athallah dengan kehadiran Aurelia.


“Ya sudah sekarang kamu istirahat dulu, kamar kamu ada di sebelah kamar Athallah, Pak Yusuf sudah menyiapkan,” ucap Mama Syifa menyentuh bahu Aurelia.


Aurelia agak mengernyitkan dahinya setelah mendengar posisi kamar yang akan ditempatinya. “Maaf Nyonya, bukankan kamar pelayan di sini ada di belakang ya? Kenapa kamar saya di sebelah kamar Atha?” Dari tatapan Aurelia tersirat rasa ingin tahunya.


“Emran yang mengaturnya, dan menurut Ibu gak masalah kamu tidur di kamar atas. Jadi ajaklah Athallah ke atas, biar kalian sama-sama bisa istirahat. Atha juga baru selesai makan, belum tidur siang,” pinta Mama Syifa dengan lembutnya.


Athallah rupanya sudah menaruh kepalanya di atas pundak Aurelia, yang kebetulan masih dalam gendongnya.


“Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya, sepertinya Atha memang sudah mengantuk,” pamit Aurelia. Mama Syifa hanya bisa mengangguk dan membelai surai Athallah, lalu membiarkan mereka berdua meninggalkannya, dibalik pilar tinggi tersembunyi Rida yang menatap kehadiran Aurelia.


Kini Aurelia sudah berada di lantai dua dan kembali menjalankan tugasnya mengasuh Athallah, berhubungan masih siang dinina bobokan terlebih dahulu majikan kecilnya, setelah itu bersamaan Pak Yusuf menghampirinya untuk memberitahukan kamar yang akan ditempati oleh Aurelia.


Benar saja, kamar yang ditempati oleh Aurelia ada di sebelah kamar Athallah, tak bisa dipungkiri wanita itu sangat mengagumi kamar tersebut, sangat mewah bagaikan kamar seorang majikan bukan kamar pelayan, dan sudah jelas berbeda dengan kamar yang dia tempati di rumah Dhafi.


“Pak Yusuf, ini benar saya tempati kamar ini?” tanya Aurelia agar tidak salah mengira.


“Ya, ini perintah Tuan Emran, jadi selama kamu tinggal di sini, kamu menempati kamar di sini, alasan Tuan Emran agar memudahkan kamu mengurus tuan muda,” jawab Pak Yusuf.


Jawaban yang sangat masuk akal bagi Aurelia, jika dia menempati kamar di belakang jelas harus tergopoh-gopoh kalau ada sesuatu yang menyangkut majikan kecilnya.

__ADS_1


“Tapi saya jadi gak enak dengan maid yang lainnya Pak Yusuf, pasti akan ada yang iri hati dengan saya kalau tinggal di kamar ini,” keluh Aurelia sembari menatap setiap sudut kamar tersebut.


“Tidak perlu kamu pikirkan mereka, selama ini keputusan Tuan Emran, mereka juga tidak berhak menggugatnya, masalah iri hati biarkan saja. Oh iya takut saya lupa, keperluan kamu sudah tersedia di sini semuanya.”


Aurelia menghela napasnya panjang, mau bagaimana lagi memang benar jawaban Pak Yusuf, dia sendiri pun tidak bisa kembali bernegosiasi jika berurusan dengan majikan besarnya tersebut. Mungkin mulai saat ini dia harus menyiapkan mental untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.


Usai Pak Yusuf keluar dari kamarnya, barulah Aurelia menyelusuri setiap sudut kamarnya yang cukup luas seperti kamar milik Athallah, yang membedakannya hanyalah dekorasinya lebih feminim. Tangannya bergerak menyentuh furnitur yang berada di sana, hingga dia bergerak ke ruang walk closet yang tidak terlalu besar itu.


“Ini kenapa sudah banyak baju,” gumam Aurelia sendiri agak terkejut, dia pun mengambil salah satu baju yang di gantung, lalu menempelkan ke bagian depan tubuhnya.


“Kok bajunya sesuai ukuran denganku.” Aurelia kembali meletakkan baju tersebut dan mencoba menurunkan baju yang lain, lalu mencoba seperti tadi.


Bolehkah Aurelia sedikit menikmati rasa haru namun mampu menghangatkan hatinya saat ini. “Kenapa Tuan Emran begitu baik menyiapkan ini untukku.” Dia baru teringat ucapan Pak Yusuf jika keperluannya sudah disiapkan, inikah maksudnya. Memang dirinya tidak membawa apa pun untuk datang ke mansion, barang miliknya masih berada di rumah Dhafi, walau barangnya juga tidak terlalu berharga.


Dia menundukkan kepalanya setelah melihat isi ruang walk closet, netranya berembun atas rasa harunya, kebahagiaan yang sangat sederhana, hanya sebuah perhatian walau tak terucapkan oleh Emran.


Sementara itu di ruang kerja, Emran yang sengaja tidak datang ke perusahaan namun tetap mengerjakan pekerjaannya dari mansionnya, tampak mengetuk-ngetuk pulpennya di atas meja kerjanya, tatapannya memang berada di atas berkas yang diberikan oleh Adam, namun pikirannya melalang buana.


“Ada apa dengan hatiku ini,” gumam Emran sendiri.


Setelah sempat mendengar ucapan Aurelia di restoran tadi, entah kenapa membuat hati Emran terasa ngilu dihatinya sendiri, layaknya orang yang patah hati. Dan entah kenapa dia juga memilih mendiamkan Aurelia.


 

__ADS_1


__ADS_2