
Aurelia mulai terasa langkah kakinya begitu ringan karena tangannya digenggam hangat oleh majikan kecilnya, semakin lama wajahnya pun bisa sedikit terangkat, tidak selalu menundukkan wajahnya seperti tadi karena masih tidak percaya diri, apalagi dengan penampilan barunya sekarang.
Kini, Aurelia mengikuti langkah Tommy di sepanjang lorong dan berhenti di salah satu pintu yang berlabel Ruang Meeting. Tangan Tommy mengayun dan mulai mengetuk pintu, tanpa menunggu waktu yang lama, pintu pun terbuka terlihatlah sosok Adam. Dalam per sekian detik sang asisten mengangga melihat sosok Aurelia yang jauh berbeda penampilannya, namun per sekian detik juga dia menyadarkan dirinya.
“Mari masuk ...,” ajak Adam dengan ramahnya, dan sudah tentu Athallah menarik tangan Aurelia agar cepat masuk ke dalam. Wanita muda itu hanya membalas dengan senyuman tipis.
“Ayo Mbak masuk ke dalam, Daddy udah nunggu,” rengek Athallah tidak sabaran.
“Iya Abang, sabar sayang,” pinta Aurelia, tubuhnya sudah terhuyung-huyung akibat tangannya ditarik sama majikan kecilnya, hingga mereka pun masuk ke dalam ruang meeting. Dan ...
DEG!
Aurelia menghentikan langkah kakinya, saat melihat begitu banyak orang di dalam sana, semua mata memandang dirinya bersama Athallah, dan dia melepaskan genggaman tangan majikan kecilnya.
“Daddy ... Atha datang!” seru Athallah melangkah riang menuju Erman duduk, pria yang dipanggil daddy itu pun memutar kursinya dan langsung menangkap tubuh mungil anaknya untuk dia dekap, lalu netranya membeliak saat melihat Aurelia.
Sementara itu Aurelia merasa canggung dan tidak enak hati, karena merasa mengganggu kegiatan rapat, lalu dia melayangkan tatapan ke semua peserta rapat, dan berhenti saat melihat sosok yang sangat dia kenal.
“Mas Dhafi!” batin Aurelia sungguh terkejut.
Pria yang dikenali oleh Aurelia pun menatap dirinya, netranya terlihat memindai wanita muda itu yang terlihat sangat cantik dan jelas fresh lebih muda dari biasanya. Sekian lama Dhafi mengamati mulai merasa kenal.
“Aurelia!” batin Dhafi mulai menerka-nerka dengan hati yang mulai ketar-ketir.
Dibalik Dhafi masih menerka, Emran bangkit dari duduknya lalu mengendong putranya, kemudian menghampiri Aurelia yang masih membeku dalam posisi berdirinya.
Dengan tersenyum hangat pada Aurelia, pria itu semakin mendekati dan tiba-tiba mengecup kening Aurelia lalu melingkarkan tangan kokohnya di pinggang ramping Aurelia.
__ADS_1
Netra Aurelia membulat saat itu, mimpi apa dia semalam sampai keningnya dikecup sama majikannya, berharap saja tidak pernah. “Tu—“
“Makasih ya sayang sudah ke kantor aku,” ucap sela Emran sangat lembut.
Ah, netra Aurelia semakin membesar saat membalas tatapan Emran. “A-ada apa ini, apa yang terjadi ... dan ini kenapa Mas Dhafi ada disini, jangan bilang Mas Dhafi bekerja di perusahaan Tuan Emran. Lalu kenapa Tuan Emran cium keningku dan panggil aku sayang!” batin Aurelia terkejut dan sudah mulai cemas, apalagi ada sosok suaminya yang kini menatapnya dengan tajam.
“Tapi tunggu dulu bukankah ini kesempatanku untuk membalas semua perbuatannya, dan memudahkan aku untuk minta bercerai dengan Mas Dhafi, bukankah dia tidak mencintaiku, dan sudah menuduhku sebagai wanita murahan,” batin Aurelia mulai dapat ide.
Emran yang masih merangkul pinggang Aurelia sembari mengendong anaknya menatap ke semua karyawan. “Maaf semuanya agak mengganggu, mumpung calon istri saya ada di sini perkenalkan namanya Aurelia, sebentar lagi kami akan segera menikah, mohon doanya,” ucap Emran dengan sikap santainya.
BRAK!
Tiba-tiba saja meja meeting ada yang menggebrak dan hal itu membuat semua orang terkejut, rupanya Dhafi sudah berdiri dan netranya mulai memerah karena menahan emosinya. Dengan gaya santainya Emran menoleh dan menatap aneh pada Dhafi.
“Ada apa Pak Dhafi kenapa tiba-tiba menggebrak meja, ada yang membuat Anda marah. Atau Anda kurang berkenan jika saya memperkenalkan wanita muda di samping saya sebagai calon istri saya, hem?” tanya Emran, setelah itu dia kembali menatap Aurelia dan kembali mengecup kening wanita muda itu, sementara Aurelia tersenyum tipis melihat suaminya, yang dia ketahui sedang menahan emosinya.
Kenapa hatimu memanas, Dhafi! Jangan bilang kamu cemburu! Bukankah dia istri yang sudah lama kamu sia-siakan, dan kamu masih bersikap kejam padanya! Percuma kamu menunjukkan rasa cemburu mu. Dan ingatkah kamu, betapa hancurnya hati Aurelia saat melihatmu berhubungan intim dengan Faiza! Sekarang nikmatilah perasaan yang mengelayuti hatimu itu.
Emran kembali melayangkan pandangan ke Dhafi. “Atau Pak Dhafi mengenal Aurelia calon istri saya ini?” tanya Emran dengan tatapan menyelidiknya.
Dhafi mulai tampak gugup, dari semula dia sudah mengakui masih lajang pada Emran, dan tak mungkin tiba-tiba meralat statusnya sudah menikah lalu memberitahukan jika wanita yang dirangkul oleh atasannya adalah istrinya, sama saja dia menyeburkan dirinya dengan dua kesalahan di depan orang banyak.
“Ma-maaf Pak Emran tadi saya pukul meja karena ada cicak pas ada di hadapan saya karena kaget, dan saya juga tidak kenal dengan calon istri Bapak, baru hari ini juga saya melihatnya,” jawab Dhafi penuh dengan kata dusta.
Faiza dengan rekannya yang membawa minuman ke ruang meeting, dan sejak tadi berada diambang pintu mulutnya mengangga karena mendengar jelas perbincangan di dalam ruang meeting, ditambah lagi Faiza masih ingat dengan sosok bocah yang digendong oleh Emran.
“Anak itu ... jangan bilang, kalau yang datang pagi-pagi menjemput Aurel adalah Pak Emran! Keterlaluan, dasar wanita gatal ... dia sudah mendahuluiku!” geram batin Faiza, hampir saja kedua tangannya yang membawa tas kopi terjatuh dari genggamannya, netranya masih ingin tahu wanita yang hanya kelihatan punggungnya, apa beneran Aurelia.
__ADS_1
“Oh, saya pikir Pak Dhafi mengenalnya,” jawab Emran. Lalu dia kembali melirik Aurelia. “Sayang, kenal tidak dengan Pak Dhafi?” Kini giliran Emran yang bertanya.
Wanita muda itu berusaha tenang dan mencoba mengulas senyumnya. “Sama seperti yang dijawab Pak Dhafi, aku tidak mengenalnya, ” jawab Aurelia. Wanita itu mengikuti sandiwara Emran, dan tidak mau membuat tuannya malu jika dia bilang sebagai istri Dhafi, lagi pula suaminya juga tidak mengakui sebagai istri di saat ini juga.
Menggilalah hati Dhafi saat itu juga. Semua staf marketing terdengar berbisik-bisik membicarakan apa yang terjadi di depan mata mereka, diiringi Faiza masuk bersama rekannya menyajikan minuman yang mereka berdua.
Netra Faiza terbelalak saat menegaskan netranya jika dia tidak salah lihat orang, sejak tadi dia hanya melihat punggungnya saja, sekarang dia melihat jelas dari depan. “Jadi ini beneran Aurelia, kurang asem! kenapa bisa berubah penampilannya!” batin Faiza. Tangannya pun gemetar hingga cup coffe yang ditaruh di hadapan salah satu staf hampir saja tumpah.
“Mbak, kalau kerja hati-hati dong, hampir saja kena baju saya nih!” tegur salah satu staf marketing.
“Eh ... maaf Mbak, tangan saya licin.” Faiza bergegas melap tumpahan kopi dengan ujung apronnya.
Aurelia mendengar suara yang sangat dia kenal ikutan tercengang, melihat sosok Faiza sedang menyajikan minuman.
“Mbak Faiza!” batin Aurelia kaget.
Kebenaran apalagi yang dia dapati hari ini, rupanya selama ini suami dan kekasihnya satu tempat kerja, sungguh ingin Aurelia menertawakan dirinya sendiri yang selama ini sudah dibodohi akan rasa cintanya.
“Sayang duduk dulu ya, temani aku rapat dulu, tinggal sebentar lagi, setelah itu kita makan siang bersama,” pinta Emran, langsung menarik salah satu kursi kosong yang ada di samping kursinya untuk pengasuh anaknya. Aurelia manut saja karena rasa ingin tahunya lebih banyak.
Dengan anggunnya dia duduk, lalu disusul dengan Emran dan memangku Athallah.
“Abang, diam aja ya jangan nganggu Daddy rapat,” pinta Aurelia begitu lembut, sambil mengusap pipi majikan kecilnya. Rapatnya pun Emran lanjutkan. Sungguh penampilan Aurelia bersama Emran, sudah seperti sepasang kekasih dihadapan karyawan. Sempurna!
bersambung ...
__ADS_1