Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Menjenguk Aurelia


__ADS_3

Posisi ranjang bagian kepala yang ditempati oleh Aurelia sudah sedikit agak tinggi  setengah duduk, wanita muda itu pun terlihat agak ceria wajahnya setelah kedatangan majikan kecilnya.


“Mbak, cakitnya jangan lama-lama ya. Atha janji ndak akan nakal lagi, mau jadi anak yang baik, Atha juga bakal rajin ke cekolah, acal Mbak cepet sembuh ... jangan lama-lama tidul di lumah cakitnya, mending bobo di lumah Atha,” ucap Athallah, tatapan bola mata kecilnya sangat mengemaskan.


Aurelia membelai rambut coklat majikan kecilnya itu. “InsyaAllah, Mbak cepat sembuh, Abang,” jawab Aurelia dengan lembutnya.


Sementara itu Emran menarik overbed table yang ada di sisi ranjang Aurelia, karena perawat sudah mengantarkan makan siang buat pasien. Adam yang kebetulan baru datang juga membawa makan siang buat mereka yang ada di kamar sesuai pesanan Emran, serta beberapa cemilan.


“Kamu makan dulu, biar kesehatan kamu cepat pulih,” pinta Emran sembari meletakkan nampan yang sudah berisi makanan.


“Terima kasih Tuan, makan siang buat Athallah adakah? Biar sekalian saya suapin?” tanya Aurelia tanpa menatap pria yang kini masih menatap dirinya.


“Kamu tidak usah pikirkan Atha, biar saya yang urus Atha,” jawab Emran, dia ingin mengangkat Athallah dari atas ranjang, namun bocah kecil itu malah mengelaknya.


“NO Dad, Atha mau makan cama Mbak,” pinta Athallah dengan melipat kedua tangannya ke depan dadanya. Emran pun melirik Aurelia.


“Gak pa-pa Tuan, biar saya sekalian suapin Atha,” sekali lagi Aurelia meminta makan siang milik majikan kecilnya. Apa boleh buat Emran mengambil box makanan untuk Athallah dan menaruhnya di overbed table.


“Terima kasih,” ucap Aurelia, lagi-lagi tidak menatap wajah Emran, lebih sering menatap wajah Athallah, rasanya agak sungkan menatap pria itu mengingat dirinya tadi sempat dipeluk Emran dan membiarkan dia menangis dipelukannya. Mau bagaimanapun baru kali ini Aurelia merasakan pelukan hangat seorang pria, tapi sayangnya pria itu bukanlah suaminya.


Melihat keseruan Athallah dan Aurelia makan siang bersama, tergelak hati Emran untuk ikutan makan bersama, diambillah box makanan miliknya lalu menaruhnya juga di overbed table, kemudian dia duduk di tepi ranjang.


Sejenak ujung ekor netra Aurelia sempat melirik tuannya yang ikut bergabung, lalu tak lama dia kembali menyibukkan menyuapi Athallah makan.


“Seperti keluarga bahagia nih, jarang-jarang Tuan Emran dekatin perempuan, kecuali mantan istri waktu masih bersama,” batin Adam yang melihat dari sofa tempat dia duduk. Kebetulan sekali Mama Syifa sedang menyapa temannya yang kebetulan sedang di rawat juga di rumah sakit yang sama, jadi tidak melihat pemandangan yang hangat tersebut.


“Nanti akan ada pengacara saya yang datang ke sini, dia akan membantu mengurus perceraian kamu dengan Dhafi, “ ucap Emran di sela-sela dia menyantap makannya.


Aurelia langsung menolehkan wajahnya ke arah depan Emran, dia tidak menyangka secepat itu majikannya mengurus perceraian dirinya.

__ADS_1


“Lebih cepat lebih baik kamu berpisah dengan suamimu, semua bukti kekerasan sudah ada. Sayangilah dirimu sendiri, usiamu juga masih muda. Saya tidak bermaksud menyuruhmu untuk cepat mengurusinya, tapi hanya ingin membantumu, dan tenanglah saya tidak akan menarik bayaran padamu,” lanjut kata Emran.


Aurelia  jadi semakin sungkan pada Emran, jika pria itu selalu memberikan begitu banyak kebaikan padanya sedangkan posisi dia hanyalah seorang pengasuh.


“Apakah Tuan Emran memang selalu baik dengan para pekerjanya,” batin Aurelia bertanya-tanya.


 “Sebelumnya terima kasih banyak Tuan Emran,” jawab Aurelia. Setidaknya hal ini juga mempermudah Aurelia dalam mengurus perceraiannya, secara dia juga tidak mengerti prosedur proses mengajukan perceraian jika disuruh urus sendiri.


“Mmm ....” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Emran karena dia kembali melanjutkan makan siangnya.


Bersamaan itu terdengar suara pintu kamar terketuk, Adam pun bangkit dari duduknya untuk membuka pintu.


“Assallammualaikum, apa benar ini kamar rawat atas nama Aurelia?” tanya Lilis saat pintu terbuka.


“Waalaikumsalam, benar,” jawab Adam sembari memindai ketiga wanita paruh baya tersebut.


“Kami tetangganya dan ini ibu mertuanya, ingin menjenguknya,” sambung Bu Tin.


“Maaf Tuan Emran, ada tetangga dan ibu mertua Aurelia ingin menjenguk,” ucap Adam yang terlebih dahulu menghampiri ranjang.


Aurelia mengangkat wajahnya bersamaan Emran menolehkan wajahnya. Bu Hana yang sudah melihat menantunya, langsung mendekati ranjang tersebut.


“Aurelia.”


“Ibu.”


Emran tampak tenang dan santai melihat kedatangan Bu Hana, disela-sela itu dia merapikan bekas makannya mereka bertiga.


“Kamu sudah selesai makannya, biar saya rapikan?” tanya Emran, dan hal itu memecahkan pandangan Aurelia ke ibu mertuanya.

__ADS_1


“Oh ... sudah Tuan,” jawab Aurelia tiba-tiba jadi canggung, dan dia pun mengambil tisu untuk mengusap dan membersihkan bibir Athallah yang masih belepotan karena habis makan. Lalu, tak lama jemari tangan Emran mengusap sudut bibir Aurelia karena ada sebutir nasi yang menempel.


Bu Hana agak terhenyak melihat mereka bertiga, setelah dapat cerita dari Lilis jika menantunya bekerja sebagai pengasuh anak, dan di matanya sendiri terkesan menantunya tidak seperti pengasuh, apalagi dia melihat sosok Emran. Ditambah lagi dia melihat ruang rawat yang ditempati oleh Aurelia pun tidak pantas sebenarnya untuk sekelas pekerja sebagai pengasuh, lebih cocok kamar rawat itu untuk seorang nyonya atau majikannya, terlalu mewah buat sosok Aurelia.


Bu Hana berusaha membuang pikiran negatifnya tersebut, dan kembali menyapa menantunya tersebut.


Emran sudah menarik dirinya bersamaan merapikan overbed tablenya, dan tak lama wanita paruh baya itu pun memeluk menantunya.


“Ibu minta maaf, Aurelia, Ibu benar-benar tidak tahu tentang hal ini,” ucap Bu Hana saat mengurai pelukannya.


Aurelia hanya tersenyum getir, lalu dia menatap Bu Tin dan Lilis, ketimbang menatap wajah Bu Hana yang terlihat sedih.


“Bu Tin, Bu Lilis,” sapa Aurelia sangat ramah, dia pun merentangkan kedua tangannya kepada dua tetangganya tersebut.


Bu Tin dan Lilis pun menyambutnya dengan hangat. Entah kenapa Bu Hana merasa diabaikan oleh menantunya, dan sikap Aurelia juga terkesan tidak menyambut hangat kedatangannya, sangat berbeda terhadap tetangganya.


Sebenarnya wajar jika ada rasa sakit dihati Aurelia dan bersikap dingin dengan orang-orang yang masih berhubungan erat dengan suaminya, itu salah satu reflek dari tubuhnya sendiri.


“Gimana sudah enakkan badannya?” tanya Bu Tin.


“Alhamdulillah Bu Tin, sudah lebih baikkan.”


Wanita muda itu pun kembali melayangkan padangannya pada ibu mertuanya, sementara itu Adam mempersilah Bu Tin dan Lilis untuk duduk di kursi yang dia sediakan.


Bu Hana masih berdiri di ujung ranjang dengan tatapan sendunya saat menatap menantunya itu. “Ibu baru tahu kejadian semalam karena tadi Ibu ke rumah, dan bertemu dengan Bu Tin dan Bu Lilis. Sejak kapan Dhafi sering memukulmu, Nak, dan kenapa Dhafi sampai memukulmu? Lalu kenapa saat kami datang kamu tidak bercerita pada kami selaku mertuamu atau pada orang tuamu?” tanya Bu Hana seakan mencecar berbagai pertanyaan.


Athallah yang masih di samping pengasuhnya tampak menyimak anteng, sembari menyandarkan  kepalanya di dada Aurelia. Tak ada senyuman di wajah Aurelia, hanya ekspresi datar yang dia perlihatkan pada ibu mertuanya.


Emran yang mendengar hal itu, bergerak mendekati ranjang Aurelia disisi yang berbeda dengan keberadaan Bu Hana.

__ADS_1


“Apa pantas seorang mertua memberondong berbagai pertanyaan pada korban yang secara mentalnya belum pulih, lalu harus menceritakan semuanya. Seharusnya Anda bertanya pada anak Anda semenjak kapan dia menyiksa istrinya dan hampir saja membunuh istrinya!” sambung Emran penuh ketegasan.


Jelas sekali raut wajah Bu Hana terlihat tidak suka dengan Emran yang ikutan dalam perbincangannya dengan menantunya. Emran terlihat santai dan sengaja menjatuhkan bobotnya duduk di tepi ranjang dekat Aurelia, dan terlihat dia sedang menunjukkan seakan dirinya sedang melindungi pengasuh anaknya.


__ADS_2