
Terguncang sudah semua orang yang berada di ruang rawat Dhafi atas fakta terbaru yang saja diucapkan oleh Faiza beserta ibunya. Bu Hana tak kuasa lagi menahan gejolak tercengang, kecewa dan sedihnya yang maha dahsyat.
Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya, ini pepatah yang pantas disematkan oleh Ayah Jafri dan Dhafi. Masa kelam Bu Hana terulang kembali, dan terjadi pada anaknya yang mengkhianati istrinya dengan menikahi sepupu istrinya sendiri. Tergelak rasanya ingin menertawakan diri sendiri, dia yang sedang berjuang agar rumah tangga anaknya dengan Aurelia utuh, ternyata sungguh sangat pahit jika dilanjutkan. Apa yang dirasakan oleh Aurelia, pernah dia rasakan dan sudah tentu rasa sakit itu sangat menusuk sampai terasa ke ulu hatinya.
Ayah Jafri mengusap wajahnya dengan kasar, salah satu tangannya berkacak pinggang saat menatap wajah putranya, bahunya pun terlihat terangkat seperti ingin menertawakan masa lalunya yang kini terulang, bukan pada dirinya namun pada anaknya.
Emran merengkuh Aurelia dari belakang, dan berusaha menguatkan wanita muda itu untuk tetap tegar, namun setegar-tegarnya seorang istri yang pernah mencintai dan berharap cintanya terbalaskan oleh suaminya tetap rasanya sakit melebihi siksaan yang dialami pada tubuhnya.
Buliran bening itu tampak jatuh dari ujung ekor mata Aurelia, akan tetapi dia berusaha untuk tidak menangis kembali saat menatap suami dan sepupunya, begitu jahatnya mereka berdua.
Faiza yang sudah kehilangan satu kakinya serta mukanya yang terlihat banyak luka, tetap dia mengangkat wajahnya dengan angkuhnya.
“Jadi bagaimana Aurel, aku bukanlah kekasihnya tapi istrinya Mas Dhafi, wanita yang sangat dia cintai!” ucap Faiza sombong.
Bu Hana geregetan mendengarnya, hingga dia pun mendekat dan melayangkan tamparannya begitu kencang pada salah satu pipi Faiza.
“Dasar pelakor! Wanita murahan! Wanita jalaang! Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mengakui kami sebagai menantuku, dan tak ada doa restu untuk pernikahan kalian berdua!” maki Bu Hana sudah membuncah emosinya hingga ke ubun-ubun.
Faiza terhenyak, dia nampak tergugu setelah menerima tamparan dari ibu mertuanya.
Bu Dilla pasang badan di depan anaknya. “Saya tidak butuh restu Anda untuk pernikahan anak saya, yang terpenting anak saya sudah sah menikah secara agama dengan Dhafi!” sentak Bu Dilla.
Bu Hana pun semakin memerah wajahnya, dan tak segan dia melayangkan tamparannya sekuat mungkin di wajah Bu Dilla, hingga wanita itu terhuyung ke belakang. “Sombong sekali baru nikah siri! Pantas saja anaknya jadi pelakor, rupanya didukung dengan ibu yang tipenya pelakor juga sepertinya!” Bu Dilla membentaknya dengan intonasi yang lebih tinggi lagi.
__ADS_1
Bu Dilla yang sempat memalingkan wajahnya, netranya menajam pada Bu Hana.
“STOP!” teriak Dhafi dari atas ranjangnya.
Semua orang menatap Dhafi. “Aku benar-benar tidak ingat sama sekali, tolong jangan ribut. Dan kamu ... entah siapa nama kamu! Mana mungkin aku telah menikahi kamu!” seru Dhafi sambil tangannya menunjuk ke arah Faiza.
“A-apa Mas bilang, aku ini istrimu yang paling kamu cintai. Aku punya bukti kita sudah menikah,” balas Faiza, dia pun menoleh ke arah ibunya. “Bu minta ponselnya.”
Bu Dilla bergegas menyodorkan ponsel miliknya, lalu Faiza segera mencari video pernikahannya dengan Dhafi, kemudian dia perlihatkan video tersebut.
Dhafi pun terdiam saat melihat video ijab kabulnya dengan Faiza.
Bu Ida tiba-tiba saja terkekeh kecil, lalu menarik dirinya dari pegangan suaminya karena sempat merasa lemas, kakinya pun melangkah mendekati adik kandungnya.
“Aku tak menyangka punya adik yang tak waras, kamu buat hidup rumah tangga anakku hancur!” maki Bu Ida masih menjambak rambut adiknya.
“Ini semua gara-gara anakmu, semua laki-laki yang mendekati Faiza selalu berpaling ke Aurelia, sok cantik sekali anakmu ... merebut pacar sepupunya!” balas Bu Dilla ikutan berteriak, dan menahan tangan kakaknya agar tidak menjambak rambutnya.
Semakin jadi Bu Ida menghajar adiknya. “Fitnah sekali kamu Dilla, anakku tidak pernah dekat dengan pria mana pun, dan Dhafi lah satu-satunya pria yang dekat dengan Aurelia. Dasar adik durjana!” maki Bu Ida membabi buta.
Aurelia memang terkenal sebagai kembang desa di desa tempat tinggalnya. Kembang desa yang selalu diam di rumah, tapi jika sudah keluar dari rumah maka banyak pria yang akan mendekatinya termasuk para pacar Faiza yang silih berganti, maka dari itu kedua orang tua Aurelia jarang mengizinkan anaknya untuk keluar rumah kecuali pergi ke sekolah. Bu Ida membela anaknya, karena tahu bagaimana Aurelia yang tidak pernah dekat dengan pria mana pun hingga terjadilah perjodohan dengan Dhafi.
Atas dasar iri hati, bikin orang mengabaikan ikatan saudara. Kini, terlihat Bu Dilla sudah babak belur dihajar oleh Bu Ida, dan kerusuhan itu sudah terkendalikan, sepertinya akan ada tali persaudaraan yang putus di saat itu juga.
__ADS_1
“Sudah Nak, memang kamu harus berpisah dengan Dhafi, Ibu menyetujui ... memang brengsek suamimu itu! Lebih baik kamu jadi janda muda,” ucap Bu Ida saat mendekati putrinya.
Aurelia memeluk ibunya, Bu Ida pun mulai terisak lalu menangis dalam pelukan anaknya itu, sungguh hari ini jadi pukulan berat buat dirinya, dan tak tanggung-tanggung keluarga adiknyalah yang menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri, sungguh tak menyangka.
Bu Dilla yang meringis kesakitan memalingkan wajahnya saat ditatap oleh Bu Hana.
“Baiklah Pak Jafri, saya selalu orang tua Aurelia akan membawa anak saya kembali, dan pemintaan Aurelia untuk bercerai dari Dhafi akan kami dukung. Dan Pak Dwi untuk toko sembako akan segera saya kembalikan,” ucap Bapak Heri saat melayangkan pandangannya ke pria tua itu.
Kakek Dwi bangkit dari duduknya dan menepuk bahu pria tersebut. “Tidak perlu kamu kembalikan, tetap jalankan usaha itu, toko sembako itu sudah jadi hak milik kamu, walau Aurelia sudah tidak akan menjadi cucu menantuku lagi,” jawab Kakek Dwi dengan tulusnya, dan tersirat sangat menyesal atas sikap cucunya tersebut.
“Terima kasih banyak Pak Dwi, kalau begitu sepertinya kami sudah tidak bisa berlama-lama untuk berada di sini, kami pamit kembali ke kampung,” lanjut kata Bapak Heri.
Pertemuan yang tidak diduga, maksud hati menjenguk menantu yang terkena musibah, justru membongkar aib rumah tangganya yang selama ini ditutupi.
Bu Hana dan Ayah Jafri tidak bisa lagi menyanggah atau menentang keputusan Aurelia, semua bukti sudah terpapar dengan jelas, ditambah dengan terkuaknya pernikahan kedua Dhafi. Keakraban sebagai teman sekolah antara Ayah Jafri dan Bapak Heri mendadak jadi canggung layaknya orang asing.
“Ayah, tolong beri aku waktu, aku tidak mau bercerai dengan Aurelia, justru kalau boleh memilih aku akan menceraikan Faiza sekarang juga, kalau perlu aku akan menjatuhkan talak tiga saat ini juga,” ucap Dhafi agak memohon, saat melihat keluarga Aurelia berpamitan untuk pulang. Dhafi tidak ada daya untuk mencegah Aurelia pergi, karena luka yang mendera ditubuhnya yang tak bisa dia untuk bangkit dari atas ranjang. Sesak sekali hati yang mendera Dhafi.
“Mas Dhafi!” Suara Faiza meninggi, netranya pun membulat saat mendengar ucapan suami sirinya.
__ADS_1