
Mau di mana pun berada, jika ada sebuah kejadian pasti akan mengundang banyak orang untuk melihat apa yang terjadi. Bu Tin dan Lilis yang baru saja dapat kabar dari grup komplek di wa kalau ada kejadian di rumah Aurelia bergegas berlarian menuju rumah tersebut.
“Neng Aurel,” panggil Bu Tin dengan wajah cemasnya saat melihat Aurelia dibopong oleh pria yang tidak dia kenal.
Emran melihat banyak orang sudah berkumpul di luar rumah Aurelia.
“Bu Tin,” ucap Aurelia lirih, sudah mulai lemas badannya, ketika wanita paruh baya itu mendekatinya.
“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, saya harus membawa Aurelia ke rumah sakit, jika tadi sempat mendengar teriakan minta tolong, pada saat itu Aurelia sedang mengalami KDRT yang dilakukan oleh suaminya sendiri, mungkin tidak sekali ini saja, sepertinya sangat sering disiksa oleh suaminya,” ucap Emran dengan lugas dan tegasnya.
“APA!” jawab serempak yang datang, terkaget dengan berita tersebut. Bu Tin dan Lilis saja sampai terkejut mendengarnya.
“Ya Allah ... Neng Aurel, kenapa diam saja selama ini.” Sungguh sangat disesalkan oleh Bu Tin, yang tempo hari sempat menjadi tempat curhat, kenapa Aurelia tidak bercerita juga. Wanita paruh baya itu mengusap lengan Aurelia dengan rasa yang amat pilu menyelimutinya. “Ibu tidak bisa berkata apa-apa pun, Neng Aurel, semoga kamu cepat sembuh dari semua luka itu,” ucap Bu Tin prihatin.
“Makasih Bu Tin,” jawab pelan Aurelia.
“Kalau begitu kami permisi,” ucap Emran yang masih mengendong Aurelia, dan semua yang ada di sana menepi untuk memberi ruang mereka berdua lewat. Dengan rasa penuh kehati-hatian, Aurelia dibawa ke dalam mobil dan bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sepeninggalnya Aurelia dan Emran dari rumah, para warga sudah jelas menyerbu rumah Aurelia dan mencaci maki Dhafi habis-habisan, ingatlah sanksi sosial itu pasti ada di mana pun berada.
“KELUAR SEMUANYA DARI SINI, JANGAN IKUT CAMPUR MASALAH INI!” teriak Faiza mengusir para tetangga yang masuk ke dalam rumahnya dengan berkacak pinggang dan angkuhnya.
Bu Tin dan Lilis yang ada di antara para tetangga ikutan menyingsihkan lengan daster mereka sembari mengambil ancang-ancang.
“Aalah banyak bacot situ, dasar wanita pelaakor, situ'kan selingkuhannya suaminya Neng Aurel!” geram Bu Tin, tubuh gemuk tandanya tenaga kuat. Tangan gemuknya menarik rambut Faiza dan menjambaknya, hal itu diikuti oleh ibu-ibu yang lain.
“Tolong ... Tolong!” teriak Faiza kesakitan, dan dia tak bisa kabur dari kerumunan emak-emak berdaster.
“Biar dirasa, biar kapok kalau jadi pelaakor itu tidak selamanya menang! Gara-gara situ kali ya Neng Aurelia selalu disiksa sama suaminya, tidak akan ada asap kalau tidak api!” geram Bu Tin, tangannya masih menjambak rambut Faiza hingga beberapa helai tercabut rambutnya.
Terkadang segala perbuatan orang tidak perlu langsung dibalas, nyatanya orang lain yang membalas perbuat orang tersebut. Hukum alam itu pasti ada. Dhafi yang sudah terkulai tak berdaya di sudut ruang tengah, membiarkan istri sirinya kena amukan massa dan tidak melindunginya, harus bagaimana lagi hari ini dirinya sudah dapat banyak terima kejutan, semua berawal dari emosi yang tak terkendalikan, dan segala fitnahan yang dibuat oleh Faiza untuk Aurelia. Hancur sudah hidupnya!
__ADS_1
Setelah puas membuat kerusuhan di rumah Aurelia, kini satu persatu para tetangga sudah keluar dari rumah, dan terlihat isi rumah tampak kacau. Faiza menangis sesegukan dengan penampilannya yang sudah terlihat kacau balau, sementara itu Dahfi mengambil beberapa barangnya serta kunci mobilnya.
“Mas Dhafi, mau ke mana?” tanya Faiza langsung mencegah kepergian suami sirinya.
“Aku tidak mau dipenjara!”
“Terus, Mas mau ke mana?”
“Pergi dari sini!” seru Dhafi menahan rasa sakit di wajahnya.
“Aku ikut Mas, aku jangan tinggalkan aku di sini Mas,” pinta Faiza agak memohon, sembari merapikan rambutnya yang masih terasa sakit.
“Aku tunggu di mobil, dan kunci rumah!” perintah Dhafi, lalu dia pun bergegas menuju mobilnya dengan membawa tas jinjingnya.
Pria itu tidak rela jika harus mendekam dibalik jeruji besi, lebih baik dia pergi sejauh mungkin dan bersembunyi, lagi pula dia masih memiliki uang hasil korupsinya dari perusahaan Emran untuk penyambung hidupnya.
“Cepetan, Faiza!” teriak Dhafi dari dalam mobilnya.
“Iya Mas, sabar,” sahut Faiza yang terlihat terburu-buru mengunci pintu, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.
Mobil Dhafi mulai melaju dan meninggalkan rumahnya dengan kecepatan tinggi.
“Aku ingin bertanya padamu Faiza. Aku harap kamu menjawabnya dengan jujur?” tanya Dhafi dibalik kemudinya.
“Tanya apa Mas?”
“Aku ingin tahu kebenaran dari foto Aurel yang tempo hari kamu kasih tahu itu. Itu benar atau hanya rekayasa kamu semata?” tanya Dhafi dengan meninggikan suaranya.
Faiza bungkam, namun netranya bergerak melirik Dhafi.
“Katakan padaku Faiza, itu benar atau hanya rekayasa kamu semata!” kembali bertanya Dhafi dan sedikit menolehkan wajahnya ke samping.
“B-benar, i-itu foto benar semua kok Mas, tidak rekayasa,” jawab Faiza agak terbata-bata.
__ADS_1
Pria dengan wajah babak belur tersebut menyeringai tipis, lalu menekan pedal gas mobilnya begitu dalam.
“Katakan padaku sejujurnya Faiza, atau aku akan membawa kita ke jalan yang lain!” geram Dhafi memacu kecepatan mobilnya lebih cepat.
Wajah Faiza terlihat pucat, tangannya mengantung ke atas pas di handle yang ada di samping pintu mobil. “Mas, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, kita bakal celaka Mas Dhafi!” teriak Faiza mulai ketakutan.
“Jawab yang jujur Faiza, itu foto benaran atau foto yang kamu rekayasa, atau aku akan tambah kecepatan mobil ini!” ancam Dhafi, sesaat matanya menajam ke arah Faiza.
“Stop Mas, hentikan mobilnya aku takut. Iya itu foto rekayasa, Aurelia tidak pernah tidur dengan laki mana pun!” teriak Faiza jujur, sambil menepuk bahu Dhafi agar laju mobilnya dihentikan.
“BRENGSEK KAMU, FAIZA!” teriak umpat Dhafi.
Dari kejauhan terlihat sinar lampu mobil lawan arah yang menyorot mobil Dhafi berulang kali, mata Dhafi pun terasa silau dan tak bisa melihat ke arah depan.
“TIDAK!” teriak Faiza saat cahaya di depan semakin mendekati mobil Dhafi, dan terdengarlah suara benturan keras yang tak bisa dihindarkan lagi.
Kedua tangan Dhafi terlepas dari stir kemudinya, tubuhnya pun terombang ambing, matanya menatap nanar ke arah ke depan, bayangan istri yang selama dia siksa hadir dengan senyumannya yang indah.
“Ternyata aku bersalah selama ini, Aurelia,” gumam pria itu menyesal. Ujung ekor netra Dhafi terlihat meneteskan air matanya, dan tak lama matanya terpejamkan.
Sementara itu di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah sakit. Aurelia sedang menjalankan visum yang dilakukan oleh salah satu dokter yang biasa melakukan visum serta autopsi.
Setelah selesai visum, Aurelia terpaksa dirawat di rumah sakit karena tubuhnya mengalami kelelahan yang luar biasa, serta luka memar yang baru saja dia dapati lumayan menyakitkan tubuhnya.
Emran sengaja memilih ruang rawat VIP, agar Aurelia bisa dirawat dengan nyaman. Pria tampan itu terlihat setia menatap pengasuh anaknya yang kini sudah tertidur pulas setelah diberikan obat penenang. Secara fisik mungkin Aurelia terlihat kuat, tapi secara mental wanita itu sangat rapuh dan ada gangguan pada psikisnya, maka dari itu Dokter memberikan obat penenang, dan esok hari akan ada konseling dari psikiater.
bersambung ...
__ADS_1