Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Kondisi terbaru


__ADS_3

Keesokan hari ...


Ruma Sakit H


Ada perasaan nyaman saat tubuhnya mulai menggeliat, kelopak matanya terasa ringan saat mulai mengerjap-ngerjap. Mungkin semalam salah satu waktu yang sangat nyaman saat dia terlelap tidur, kenyamanan yang sudah lama tidak dia rasakan semenjak menikah dengan Dhafi.


Bibirnya pun melenguh, salah satu tangannya dibentangkannya, lalu ketika kelopak matanya terbuka, Aurelia terhenyak.


“T-Tuan ...,” sapa Aurelia suaranya terdengar serak.


“Pagi, sepertinya tidurmu sangat nyenyak,” jawab sapa Emran sembari meletakkan cangkir kopi yang baru saja dia teguk ke atas nakas yang ada di sisi ranjang Aurelia.


“Alhamdulillah tidurnya nyenyak, Tuan,” balas Aurelia agak canggung. Dia pun membetulkan posisinya dari berbaring menjadi sedikit duduk. Emran pun bergegas menaikkan posisi ranjang Aurelia agak sedikit duduk, biar wanita itu tidak susah payah.


“Terima kasih, Tuan.”


“Nanti akan ada perawat yang akan membantu membersihkan dirimu,” ucap Emran, dia mengambil segelas ari hangat dan diberikannya pada Aurelia. “Minumlah dulu.”


“Makasih Tuan.” Aurelia menerima gelas tersebut, dan meneguknya pelan-pelan, sorot matanya pun teralihkan pada gelas yang dipegang, rasanya sangat sungkan untuk menatap pria yang ada disisi ranjangnya itu.


Pria tampan itu masih menatap Aurelia dengan berbagai pikiran yang menyelinapinya sejak semalam.


“Kejadian semalam, kamu akan melanjutkan ke pihak polisi?” akhirnya Emran menanyakan juga.


Aurelia mendongakkan wajahnya agar bisa menatap lawan bicaranya walau tidak terlalu lama menatapnya. “Saya hanya ingin bercerai dengan suami saya, Tuan. Hasil visum dan rekaman video sebagai alat bukti untuk memudahkan saya mengajukan perceraian,” jawab Aurelia yang saat ini terlintas di kepalanya.


Emran mendesah, lalu menaruh kedua tangannya di sisi tepi ranjang Aurelia, dan semakin lekat tatapan pada wanita muda itu.


“Saya hanya menyarankan sama kamu sebaiknya laporkan Dhafi ke pihak berwajib, kekerasan dalam rumah tangga itu jangan dibiarkan begitu saja. Untung saja nyawa kamu masih bisa diselamatkan, bagaimana kalau semalam sampai nyawamu melayang, dan dia hidup bebas begitu saja. Orang tuamu pasti akan sangat kecewa,” ucap Emran memberikan saran.


Aurelia tertegun sejenak, lalu dia menundukkan pandangannya, mendengar kata orangtuanya yang  kecewa, sudah pasti akan kecewa tapi bukan karena anaknya tertimpa KDRT, tapi kecewa anaknya akan bercerai dengan Dhafi, masih terngiang-ngiang ucapan Bu Ida yang melarang dirinya untuk bercerai dengan suaminya.

__ADS_1


Emran terlihat sabar menunggu respon dari Aurelia, dia juga tak ingin mendesaknya, akan tetapi menyadarkan wanita itu untuk mengambil keputusan yang benar, karena hanya dia yang bisa membuat laporan KDRT sebagai korban bukan Emran.


Pria itu mengambil gelas kosong yang masih dipegang oleh Aurelia, dan dikembalikan taruh di atas nakas.


“Sekarang saya tanya sama kamu, sejak kapan kamu dipukul oleh Dhafi?” tanya Emran kembali dengan netranya yang sangat menyelidik ketika menatap Aurelia.


Aurelia mengangkat perlahan-lahan wajahnya, bibirnya terasa keluh untuk menceritakan pada majikannya. Mungkin bagi dirinya amat memalukan jika menceritakan siksaan tersebut dengan lawan jenisnya, berbeda hal ketika bercerita dengan Mama Syifa yang sama-sama sebagai wanita.


Walau bagaimanapun dibenak Aurelia terlintas jika Emran pasti memiliki pikiran buruk tentangnya hingga dirinya disabet atau dipukul oleh suaminya. Emran melihat raut wajah Aurelia dan baru menyadari jika dirinya sudah terlalu dalam bertanya, dan juga dirinya pun tidak memiliki hak untuk mengintrogasi, walau niat dia baik untuk menolong Aurelia.


“Maaf kalau saya jadi banyak bertanya padamu, sepertinya perawat sudah datang,” ucap Emran, dia menarik diri dari tepi ranjang, dan bergerak menuju pintu setelah mendengar suara ketukan. Dan dugaannya memang benar jika yang masuk adalah sang perawat yang ingin membantu Aurelia bersih-bersih serta salah satu bagian gizi mengantarkan sarapan pagi.


...----------------...


Rumah sakit P


Kedua orang tua Dhafi terlihat berlarian semenjak tiba di rumah sakit, wajah Bu Hana terlihat sangat pucat setelah mendapat kabar dari pihak kepolisian jika nomor kendaraan mobil milik Dhafi mengalami kecelakaan. Dengan berbekal informasi dari pihak kepolisian, dan katanya anaknya sudah dibawa ke rumah sakit, orang tua Dhafi langsung menuju ke sana.


“Sebentar Bu, saya cek terlebih dahulu,” jawab Suster yang bertugas.


“Atas nama Dhafi dan Faiza ya Bu?” tanya Suster tersebut.


“I-iya anak saya Dhafi namanya,” jawab cepat Bu Hana, rasanya ingin buru-buru melihat keadaan putranya.


“Atas nama pasien Dhafi masih ada di ruang ICU di lantai 4, sedangkan atas nama pasien Faiza ada di ruang perawatan di lantai 3,” balas sang perawat.


“Terima kasih Suster.” Bu Hana langsung menarik lengan suaminya dan mengajak suaminya untuk ke lantai 5 dengan hati yang sangat hancur setelah mendengar anaknya ada di ruang ICU. Lalu dibenaknya juga bertanya-tanya kenapa Faiza turut kena kecelakaan mobil tersebut.


Setibanya di lantai 5, dan masuk ke lorong ruang ICU, kedua orang tua Dhafi digiring ke ruang Dokter terlebih dahulu sebelum melihat keadaan Dhafi, akan tetapi setelah mendengar tentang keadaan Dhafi yang terluka parah di bagian kepalanya dan sekarang kondisinya kritis, Bu Hana langsung tak sadarkan diri.


Sementara itu di ruang perawatan yang di tempati oleh Faiza, wanita itu sedang berteriak histeris setelah dia tersadar.

__ADS_1


“KEMANA KAKIKU YANG SATU LAGI!” teriak Faiza bak orang kesetanan. Perawat yang bertugas berjibaku menenangi Faiza yang meronta-ronta di atas ranjangnya.


Tubuh Faiza yang terjepit antara dasbor dan tempat duduknya, membuat salah satu kaki wanita itu remuk tak bertulang, dan demi kelangsungan hidup Faiza tanpa menunggu persetujuan wali atau keluarga karena sudah mengeluarkan darah begitu banyak, team dokter langsung mengambil keputusan untuk mengamputasi salah satu kaki Faiza.


...----------------...


Kembali ke rumah sakit H.


Aurelia sudah selesai menikmati sarapan paginya, dan sesuai saran dari Dokter yang semalam memvisum wanita muda itu.


Kini, di sisi ranjang Aurelia ada Dokter Riri yang memberikan konseling ada Aurleia, sementara itu Emran diminta untuk menunggu di luar kamar.


Setengah jam berlalu dengan damai, Emran sengaja tidak beranjak dari duduk di bangku yang tersedia di depan ruang VIP. Namun, setengah jam kemudian, suara tangisan histeris terdengar jelas dan membuat pria itu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam ruangan.


Meluapkan emosi, alam sadar Aurelia yang di bawah kontrol Dokter Riri membuncah ke permukaan. Tangisan histeris dan jiwanya yang selama ini ketakutan terlihat jelas dan amat memilukan bagi siapapun yang melihatnya. Salah satu perawat mencoba menahan tubuh Aurelia yang memberontak sambil menjerit ketakutan.


Langkah kaki Emran semakin cepat mendekati Aurelia, hatinya tak tahan melihat kesakitan wanita muda itu. Tubuh Aurelia pun direngkuhnya, dipeluknya dengan erat dan membiarkan wanita muda itu menangis sejadi-jadinya didekapannya.


“Saya ada di sini, sayang,” ucap Emran begitu lirihnya, dengan belaian lembut di punggung Aurelia.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2