Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Memijat kaki


__ADS_3

 


Eka salah satu maid di mansion, mendekati ranjang yang ditempati oleh Aurelia dengan membawa handuk serta pakaian ganti. Aurelia terlihat tak bisa menggerakkan kedua kakinya yang masih terasa sakit akibat kram di kolam berenang.


“Sepertinya nasibmu sebagai anak baru di sini mujur sekali!” ucap Eka sedikit ketus.


Aurelia melirik wanita yang hampir sama usianya dengan Rida. “Maksud Mbak Eka?”


“Ya saya bilang mujur sekali, menempati kamar mewah, tidak seperti kami yang tidur di kamar belakang, belum lagi sepertinya tuan besar terlihat perhatian denganmu,” jawab Eka apa adanya.


Aurelia nampak tersenyum getir, segala prediksinya ternyata benar, sikap Emran padanya pasti akan menimbulkan cemburu sosial pada semua maid di mansion. Aurelia bergegas membuka baju basahnya di atas ranjang dan meminta Eka untuk membalikkan badannya.


“Berhati-hatilah Aurel, akan banyak maid yang iri denganmu di sini, apalagi hampir semua maid jatuh hati dengan tuan besar, dan banyak juga yang mengkhayal ingin jadi nyonya besar di sini,” lanjut kata Eka yang masih memunggungi Aurelia.


“Dan itu termasuk Mbak Eka juga kah? Yang terobsesi ingin menjadi nyonya di sini?” balik bertanya Aurelia.


Wanita yang mengenakan seragam maid itu agak terkekeh kecil. “Kalau mengkhayal mungkin sempat, tapi saya sadar diri kok, lagian saya sudah punya calon suami kok, dan lumayan ganteng. Saya rasa cukup sih,” jawab Eka dengan santainya.


“Ya siapa tahu aja mau ikutan, juga gak pa-pa. Semua orang berhak bermimpi dan tidak ada larangan, tapi buat saya saat ini jauh rasanya mengkhayal seperti itu,” jawab Aurelia sembari mengenakan daster rumahan yang diberikan oleh Eka.


Eka pun memutar badannya, mulutnya pun menganga melihat luka sabetan di punggung Aurelia. “Aurel itu punggung kamu?” Agak terkejut Eka melihat begitu banyak goresan luka kering. Memang tidak banyak yang tahu jika Aurelia adalah salah satu korban KDRT, hanya Mama Syifa dan Pak Yusuf yang tahu.


Aurelia pun menoleh ke bahunya, lalu tersenyum tipis. “Inilah salah satu bukti kalau saya tidak ingin mengkhayal tinggi, dan termasuk tidak berminat untuk mendekati Tuan Emran. Jika kalian di sini menyukai Tuan Emran, ya coba saja dekati, jodoh tidak akan pernah ada yang tahu."


Raut wajah Eka agak miris melihat keadaan tubuh Aurelia yang selama ini tidak dia ketahui. “Suamimu kah yang melakukannya?” tanya Eka agak memelankan intonasi suaranya.


Aurelia mengangguk pelan, semakin merindinglah tubuh Eka. “Maaf Aurelia, mungkin saya pribadi hanya melihat secara kasat mata saja, tapi tidak bermaksud membencimu seperti yang lainnya,” ucap Eka.


“Gak pa-pa Mbak Eka, tapi perlu Mbak Eka ketahui saya tidak ada niatan untuk mencari perhatian Tuan Emran, saya sama seperti yang lainnya ingin kerja dengan tenang, itu saja,” tutur Aurelia, menjelaskan.

__ADS_1


Kini Eka menganggukkan kepalanya sembari mengutip pakaian basah Aurelia untuk dimasukkan ke dalam keranjang.


Emran masih terdiam di ambang pintu yang sejak tadi dia buka walau baru terbuka sedikit, dan sempat mendengar ucapan Aurelia padahal di belakangnya ada Dokter yang sudah tiba, lalu entah kenapa dia tersenyum getir. Dan beberapa detik kemudian barulah dia membuka lebar daun pintu tersebut, lalu mengajak Dokter tersebut untuk masuk.


Wajah datar Emran mulai menguar saat masuk kamar, Eka pun bergegas menjauh dari ranjang Aurelia.


“Silakan diperiksa Dokter,” pinta Erman sembari mengulurkan tangannya ke arah Aurelia. Pria paruh baya itu pun bergegas memeriksa kondisi Aurelia.


Emran melirik Eka yang masih berada di kamar tersebut. “Kamu bisa kembali,” perintah Emran dengan datarnya.


“Baik Tuan,” jawab patuh Eka dengan sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.


Emran sengaja tetap berdiri dekat sisi ranjang Aurelia, sembari memperhatikan pekerjaan Dokter dalam beberapa menit.


“Kondisi mbaknya baik Pak Emran, nanti jika badannya panas bisa dikasihkan obat penurun panasnya, dan untuk kakinya yang sakit akan saya berikan salep untuk di oleskan,” ucap Dokter sembari memasukkan kembali alat kesehatannya ke dalam tas kerjanya.


“Eh ....”


Pria itu tampak diam, namun tangannya langsung menyentuh salah satu kaki putih mulus milik Aurelia.


“Bagian mana yang terasa sakit?” tanya Emran saat dia menatap wajah wanita itu.


“Eh ... Tuan biar saya saja yang pakaikan,” tolak Aurelia sembari mencoba meraih salep yang ada ditangan pria itu.


“Katakan di mana yang sakit biar saya sekalian pijat,” perintah Emran, tak ingin dibantah.


“Tapi Tuan.” Aurelia terlihat canggung sekaligus gugup dengan keadaan ini, apalagi majikannya terkesan memaksa.


Sorot mata Emran agak menajam seakan tidak boleh ada penolakan, mau tidak mau Aurelia dengan terpaksa menunjukkan kedua kakinya mulai dari betis sampai tumit yang terasa sakit. Dan benar saja Emran mengolesi salep tersebut dan mulai memijatnya dengan lembut. Sumpah demi apa pun jantung Aurelia berdegup cepat saat tangan pria itu menyentuh salah satu kakinya, walau maksudnya baik ingin membantunya, tapi tetap saja Emran adalah majikannya. Hati Aurelia semakin tidak enak dengan yang lainnya.

__ADS_1


“Sepertinya tadi di antara kita ada kesalahpahaman,” ucap Emran, sembari tangannya tetap memijit kaki Aurelia dengan penuh penghayatan. Ya, bagaimana sang duda tidak menghayatinya, kakinya Aurelia begitu putih dan mulus bikin kepala dia pusing saat mulai memijatnya. Sebagai laki-laki normal pasti sudah mulai bergairah hasratnya, namun Emran berusaha menahan gejolaknya tersebut.


“Akh ....” Aurelia mendesah saat pijatan pria itu pas mengenai rasa sakitnya.


“Sakit ya, kalau pijatan saya terlalu kencang bilang saja,” pinta Emran.


“Hem, iya agak terlalu kencang,” jawab Aurelia sembari menggigit bibir bawahnya. Emran pun mengurangi tekanan pijatannya dan kembali berbicara, sembari membuang padangannya dari Aurelia yang justru bikin dia berhasrat saat wanita muda itu meringis kesakitan.


“Aurel, tadi saya minta kamu mulai besok tidak memakai seragam nanny kamu itu, bukan berarti saya memecat kamu! Kamu tetap bekerja di sini jadi pengasuh Athalla, tapi tidak perlu kamu pakai seragam lagi, pakailah baju yang sudah saya siapkan,” tutur Emran menjelaskan.


Aurelia yang masih fokus melihat kakinya, memberanikan diri menatap pria yang duduk di hadapannya itu.


“Jadi saya tidak dipecat, Tuan?”


“Iya saya tidak memecat kamu, jadi tenang saja jangan banyak pikiran.”


“Alhamdulillah kalau begitu, saya pikir Tuan akan memecat saya, maaf Tuan kalau saya jadi salah paham, sampai tuan muda ikutan ngambek sama Tuan,” sesal Aurelia atas sikapnya waktu di meja makan.


“Nggak pa-pa, urusan Athallah biar saya yang urus.”


Aurelia menganggukkan kepalanya, namun tak lama ...


“Aaauuww sakit,” jerit Aurelia merintih kesakitan sampai dia menarik lengan Emran sangking terasa sakit pijatan. Dan tubuh mereka bertubrukan.


Wajah Emran dan wajah Aurelia begitu dekat, hingga napas hangat Emran begitu menggelitik di pipi Aurelia, salah satu tangan Emran pun refleks merangkul pinggang Aurelia, sedangkan salah satu tangan Aurelia menyentuh bahu pria itu.


Jantung mereka berdua pun bertalu-talu saat itu juga.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2