Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Hinaan Soraya


__ADS_3

Lirikan mata Soraya begitu tajam dan sinis melihat wanita muda yang saat ini sedang memangku anaknya, tatapan seakan pernah melihat tapi entah dimana.


“Sayang, siapa wanita ini?” tunjuk Soraya dengan menggerakkan dagu lancipnya.


“Masa kamu tidak mengenalinya? dan sepertinya aku tidak mengundang kamu makan siang di sini,” balas Emran dengan memutar malas bola matanya.


“Betul kata Daddy, Mommy tidak diundang ke cini, kenapa tiba-tiba datang. Atha ndak suka!” celetuk Athallah dengan melipat kedua tangannya ke dada lalu bola matanya dibuat melebar.


Wanita cantik itu pura-pura memelaskan wajahnya. “Anak Mommy kok bilangnya seperti itu, Mommy diundang kok sama Daddy, hanya saja Daddynya saja lupa,” jawab Soraya dengan lembutnya memberikan pengertian, lalu sorot matanya kembali menatap Aurelia.


“Oh iya kamu itu siapa? Apa kamu sedang mencoba mendekati suamiku, dan juga ingin mengambil perhatian anakku?” tanya Soraya dengan sinisnya, nada suaranya juga terdengar meninggi.


Emran meletakkan serbet yang ingin dia gunakan lalu melirik mantan istrinya yang masih menyebut dia sebagai suaminya.


“Soraya, sepertinya kamu sudah lupa bahwa kita sudah bercerai sudah lama. Dan bukan urusan kamu jika ada wanita yang dekat denganku atau anak kita! Ingat itu, dan sekarang keluarlah dari ruangan ini, kamu sudah merusak suasana makan siang kami di sini!” ucap Emran tegas, dan agak meninggikan suaranya.


Soraya tampak tenang, lalu dia meletakkan kedua tangannya diatas meja dan masih menatap serta mencermati wanita muda itu, ucapan Emran dia acuhkan.


“Kamu, jangan dengar kata suamiku! Kami akan segera rujuk, jadi sebaiknya kamu yang angkat kaki dari sini sekarang juga. Memangnya kamu tidak tahu siapa aku, hem! Aku adalah artis terkenal, dan mohon maaf mungkin suamiku pernah kasih harapan padamu, tapi itu semua adalahlah harapan palsu saja, kamu mungkin hanya sekedar tempat pelampiasannya. Oh iya berapa yang kamu butuhkan untuk membayar semua perbuatan yang pernah dibuat oleh suamiku, mungkin kamu pernah dicium, dipeluk atau kamu sudah berhubungan intim dengan suamiku ...Hem!” Soraya mengeluarkan dompetnya dari tasnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah, dan meletakan uang tersebut dihadapan Aurelia.


“SORAYA!” teriak Emran, wajahnya maulah mentah padam, tanda emosinya mulai mencuat ke permukaannya.


Aurelia langsung memeluk Athallah dan menutup telinga bocah tersebut.


“KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA, SAMPAI KAPANPUN AKU TAK AKAN MAU RUJUK DENGANMU!” teriak Emran dengan emosi yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Soraya memutar badannya lalu menatap tajam mantan suaminya. “Tapi Kak Emran, kamu masih mencintaiku dan aku juga masih mencintaimu, ingat ada Athallah diantara kita, dan dia pasti butuh orang tua yang lengkap. Dan jangan bilang Kak Emran tidak mau rujuk karena wanita muda ini'kan, dia yang sudah berani menggoda Kak Emran, kan! Seberapa lihai goyangannya di ranjang, aku akan bisa lebih hot di atas ranjang!” tukas Soraya yang terbawa emosi juga.


Aurelia sudah tak tahan mendengar segala tuduhhan yang dilontarkan oleh mantan istri Emran. Dia berusaha menatap kedua orang tersebut secara bergantian.


“Saya tidak pernah menggoda mantan suami Nyonya sampai kapanpun! Saya hanya seorang pengasuh Athallah, dan tidak pernah berniat untuk mendekati Tuan Emran, dan tak akan pernah terjadi Nyonya. Jadi tolong tarik kembali tuduhan Nyonya tersebut, saya benar-benar tidak terima!” ucap Aurelia dengan tegasnya.


Soraya terhenyak, dan kembali menatap wajah Aurelia yang jauh berbeda saat pertama kali bertemu dengan wanita muda itu. “Ja-jadi kamu pengasuh kampungan itu, tapi lihat kenapa kamu dandan sepeti ini, maksudnya apa! Mana seragam nannymu! Ini sama saja kamu sedang menggoda suamiku dong! Pintar sekali kamu, mau naik derajat ... dari miskin jadi kaya mendadak ... huh!” sentak Soraya.


“Saya tidak pernah menginginkan naik derajat Nyonya dengan cara sepicik itu!” jawab Aurelia dengan lantangnya.


Emran sudah tak tahan lagi dengan segala ucapan Soraya yang dilontarkan pada Aurelia. Pria itu bangkit dari duduknya, dan mencengkeram tangan Soraya kemudian menarik tangan wanita tersebut hingga Soraya bangkit dari duduknya secara paksa.


“Kak Emran, Sayang!” seru Soraya tak terima, tubuhnya pun terhuyung-huyung.


“Kamu memang sudah sangat keterlaluan Soraya, aku sudah tidak bisa mentolerir kamu lagi! KELUAR DARI SINI, DAN JANGAN PERNAH MENAMPAKAN WAJAHMU LAGI DIHADAPANKU!” teriak Emran sembari menggerek Soraya hingga ke ambang pintu.


“Mbak, napa?” tanya Athallah.


Aurelia hanya bisa menggeleng pelan, dia masih mencoba menstabilkan tubuhnya. Emran yang sudah berhasil membuat Soraya keluar dari ruang privat dan minta pada waiters untuk melarang wanita itu untuk masuk ke dalam lagi, kembali masuk, dan dia melihat tubuh Aurelia gemetaran.


Emran langsung mengambil Athallah dari pangkuan Aurelia. “Son ... duduk sendiri dulu, ya,” pinta Emran saat menduduki anaknya di kursi kosong. Setelah itu dia langsung meraih tubuh Aurelia agar bangkit dari duduknya dan memeluknya sejenak.


Aurelia terkejut tapi sedang tidak bisa mengatakan apapun, karena dia sendiri sedang berusaha menguasai dirinya sendiri agar kembali normal.


Tangan besar itu mengusap lembut punggung pengasuh anaknya, sedangkan Aurelia dalam diamnya merasa hangat di pelukan Emran walau dia tidak membalas pelukan Emran, kedua tangannya menggantung, semakin lama tubuhnya yang gemetaran seperti kedinginan, berangsur-angsur mereda.

__ADS_1


“Saya minta maaf jika sempat meninggikan suara, dan maaf atas ucapan Soraya barusan, tolong jangan masukkan ke hati,” ucap Emran dengan lembutnya.


Wanita muda itu menarik dirinya dari pelukan Emran. “Saya minta maaf seharusnya tidak ikut ke sini,” balas Aurelia tanpa menatap wajah Emran, dan dirinya mulai terlihat canggung.


“Mbak, Atha lapar, kapan makannya?” keluh Athallah sambil mengusap perutnya.


“Maafin Mbak ya, Abang,” balas Aurelia, wanita itu menghamburkan kejadian barusan, dan bergegas mengambil makanan untuk majikan kecilnya.


Emran yang melihat sikap Aurelia berubah drastis padanya, dia memilih kembali duduk walau ujung ekor netranya masih melirik wanita yang baru saja dia peluk.


Tangan wanita itu mulai lincah menyuapi majikan kecilnya yang sedang kelaparan, Emran pun juga mulai menyantap makan siangnya yang sempat tertunda.


“Kamu juga sekalian makan,” pinta Emran.


“Baik Tuan,” jawab Aurelia tanpa menolehkan wajahnya, badannya lebih condong menghadap Athallah ketimbang Emran.


Dibenak hati kecil Aurelia, dia tidak ingin terlalu larut dan salah paham atas sikap baik Emran. Sudah lelah rasanya jika dia harus juga menghadapi para wanita yang menyukai duda tampan, dia ingin hidup tenang dan bahagia walau harus sendiri.


Makan siang dalam keheningan, hanya suara celotehan Athallah yang terdengar saat disuapi oleh Aurelia, sedangkan Emran dan Aurelia tidak ada pembicaraan, hingga beberapa menu makanan terlihat sudah habis.


“Tuan Emran sekali lagi terima kasih atas kebaikan Tuan, dan agar tidak ada salah paham lagi. Saya tekankan di sini, saya tidak mencari perhatian atau menggoda Tuan Emran seperti dugaan Nyonya Soraya. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang dan nyaman, lagi pula saya juga tahu diri posisi saya di sini. Semoga kehadiran saya tidak membuat wanita yang sedang dekat dengan Tuan Emran salah paham kembali,” ucap Aurelia, dia menatap sejenak wajah pria tampan itu, lalu mengalihkan tatapan tersebut ke Athallah.


Emran mendesah panjang, lalu dia menyesapkan kopi hangatnya.


“Ya sama-sama, saya juga berharap kamu tidak salah paham atas semuanya. Saya hanya menolong kamu karena kamu pengasuh anak saya.”

__ADS_1


Betulkah hanya karena menolongnya karena dia pengasuh anaknya? Apa pantas seorang majikan memeluk hangat pengasuh anaknya jika tidak ada perasaan walau hanya setitik?


__ADS_2