Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Napas buatan


__ADS_3

Rida menyunggingkan sudut bibirnya ketika Aurelia tercebur ke kolam renang, sementara langkah mungil Athallah berhenti saat mendengar suara orang tercebur ke dalam kolam renang.


“Mbak Aulel” teriak Athallah dari tempatnya dia berdiri, untung saja ada salah satu maid berada di sana, dan mencegah Athallah untuk agak menjauh dari tepi kolam renang.


Pada dasarnya Aurelia bisa berenang karena sering berenang di hilir sungai dekat rumahnya, akan tetapi karena tidak ada persiapan dan memang terjadi begitu cepat saat dirinya tercebur, kedua kakinya juga tiba-tiba saja kram, hingga dia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.


“To-tolong ...!” teriak Aurelia, kedua tangannya terulur ke atas permukaan air, tapi tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama, napasnya pun mulai kekurangan oksigen dan diapun tampak gelagapan mengatur napasnya, hingga semakin lama kepala Aurelia pun tenggelam ke dalam kolam renang.


Dari kejauhan Emran berlarian dengan cepat dan dia sempat juga melihat gerakan Rida dari belakang menyenggol bahu Aurelia, entah disengaja atau tidaknya.


“Keterlaluan kamu, Rida!” teriak Erman penuh emosi, netranya langsung melihat tubuh Aurelia sudah berada di dalam kolam renang, pria itu pun melepas alas kaki dan menceburkan dirinya untuk menyelamatkan Aurelia.


Tubuh Rida sontak gemetaran saat Emran sempat meneriakinya lalu menghunuskan tatapan tajamnya pada dirinya. “Wah gawat, semoga saja Tuan Emran tidak melihatnya,“ batin Rida mulai ketar-ketir.


Athallah semakin menjerit tangisannya, meraung-meraung melihat Aurelia tenggelam dalam kolam renang, untung saja Mama Syifa ikutan menyusul ke sana, dan langsung menenangi cucu satu-satunya itu, kemudian membawanya masuk ke dalam.


Emran dengan rasa khawatirnya begitu besar, sangat mudah meraih tubuh mungil Aurelia, dan dengan memeluk tubuh tersebut dia membawanya ke tepi kolam, dan di tepi kolam sudah bersiap-siap Pak Yusuf dan salah satu ajudannya untuk mengangkat Aurelia ke atas.


Aurelia diletakkan di atas permukaan lantai dengan hati-hati, Emran bergegas naik ke atas kolam renang dan meraup wajahnya yang basah dengan deru napasnya yang berat, setelah itu dia mengecek nadi serta napas Aurelia dengan mendekatkan telinganya ke hidung wanita itu.


“Pak Yusuf hubungi dokter sekarang juga dan siapkan minuman hangat!” perintah Emran dengan sedikit berteriak.


“Baik Tuan,” jawab patuh Pak Yusuf.


Emran kembali menatap wajah pucat Aurelia, dan dia mulai melakukan tindakan CPR dengan berbekal ilmu yang dipelajarinya. Berawal menekan dada Aurelia dengan kedua tangannya berulang kali, kemudian Emran membuka mulut Aurelia dan sudah tentu memberikan napas buatan.

__ADS_1


“Ayolah sadarlah, Aurel,” pinta Emran mulai tambah cemas karena sudah dua kali memberikan napas buatan belum juga sadar, lalu dia kembali menghentakkan dada Aurelia dengan kedua tangannya, dan mengulangi memberikan napas buatan melalui mulutnya.


Di saat ketiga kalinya bibir Emran bersentuhan dengan bibir Aurelia untuk memberikan napas buatan, tiba-tiba saja kelopak matanya terbuka dan wanita itu langsung menatap wajah Emran yang sudah tak ada jarak lagi dengan wajahnya.


Netra Emran pun ikutan melebar saat melihat Aurelia membuka matanya, dan dia pun menarik bibirnya dari bibir wanita itu secepat mungkin, kemudian Aurelia langsung terbatuk-batuk sembari mengeluarkan air kolam yang sempat terminum olehnya.


“Alhamdulillah, akhirnya selamat juga,” gumam Erman bernapas lega. Diikuti dengan orang yang ada di sekitar itu juga, turut lega melihat Aurelia selamat. Selama Aurelia terbatuk-batuk dan mengatur napasnya, pria itu memiringkan punggung wanita itu lalu menepuknya dengan lembut agar napas Aurelia bisa kembali teratur.


Lalu, Emran menyelisipkan kedua tangannya kebagian bahu serta paha Aurelia untuk digendongnya ala bride style, wanita itu pun tersentak dan semakin membulat netranya saat tubuhnya digendong untuk kedua kalinya.


“Rangkul leher saya,” pinta Emran tanpa ekspresi, Aurelia pun menurutinya walau rasanya meragu dan tidak enak hati pada pria itu.


“Rida, kamu harus bertanggung jawab atas tindakanmu yang sudah berani mencelakakan Aurelia!” sentak Emran saat menatap Rida sebelum melangkahkan kakinya, dengan sorot mata yang berapi-api.


“Gak ... gak Tuan, s-saya tidak mencelakakan Aurel, s-saya tidak berbuat apa-apa!” jawab Rida gelagapan sembari menggoyangkan kedua tangannya.


“Baik Tuan, Dokter sudah saya hubungi dan sekarang sedang perjalanan ke sini,” jawab Pak Yusuf.


Emran hanya bergumam sebagai jawabannya, kemudian dia melangkahkan kakinya yang sempat tertunda menuju kamar Aurelia di lantai dua, diikuti oleh Eka di belakangnya dan salah satu maid yang membawakan minuman hangat.


Sementara itu Pak Yusuf menaikkan salah satu alisnya saat melirik Rida yang tampak kebingungan.


“Sepertinya kamu berulah di sini Rida! Semoga saja kamu tidak sampai di pecat. Sebaiknya kamu ke kamar sekarang juga dan renungkanlah perbuatanmu, walau kamu mengelak atas tindakanmu, tetap saja ada bukti nyata yang tersimpan!” tegur Pak Yusuf selaku yang bertanggung jawab atas para pelayan yang bekerja di mansion Emran.


“Sumpah Pak Yusuf, saya tidak melakukan apa pun, Aurel kecebur sendiri di kolam renang tadi. Orang saya gak ngapa-ngapain.” Rida masih saja menyanggah perbuatannya sendiri dan membela diri.

__ADS_1


“Kita lihat saja nanti,” jawab Pak Yusuf sambil lalu.


Rida meremas ujung appronnya dan menggigit bibir bawahnya, hatinya yang gelisah namun seirama dengan hatinya yang dongkol. Sedari tadi dengan perasaannya yang was-was, hatinya juga memanas saat menyaksikan bagaimana Emran memberikan napas buatan pada Aurelia, sungguh di luar prediksinya.


“Sialan, pelet apa yang dipakai Aurel sampai Tuan Emran menolongnya!” geram Rida.


Sementara itu Emran setibanya di kamar, direbahkannya Aurelia di atas ranjang dengan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun sedangkan Aurelia memang sengaja tidak terlalu memperhatikan wajah pria tampan itu, lebih banyak menunduk.


“Terima kasih, Tuan.”


“Eka, tolong bantu ganti pakaian Aurel, pakaikan baju yang hangat,” titah Emran saat sudah merebahkan wanita itu di atas ranjang, dan mengacuhkan ucapan Aurelia barusan.


“Baik, Tuan,” jawab patuh Eka, dan dia bergegas ke ruang walk in closet.


“Nanti ada Dokter yang mengecek kondisimu, saya mau ganti pakaian dulu,” ucap Emran tanpa memutar balik badannya menghadap Aurelia.


“Baik, Tuan, sekali lagi terima kasih,” jawab Aurelia begitu lirihnya, dan akhirnya Emran keluar dari kamar Aurelia.


Wanita itu menarik napasnya dalam-dalam yang sedari tadi dia merasa sesak saat dekat dengan Emran, apalagi bayangan ketika bibirnya disentuh oleh bibir Emran, belum bisa dia lupakan. Dan sebenarnya tidak beda jauh dengan Emran, setibanya dia di kamar, pria itu menatap cermin yang ada di kamar mandinya, terangkatlah tangan kanannya dan dia pun menyentuh bibirnya yang telah menyentuh bibir Aurelia sebanyak 3 kali, sepertinya napas buatan tersebut sangat terkesan bagi Emran.


 Bersambung ...


Mak juga pengen dikasih napas buatan sama Hot Daddy ini, pasti Mak juga bakal terbayang-bayang ... Hihihi 🤭🤭.


__ADS_1


 


__ADS_2