Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Kamu sangat berarti untuk saya


__ADS_3

Jika ada restu dari seorang Ibu, biasanya akan meringankan langkah seorang anak selanjutnya, seperti yang akan dihadapi oleh Emran. Dan sepertinya untuk mengambil hati serta meluluhkan wanita seperti Aurelia butuh kesabaran tingkat tinggi.


Pria itu terlihat senyum-senyum sendiri saat menikmati makan paginya, dengan ujung ekornya melirik Aurelia sedang menyuapi Athallah yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


Bagaimana dia tidak senyum-senyum sendiri, semalam dia mengendap-endap masuk ke kamar Aurelia kembali, maksud hati dia ingin menegok anaknya dan akan memindahkan anaknya ke kamarnya, namun ceritanya jadi berbeda saat melihat Aurelia dan Athallah tampak tertidur pulas, alhasil dia bergabung dengan kedua orang tersebut, direbahkannya tubuhnya di samping Aurelia, lalu diam-diam dia memeluk Aurelia dari belakang. Sungguh Emran sudah seperti maling saja, dan sebelum masuk waktu shubuh pria itu sudah bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak, lalu bergegas keluar dari kamar Aurelia biar tidak ketahuan oleh wanita itu.


Pagi ini Aurelia tampak segar dan cantik, dengan penampilan casualnya, celana jeans dipadu dengan kemeja warna merah muda, rambut diikat setengah ke belakang, aura jiwa mudanya sangat terpancar. Dan sudah tentu bikin para maid iri namun takut, karena apa? Rida tadi pagi dipecat oleh Emran tanpa ada diskusi apa pun dan tak mau mendengar pembelaan diri Rida, karena melihat  rekaman cctv sudah jelas Rida sengaja menyenggol Aurelia. Jadi dengan kejadian yang menimpa Rida sudah bikin para maid yang lain syok, dan harus menjaga sikap jika ingin tetap bekerja di mansion.


“Aurel jangan lupa ikut makan dan minum vitaminnya,” ucap Emran.


“Eh ... Baik Tuan,” jawab Aurelia tanpa menatap wajah tuannya. Untung saja Aurelia semalam tidak terlalu memikirkan kejadian yang hampir terulang kembali, namun yang jelas semalam dia tidur terasa nyaman dan sangat nyenyak. Dia tidak tahu saja kalau semalam dia tidur dalam dekapan Emran.


Usai semuanya menyelesaikan sarapan pagi, Emran seperti biasa akan mengantar Athallah ke sekolah ditemani oleh Aurelia. Sepanjang perjalanan lebih dominan Athallah yang menguasai Aurelia ketimbang Emran, pria dewasa itu hanya bisa menghela napas beratnya dengan diam-diam melirik wanita muda itu.


“Abang belajar yang pintar ya, ingat perhatikan bu guru kalau sedang menjelaskan,” pinta Aurelia sembari memasangkan tas ransel milik Athallah ke punggung majikan kecilnya.


“Oke Mbak Aulel, Atha akan pelhatikan bu gulunya,” jawab Athallah dengan tersenyum lebar. Aurelia yang masih mensejajarkan dirinya setinggi Athallah, mengusap pipi bocah itu lalu mengecupnya dengan lembut, kemudian bocah itu salim pada Aurelia lanjut ke Daddy-nya.


Emran dan Aurelia melambaikan tangannya bersama-sama saat Athallah sudah disusul oleh gurunya dan dibalas dengan lambai riang dari bocah tersebut. Wajah Athallah terlihat sangat bahagia ketika sekolah diantar oleh Aurelia dan Emran, hati anak kecil memang tidak bisa dibohongi, jika dia menyukai sesuatu maka akan terpancar di wajahnya.


 Usai itu, Emran kembali melirik Aurelia. “Sekarang kamu ikut saya ke kantor, pengacara ingin bertemu denganmu,” pinta Emran.

__ADS_1


“Baik, Tuan,” jawab cepat Aurelia dan bergegas menurunkan pandangannya. Pria itu menarik alisnya ke atas, lalu menyentuh punggung bagian bawah Aurelia.


“Tak bisakah menatap wajah saya saat berbicara ... hem,” pinta Emran dengan merendahkan suara baritonnya.


“Eh ....” Aurelia agak gelagapan jadinya apalagi Emran berdirinya begitu dekat dengannya, dia pun lantas menegakkan wajahnya.


“Aurel, jangan pernah menundukkan wajahmu ya. Tegakkan wajahmu, tegapkan kedua bahumu, dan lihatlah orang di sekitarmu, percayalah pada dirimu sendiri dengan meluruskan pandanganmu itu, dengan seperti itu orang tidak akan memandangmu dengan sebelah mata, karena kamu sangat berharga untuk dirimu sendiri, dan sangat berarti untuk saya,” tutur Emran.


BLUSH!


Pipi Aurelia tiba-tiba saja merona semerah blush on warna pink, kata “berarti untuk saya” lumayan bikin jantung Aurelia kembali bergejolak.


Emran tersenyum hangat, tangannya yang masih menyentuh pinggang Aurelia belum ditariknya. “Mobilnya sudah datang, masuklah,” pinta Emran, salah satu tangannya membuka pintu mobil bagian tengah dan mempersilahkan Aurelia untuk masuk terlebih dahalu.


Lagi-lagi selama perjalanan menuju perusahaan Emran, mereka sama-sama diam padahal Emran sudah tidak tahan dengan keheningan yang terjadi di antara mereka berdua, Aurelia akan banyak bicara ketika ada Athallah dan jika hanya berdua dengan Emran maka dia lebih banyak diam, dan memilih menikmati pemandangan yang dia lihat dari balik kaca mobil tersebut.


Pria itu mendesah dan galau, tapi harus bisa menahan diri dulu, urusan perceraian Aurelia belum lah selesai, ibarat kata belum ketuk palu.


“Sabar Emran,” batin Emran menyadari dirinya sendiri.


40 menit kemudian tibalah mobil Emran di perusahaannya. Pria itu turun lebih dahulu dari mobilnya, kemudian dia mengulurkan tangannya saat Aurelia ingin turun dari mobil. Lagi-lagi Aurelia dibuat bingung, namun dari sorot mata Emran seolah-olah meminta Aurelia menyambut tangannya. Dengan gerakkan yang meragu Aurelia menerima uluran tangan pria dewasa itu.

__ADS_1


“Genggam tangan saya, jangan lepaskan. Beberapa karyawan saya sudah tahu jika kamu adalah calon istri saya,” pinta Emran agak berbisik.


DEG!


Sontak saja Aurelia mendongakkan wajahnya agar bisa menatap pria dewasa itu, dengan tatapan bingungnya.


“Jangan terlihat bingung Aurel, saya udah pernah mengumumkan saat rapatkan, masih ingatkan ... hem.” Saat berkata salah satu tangan Emran merapikan surai Aurelia yang sempat tertiup angin, lalu diselipkannya ke belakang telinga Aurelia. Entah kenapa sentuhan lembut yang diciptakan oleh Emran, membuat hatinya berdenyut.


“Ta-tapi ... Tuan.”


Emran mengulas senyum hangatnya kembali. “Angkat wajahmu, tersenyumlah, jangan tundukkan pandangmu, kamu sangat berarti untuk saya," pinta Emran. Sungguh kalimat Emran terkesan ambigu buat Aurelia. Dia hanya bisa melihat tangannya sudah digandeng oleh pria dewasa itu, mau tidak mau langkah kakinya mengikuti langkah kaki Emran agar seirama.


Suasana baru apalagi yang Aurelia rasakan, ketika mereka berdua melangkah masuk ke dalam lobby, beberapa karyawan menyapa mereka dengan rasa hormatnya. Aurelia jadi agak bingung, namun berusaha membalas senyuman dan sapaan dari para karyawan Emran.


Diam-diam tangan Emran yang menggenggam tangan Aurelia, jempolnya mengusap lembut jemari wanita itu, seolah-olah memberikan semangat untuk melewati apa yang kini Aurelia hadapi, yaitu belajar untuk percaya diri.


Dari kejauhan tampak asisten Emran menghampiri mereka berdua. “Selamat Pagi Tuan Emran dan Nona Aurel, pengacara Louis sudah menunggu,” lapor Adam, sembari melirik genggaman tangan tuannya tersebut.


“Roman-romannya ada yang udah jadian nih, wah bentar lagi Athallah bakal punya mommy muda nih,” batin Adam.


Aurelia terlihat risih melihat tatapan Adam, gara-gara hal itu dia ingin lepaskan tangannya dari tangan Emran, tapi tak bisa sangking eratnya seperti ada lem.

__ADS_1


 Bersambung ...


 


__ADS_2