Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Janda Muda


__ADS_3

Halo Kakak Readers terima kasih kemarin sudah meninggalkan komentarnya, setelah semalam dipertimbangkan atas banyaknya komentar yang masuk, akhirnya saya memutuskan akan melanjutkan kisah Aurelia dan Emran di sini, walau tidak b e r c u a n di sini. Dan semoga saja nanti Kakak Readers semuanya bisa mendukung dengan hal yang lain 😊😊. Aamiin.


Soon akan ada novel Mommy Ghina yang di t e r b i t k a n.


...----------------...


Restoran Hotel P


Usai ketuk palu di pengadilan agama, sebenarnya bukanlah sebuah kebahagiaan buat siapa pun, termasuk Aurelia, dimana-mana setiap orang yang menikah menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Kini yang ada hanya kelegaan hati pada Aurelia jika masalahnya yang pelik sudah selesai. Dan jelas statusnya sebagai janda muda.


Aurelia tampak memaksakan untuk mencoba tersenyum di saat Emran mengajak semua anggota keluarganya untuk makan siang bersama di restoran tempat keluarganya menginap. Entah mengapa Emran mengajak mereka makan bersama dengan menu yang super mewah. Kalau buat adik kembar Aurelia yang baru menginjak usia 11 tahun amatlah senang, maklum di kampungnya mana pernah ada sungguh yang selezat itu.


Memang benar sungguhan tersebut membuat perut tergelitik untuk mencobanya. Dari posisi tempatnya Emran duduk, dia melirik wanita berstatus sama sepertinya single, lalu dia menarik beberapa menu makanan, kemudian ditaruh di hadapan Aurelia.


“Makanlah, steak tenderloinnya sangat enak,” ucap Emran memancar aura perhatian pada Aurelia.


Aurelia mengangguk lemah. “Makasih Tuan.” Menjawab tanpa menatap wajah majikannya, Emran tersenyum pahit, namun ya sudahlah.


“Mari Ibu, Bapak, Edi, Eni silakan dimakan hidangannya,” ajak Emran sembari menatap ke-empat orang tersebut secara bergantian, dan ajakan itu disambut baik oleh adik kembar Aurelia.


Mereka semua pun sama-sama menikmati sajian makan siang tersebut, hingga 20 menit kemudian Emran membuka pembicaraan pada Bapak Heri.


“Pak Heri jika berkenan saya memberi saran, bagaimana jika Bapak sekeluarga menetap saja di Jakarta biar tidak berjauhan dengan Aurelia, untuk tempat tinggal sudah saya siapkan, serta ada tempat usaha yang bisa Bapak kelola. Dan tentang tempat sekolah Edi dan Eni pun juga sudah ada,” kata Emran terlihat serius dan to the point.


Bapak Heri yang mau mengambil makanan kembali gerakkannya terhenti dan dia menatap  Emran dengan rasa keterkejutannya. Kalau Aurelia sudah jelas menolehkan kepalanya, turut kaget mendengarnya.


“Saya hanya kasih saran saja Pak, jika keberatan dan tidak mau menerimanya saya tidak memaksa saja. Tapi alangkah indahnya jika bisa turut tinggal di Jakarta, biar Aurelia tidak merasa sendirian, dan setiap saat bisa bertemu dengan keluarganya,” kata Emran, dia pun membalas tatapan wanita di sampingnya, dengan senyum tipis.

__ADS_1


Bu Ida tertegun, sampai-sampai dia meneguk minumannya sampai tandas. Dia tak menyangka ada tawaran seperti itu dari majikan Aurelia.


“Tapi ini sudah terlalu berlebihan Pak Emran, saya pribadi agak enggan untuk menerima penawaran Pak Emran, apalagi Aurelia hanya pengasuh anak Pak Emran, tapi Anda sudah banyak membantunya. Kami jelas tidak akan bisa membalas budi kebaikan Pak Emran,” jawab Bapak Heri dari hati yang paling dalam.


Emran mengusap sudut bibirnya dengan serbet, lalu meletakkannya di atas meja, kepalanya kembali menoleh ke samping kemudian bergerak meluruskan pandangannya. Sebenarnya ada hal yang serius ingin dia sampaikan, tapi hatinya masih mengganjal karena hubungan dengan Aurelia saja semakin menjaga, wanita itu menjaga jarak.


“Saya dengan senang hati ingin membantu keluarga Aurelia, dan tidak menginginkan balas budi apapun.”


Tawaran ini sebenarnya angin segar untuk kedua orang tua Aurelia, setidaknya tinggal di Jakarta tidak seperti di kampungnya khususnya di wilayah tempat tinggalnya yang selalu memandang sebelah mata pada seorang janda.


“Bapak, Ibu ... Edi pengen tinggal di sini ajalah, dari pada di kampung pasti Ibu dan Bapak akan dapat cemoohan dari Bude Tiwi, Bule Dillah gara-gara Mbak Aurelia jadi janda, sama tetangga semuanya,” celetuk Edi, walau masih kecil dia sangat tahu tradisi di kampungnya.


Aurelia  mendesah lantas mengambil minum untuk ditenggaknya, sementara Bu Ida dan Bapak Heri saling bersitatap penuh makna setelah mendengar ucapan anaknya.


Emran hanya menyimaknya saja sembari mengambil sepotong buah semangka untuk dimakannya dan membiarkan kedua orang tua Aurelia untuk berdiskusi.


“Tidak ada yang berlebihan untukmu Aurelia, hanya sekedar memberikan rumah sederhana serta minimarket untuk keluargamu, dan saya tidak menuntut balas budi pada keluargamu, niat saya hanya membantu saja,” balas Emran tanpa beban.


Lagi-lagi kedua orang tua Emran dibuat terkejut dengan sebutan minimarket, sudah bisa mereka bayangkan bentuknya pasti seperti indoapril atau alpamaret, namun dibalik itu Bu Ida ada perasaan mengganjal saat melihat sorot mata Emran pada Aurelia.


“Pak Emran mohon maaf kalau saya menyinggung sesuatu, tapi ada yang ingin saya tanyakan.” Wanita paruh baya itu memberanikan diri untuk bertanya.


“Silakan Bu, apa yang ingin ditanyakan?”


Sebenarnya ada keraguan untuk bertanya, tapi apa salahnya untuk bertanya ketimbang hanya bisa mengira-ngira.


“Apakah Pak Emran menyukai Aurelia?” tanyanya.

__ADS_1


Sontak saja Aurelia membeku dan langsung melebarkan netranya pada Bu Ida. Sementara itu Emran terlihat sangat tenang ditanya seperti hal itu.


“Ah, maaf kalau saya bertanya yang tidak masuk akal, mana mungkin anak saya dari keluarga miskin disukai oleh pria seperti Pak Emran. Namun jujur saya justru takut dengan hal seperti itu kembali. Yang kemarin sudah menjadi pelajaran buat keluarganya,” lanjut Bu Ida berkata, sembari terkekeh kecil seolah pertanyaan dia hanyalah guyonan semata.


Emran tersenyum tipis, setelah menatap Bu Ida, kini pandangannya teralihkan ke Aurelia yang tampak menundukkan kepalanya.


“Setiap orang yang memiliki kelebihan kekayaan, tidak semuanya memiliki karakter yang sama, begitu juga dengan keluarga saya sangatlah berbeda dengan keluarga Dhafi. Jadi Ibu tidak perlu khawatir.” Pria itu menjeda sejenak, untuk menarik napasnya dalam-dalam.


“Saya seorang duda beranak satu pernah gagal dalam berumah tangga, sebenar saya masih menikmati kesendirian saya untuk mengurus anak saya. Tapi —,” Tanpa aba-aba, Aurelia dan Emran saling bersitatap.


“Hati saya bingung dengan kehadiran Aurelia, awal saya mengacuhkannya saat pertama kali dia bekerja jadi pengasuh anak saya, tapi seiring waktu saya semakin ingin mengenalnya. Tapi sudah beberapa hari ini dia sepertinya menjaga jarak dengan saya,” tutur Emran masih menatap Aurelia.


“Saya menyadari ini bukan waktu yang tepat, apalagi Aurelia baru selesai sidang perceraiannya. Tapi jika boleh minta saya minta izin pada Ibu dan Bapak untuk mengenal anak ibu lebih jauh lagi dalam hubungan yang serius,” lanjut kata Emran, sembari kembali menatap kedua orang tua Aurelia.


Aurelia dibuat terhenyak, Bu Ida pastinya dibuat melongo dengan kedua tangannya yang bergetar saat dia kembali mengambil gelas minumnya.


“Saya tidak akan memaksakan Aurelia untuk menerima, karena semuanya pasti butuh waktu. Tapi di sini saya hanya ingin minta restu pada Ibu dan Bapak untuk bisa mengenal Aurelia lebih dalam lagi, karena sejujurnya saya jatuh cinta sama Aurelia," kata Emran, tatapannya begitu hangat pada Aurelia.


BLUSH!!


Kedua pipi Aurelia seakan dilewati hembusan angin semilir yang mampu membuat pipinya merah merona.


 bersambung ...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2