Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Mengurus perceraian


__ADS_3

Ruang CEO


Emran tak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya, sampai mereka bertiga tiba di ruangan Emran. Ada rasa canggung yang menyelusup hati Aurelia, apalagi melihat tatapan sekretaris Emran yang sangat terlihat cantik dan seksi.


“Ayuk masuk, apa yang kamu lihat ... hem?” tanya Emran sembari mengikuti lirikan Aurelia menuju meja sekretaris.


Lamunan Aurelia buyar, dan kembali menatap pria yang ada di sampingnya. “Ah ... gak lihat apa-apa kok, Tuan,” jawab Aurelia, dia pun kembali mengikuti langkah kaki Emran.


Merry sekretaris Emran ujung ekor matanya mengikuti bosnya. “Jadi benar kalau Pak Emran sudah punya calon istri, wah bakal makin panas dong jika Nyonya Soraya tahu,” gumam Merry sendiri, tidak memperhatikan kehadiran Adam.


Adam yang memperhatikan sorot mata Merry, mengetuk meja kerjanya.


“Eh ... Pak Adam,” Merry mendongakkan kepalanya karena suara ketukan tersebut.


“Kamu jangan sesekali bikin ulah jika masih mau bekerja di sini, dan juga bukan urusanmu kalau Pak Emran sudah memiliki calon istri. Sekarang kamu panggil pengacara Louis, antarkan ke ruangan!” titah Adam dengan tegas.


“Eh, baik Pak Adam,” jawab patuh Merry, segera bangkit dari duduknya untuk bergegas ke ruang tunggu. Wanita itu juga tidak mau cari gara-gara, tapi dia punya pekerjaan tambahan yang lumayan uangnya, yaitu memata-matai Bosnya untuk dilaporkan ke Soraya. Dasar sang mantan istri masih mau tahu gerak-gerik mantan suaminya.


Beberapa menit kemudian diantarkan lah pengacara Louis ke dalam ruangan CEO. Dan kini Aurelia berhadapan dengan pengacara yang ditunjuk oleh Emran untuk mengurus perceraiannya.


“Baiklah Mbak Aurelia, di sini saya ingin menyampaikan jika berkas dan bukti sudah didaftarkan ke pengadilan agama, dan sepertinya suami Mbak Aurelia akan dapat surat panggilan untuk persidangan lusa. Dan sekarang untuk memperdalam kasus KDRT yang di alami, saya ingin bertanya bolehkah? ini menyangkut investigasi dan bahan saya di pengadilan, karena di pengadilan pun Mbak Aurelia akan dipertanyakan dengan sejujurnya?” tanya pria bermata sipit itu.


Bercerita berarti membuka lukanya kembali, Emran yang sengaja duduk di samping Aurelia mengusap punggung wanita muda itu dengan lembutnya, dan hal itu mampu membuat Aurelia menolehkan wajahnya.


“Ceritakan pelan-pelan saja, jika kamu merasa sedih menangislah, ini semua untuk memudahkan kamu menyelesaikan masalah rumah tanggamu dengan Dhafi.” Begitu hangat ucap Emran, tak ada tuntutan namun sedikit memberikannya untuk dia tidak takut atas traumanya sendiri.

__ADS_1


Pria dewasa itu tersenyum hangat, tangannya yang membelai punggungnya kini turun dan beralih menggenggam tangan wanita itu.


“Kami pasti mampu untuk bercerita, jangan takut, saya ada di sampingmu,” lanjut kata Emran.


Senyum tipis akhirnya terbit dari wajah Aurelia, dan akhirnya wanita muda itu kembali menatap pria bermata sipit itu. Dengan aliran kekuatan dari Emran, satu demi persatu Aurelia bercerita kisah rumah tangganya.


Sementara itu di rumah sakit.


Kondisi untuk pasien atas nama Faiza dan Dhafi sudah diperkenankan untuk pulang. Dan sudah tentu Faiza mengamuk-ngamuk pada keluarga Dhafi kembali.


“Aku tidak mau tahu, pokoknya aku pulang ke rumah Mas Dhafi. Itu adalah rumahku! Dan harus jadi milikku, kalau Mas Dhafi menceraikanku maka aku minta rumah mewah itu!” maki Faiza yang saat ini sudah berkemas untuk keluar dari rumah sakit, namun sebelumnya dia bersama kamar mantan suaminya.


Dhafi di atas kursi rodanya meraup wajahnya dengan kasar, sementara itu Bu Hana sudah memicingkan netranya pada kedua wanita sundal tersebut.


Ayah Jafri mendorong kursi roda Dhafi dan melewati mereka berdua begitu saja.


“Mas ... Mas Dhafi dengarkan aku Mas, aku ini istri yang kamu cinta ... Bawa aku bersamamu, Mas Dhafi!” teriak Faiza dengan mengulurkan kedua tangannya untuk mengapai kursi roda mantan suaminya.


Namun, sayangnya ketiga orang tersebut semakin menjauh dari kamar tersebut.


“Bu, ayo susul mereka!” perintah Faiza menggebu-gebu.


Bu Dillah mendesah. “Sudah cukuplah Faiza, dirimu juga sudah diceraikan. Lebih baik kita pulang ke rumah kontrakkan yang kamu ceritakan itu,” jawab Bu Dillah terdengar pasrah.


“Ya gak bisa dong Bu, kita pulang ke rumah yang harus aku miliki, ayo kita susul mereka!” pinta Bu Dillah.

__ADS_1


Bu Dillah melangkahkan kakinya ke depan kursi roda Faiza. “Mending Ibu pulang ke kampung deh Faiza, kamu urus diri kamu sendiri,” jawab Bu Dillah, sembari membawa tas kecil yang berisi pakaian miliknya.


“Loh Bu!” seru Faiza dengan kedua netranya yang terbelalak.


Bu Dillah mengangkat tas kecil milik Faiza dan menaruhnya di atas paha wanita itu. “Jangan menambah beban Ibu dan ayahmu di kampung, kamu urus aja dirimu sendiri, terserah kamu mau ngapain, masih ada adikmu yang harus Ibu urus di kampung!”


Wanita paruh baya itu pun memutar balik badannya dan mempercepat langkah kakinya.


“Bu ... Bu kok aku ditinggalkan!” teriak Faiza yang tak bisa menyusul ibunya karena dia harus mengeluarkan tenaganya kedua tangannya untuk mengerakkan kursi rodanya. Maklum kursi rodanya tipe yang harus di dorong bukan tipe yang ada tombol geraknya.


Mau berteriak sekencang apapun, Bu Dillah tidak menolehkan wajahnya ke belakang dan tega meninggalkan anaknya yang kini sudah cacat begitu saja. Ya, dia tega karena menurutnya Faiza menjadi beban baru buat keluarganya, lagipula Bu Dillah berpikir anaknya sudah dewasa bukan anak kecil.


Faiza yang sedari tadi berteriak-teriak menjadi pusat perhatian orang banyak dan akhirnya ada salah satu perawat yang ingin membantunya untuk turun ke lobby dan akan memesankan taxi.


“Ini semua karena dirimu, Aurelia!” Faiza mengeluarkan emosinya dengan tatapan yang berapi-api.


“Mbak kalau udah gak waras, mending berobat ke rumah sakit jiwa aja! Dari tadi teriak-teriak saja kayak orang gila!” celetuk salah satu pasien yang memperhatikannya. Netra Faiza pun membulat dan tas yang ada di pangkuannya dilemparkannya ke pasien tersebut hingga terjerembap.


“LO YANG GILA YA! GUE TUH MASIH WARAS YA!” teriak Faiza bak orang kesetanan, lalu memgerakkan kursi rodanya, dan roda kursinya menggilas kedua kaki pasien tersebut tanpa ampun.


Hal itu akhirnya membuat keramaian, Faiza berteriak-teriak tak jelas dan mulai memukul pasien tersebut, dan dengan cepat security dan pihak rumah sakit mengamankan Faiza, serta sudah tentu keluarga pasien yang menerima penganiayaan tersebut langsung melaporkan ke pihak polisi, tidak ada kata berdamai.


Sudah jatuh, tertimpa tangga itulah yang kini dihadapi oleh Faiza, orang tuanya tidak menerima dirinya, akhirnya emosinya membuncah hingga merugikan dirinya sendiri. Dengan posisi yang baru saja keluar dari rumah sakit, kini dia berhadapan dengan pihak polisi yang menjemputnya.


“HA ... HA ... HA!!” Wanita cacat itu tertawa terbahak-bahak ketika dirinya sudah dipapah ke mobil petugas.

__ADS_1


__ADS_2