Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Bu Hana syok


__ADS_3

Bu Hana yang semula mencoba untuk menebar senyum ramahnya, tiba-tiba saja jadi mengamati mimik wajah Bu Tin dan Lilis yang nampak tidak terlalu suka dengan dirinya.


Bu Tin dan Lilis sama sama saling memandang, kemudian berbarengan menatap wajah ibunya Dhafi.


“Kami berdua tetangga di sini, dan perlu Ibu ketahui tentang kelakuan anak Ibu terhadap istrinya.” Bu Tin membuka pembicaraan dan hal ini mampu membuat Bu Hana penasaran.


“Kelakuan apa ya maksudnya Ibu, saya kurang paham?” tanya Bu Hana dengan rasa yang begitu penasaran.


“Semalam di rumah ini terjadi kejadian, di mana anak Ibu yang bernama Dhafi menyiksa Neng Aurelia, kami semua para tetangga mendengar teriakan Neng Aurelia,” lanjut Bu Tin bercerita.


Tas jinjing yang dipegang oleh Bu Hana terlepas dari tangannya, mulutnya pun menganga, netranya membeliak sangking terkejutnya, dia benar-benar syok.


“Sepertinya Neng Aurelia selama ini sering dipukul oleh suaminya, dan baru semalam dia berteriak minta tolong. Dan perlu Ibu ketahui selain anak ibu menyiksa istrinya, anak ibu juga berselingkuh dengan sepupunya Neng Aurelia, entah siapa namanya tapi tadi malam wanita itu ada di rumah ini juga. Saya melihat dengan mata saya sendiri anak Ibu ciuman dengan wanita itu, dan ternyata Neng Aurelia juga melihatnya. Saya tidak habis pikir wanita sebaik Neng Aurelia ternyata disiksa oleh suaminya dan diselingkuhi!” ucap Bu Tin kembali bercerita dengan menggebu-gebu.


Dengkul Bu Hana terasa lemas seketika itu juga, hingga dia pun terduduk di kursi yang ada di teras tersebut. Tubuhnya agak gemetaran, entah harus berkata seperti apa.


“Jika Ibu tidak percaya dengan ucapan saya, bisa tanyakan kejadian semalam dengan Pak RT, semua tetangga di sini juga tahu semuanya, dan menjadi saksi,” lanjut kata Bu Tin untuk meyakinkan Bu Hana.


“Untung saja semalam majikan Aurelia yang menolong Aurelia, kalau tidak mungkin Aurelia sudah kehilangan nyawanya semalam,” timpal Lilis memperkuat cerita Bu Tin.


Bu Hana tampak tergugu, netranya berembun, hatinya tidak menyangka anaknya bisa berbuat kejam seperti itu, dosa apa dia hingga memiliki anak yang ringan tangan dengan seorang wanita, dan selingkuh. Anaknya selingkuh! Sungguh berita ini amat menyesakkan buat Bu Hana.


“Selama ini Ibu sebagai orang tua, tahu tidak anaknya ringan tangan dengan istrinya?” tanya Bu Tin dengan tatapannya menyelidik.


Bu Hana menggeleng lemah. “Saya b-benar tidak tahu tentang ini, s-saya sangat syok,” jawab Bu Hana seakan tak ada daya.


Wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya. “Anak saya mengalami kecelakaan mobil semalam, saya datang ke sini karena melihat Aurelia tidak ada di rumah sakit menunggui suaminya. Saya tidak menyangka jika ternyata ada kejadian yang menimpa menantu saya.” Sangat menyesakkan rasanya hati Bu Hana, netranya kembali berembun dan menahan agar tangisannya tidak pecah saat itu juga.


“Hah ... Kecelakaan,” ucap Bu Tin dan Lilis serempak, mereka berdua pun saling bersitatap. Di satu sisi mereka kesal dengan Dhafi tapi di satu sisi ikut prihatin atas musibah yang menimpa suaminya Aurelia.

__ADS_1


“Anak saya baru saja sadar dari komanya,” lanjut kata Bu Hana dengan suara yang agak bergetar.


“Kami ikut prihatin atas musibah yang menimpa anak Ibu,” ucap Bu Tin. Walau sebenarnya Bu Tin ingin sambung kalimatnya jika anaknya itu langsung dapat karmanya dibayar tunai saat itu juga, namun rasanya tidak pantas jika berkata seperti itu.


“Terima kasih Bu,” jawab Bu Hana sembari mengangkat wajahnya.


“Kalau boleh tahu menantu saya ada di mana sekarang? Apakah Ibu-ibu tahu keberadaannya?”


“Semalam dibawa ke rumah sakit oleh majikannya, mungkin sekarang sedang di rawat juga,” jawab Lilis.


Bu Hana mendesah, permasalahan yang menimpa anaknya semakin sulit, apalagi kalau memang Aurelia sampai di rawat di rumah sakit juga. Wanita paruh baya itu menatap Lilis. “Ibu tahu di mana rumah sakit tempat menantu saya di rawat? Paling tidak saya sebagai mertua masih punya tanggung jawab pada menantunya di luar sikap buruk anak saya,” tutur Bu Hana pelan.


Sejenak Lilis melirik Bu Tin seakan meminta persetujuan, Bu Tin mengangguk pelan. Mereka yang hanya sebagai tetangga wajib sebenarnya memberitahukan keadaan Aurelia pada keluarganya, dan Bu Hana salah satu keluarganya walau hanya mertuanya.


“Kebetulan kami berdua mau menjenguk Aurel di rumah sakit, jika Ibu berkenan mau ikut kami persilahkan,” jawab Lilis menawarkan.


Bu Hana bangkit dari duduknya. “Kalau begitu saya ikut, jika tidak keberatan ibu-ibu bisa bareng dengan saya kebetulan saya bawa mobil,” ucap Bu Hana menawarkan.


Dengan langkah yang tak berdaya, Bu Hana terlebih dahulu jalan mendahului Bu Tin dan Hana menuju mobilnya ya terparkir di luar halaman, lalu mempersilahkan kepada mereka untuk masuk ke dalam mobilnya.


“Dhafi kenapa kami menyiksa istrimu sendiri!” batin Bu Hana sangat terpukul. “Mungkinkah kecelakaan yang menimpamu semalam adalah azab atas perbuatanmu terhadap istrimu, dan kamu telah berselingkuh dnegan Faiza! Pantas saja Faiza ada di mobilmu. Ya Allah, aku telah gagal menjadi orang tua,” kembali Bu Hana membatin.


...----------------...


Rumah Sakit H.


Bocah tampan itu terlihat membaringkan badannya dan memeluk pengasuhnya yang masih tertidur pulas efek dari obat penenang. Kepalanya pun mengusel-usel di bawah ketiak Aurelia.


“Mbak nih kok macih tidur aja, ini ada Atha ... bangun napa,” pinta Athallah sudah tidak menangis lagi, setibanya di rumah sakit dan melihat Aurelia langsung dia berhenti menangis.

__ADS_1


“Son, jangan ganggu mbaknya dulu ya. Mbaknya lagi sakit,” pinta Emran membujuk anaknya agar mau bangkit dari atas ranjang.


“NO, Daddy ... Atha maunya cama mbak aja,” jawab Athallah.


Emran hanya bisa mendesah menghadapi anaknya yang keras atas kemauannya, kalau sudah bilang NO ya NO!


Mama Syifa menepuk bahu anaknya, dan Emran pun menolehkan wajahnya. “Sudahlah Emran, yang penting Atha tidak rewel, biarkan saja dia dengan Aurelia.”


“Tapi Mam, Aurel sedang sakit,” jawab Emran.


Mama Syifa tersenyum hangat melihat sorot mata anaknya penuh kekhawatiran pada pengasuh anaknya. “Tunggu sebentar saja, kamu lihat sendirikan bagaimana rindunya anakmu pada Aurel, sangat berbeda dengan mommy-nya. Sungguh suami yang bodoh menyiksa Aurelia, anak kecil saja tahu mana orang yang baik, mana orang yang memiliki hati yang sangat tulus, karena anak kecil masih memiliki hati yang murni belum ternodai,” imbuh Mama Syifa sembari menatap Athallah dan Aurelia, sudah bagaikan anak dan ibu. Emran ikut kembali menatap mereka yang ada di atas ranjang, entah kenapa hatinya menghangat melihatnya. Memang Athallah tidak pernah menunjukkan sikap sayang pada pengasuh lainnya termasuk ke Soraya sebagai ibu kandungnya, dan baru kali ini Athallah memperlihatkan rasa sayangnya.


Rupanya Athallah tak sabaran menunggu Aurelia bangun dari tidurnya, dengan sengaja dia kembali mengusel-ngusel kepalanya di bawah ketiak wanita muda itu, dan ternyata berhasil.


“Mbak kok lama banget cih bobonya, Atha kan kangen,” ucap Athallah sembari menunjukkan puppy eyes nya saat Aurelia membuka matanya.


Wanita muda itu yang masih belum sempurna membuka matanya dan belum terlalu sadar, dia mengulas senyum hangatnya pada bocah tampan itu.


“Atha kangen cama mbak,” kembali berkata Athalla, dan bocah itu pun mengecup pipi wanita muda itu.


Meleleh rasanya hati Aurelia dibuatnya, serasa ada orang yang sangat menyayanginya, dan serasa dirinya dibutuhkan.


Salah satu obat yang terbaik memperbaiki kesehatan mental yaitu berada di sekeliling orang yang sangat menyayanginya dengan tulus, bukan penuh dengan kepura-puraan. Tak salah Mama Syifa mengajak Athallah menemui Aurelia, karena mereka berdua saling menyayangi, dan Mama Syifa berharap Aurelia cepat pulih kesehatannya.


 



 

__ADS_1




__ADS_2