Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Mengajukan perceraian


__ADS_3

Seorang ibu kadang suka bersikap egois demi kelangsungan dan kepentingan dalam hidup anaknya sendiri, walau anaknya tersebut punya tabiat buruk terhadap orang lain. Namun, tetap saja seorang ibu akan selalu berupaya yang terbaik untuk anaknya. Jadi, memang sangat egois Bu Hana saat ini, dia memang menyukai Aurelia sebagai menantunya dan sangat jelas dia tidak mau kehilangan menantu baiknya tersebut, padahal sudah sangat jelas Aurelia menceritakan perjalanan rumah tangganya yang amat menyedihkan. Dan sepertinya hal itu menjadi sia-sia saja, tidak ada rasa empati dari Bu Hana, dan hanya kata maaf yang terucapkan dari Bu Hana, namun ujung-ujungnya mengingatkan posisi Aurelia masih sebagai istrinya Dhafi, dan wajib mengurus suami yang sedang tertimpa musibah tersebut.


“Ya, Anda memang sangat egois!” sahut Emran, salah satu tangannya mengambil ponsel milik Aurelia yang ada di atas nakas, lalu dia membuka galeri video. Kemudian pria itu menunjukkan video kekerasan Dhafi terhadap Aurelia waktu malam itu pada Bu Hana.


Bu Hana menatap nanar video tersebut, tangannya pun terulur untuk mengambil ponsel tersebut, dan melihat dengan jelas video kekerasan itu.


“Sepertinya sejak tadi Aurel bercerita Anda masih tidak engeh juga dengan kesalahan anak Anda sendiri, dan masih mengingatkan Aurelia pada suaminya, lalu dengan egoisnya meminta Aurel untuk merawatnya, lantas apa Anda tidak lihat jika Aurel sedang sakit juga, dan itu akibat perbuatan anak Anda!” ucap Emran sembari menahan emosinya yang mulai membuncah.


“Coba Anda posisikan diri Anda sebagai Aurelia, apa yang Anda rasakan, setelah disiksa oleh suami bertubi-tubi, lalu harus mengurus suami kejam itu?!” Entah ini hanya pertanyaan atau sebuah gertakan dari Erman, namun yang jelas dia meminta Bu Hana memakai akal sehatnya.


Sejenak Aurelia menolehkan wajahnya untuk menatap majikannya, dia merasa pria tampan itu begitu emosi pada Bu Hana, tangan kanannya pun terulur dan memberanikan diri untuk mengusap lengan pria itu dengan lembut, hal itu juga membuat pria itu menolehkan wajahnya untuk menatap Aurelia. Sekilas wanita muda itu tersenyum tipis dan kembali mengusap lengan Emran, seolah-olah berkata “Jangan emosi.”


Usai itu wajah Aurelia bergerak untuk menatap Bu Hana. “Aku ikut berduka atas kejadian yang menimpa Mas Dhafi dan Mbak Faiza, perlu Ibu ketahui aku sudah mengajukan perceraianku dengan Mas Dhafi ke pengadilan agama, dan mungkin sekarang sudah diurus oleh pengacaraku —“


Sontak saja Bu Hana netranya membeliak mendengar kata perceraian. “Loh kenapa kamu mengajukan perceraian Aurelia, apa kata ibumu yang tidak menginginkan kamu menjadi janda, usia kamu masih muda. Lagi pula masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik Aurelia, jangan gegabah mengambil keputusan.” Bu Hana menyela pembicaraan Aurelia saking terkejutnya.


Aurelia berdecak kecewa. “Ibu bilang aku gegabah mengambil keputusan! Lantas Ibu membenarkan perbuatan Mas Dhafi terhadapku, dan aku harus menerima segala siksaan serta pengkhianatannya tersebut. Otakku masih waras Bu Hana! Aku tidak mau mati muda, lebih baik aku jadi janda muda tapi terhormat, ketimbang harus mati ditangan anak Ibu sendiri! Sudah cukup aku bodoh dengan perasaanku sendiri, dan bersabar menghadapi Mas Dhafi. Aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku dengan pasangan yang salah!” jawab Aurelia dengan tegasnya.

__ADS_1


“Jangan emosi Aurelia, ingat kedua orang tuamu, jangan bikin malu mereka. Sebaiknya kita bicarakan kembali saat orang tuamu datang ke sini,” pinta Bu Hana masih bersikukuh.


Dibalik netranya yang sembab, Aurelia menunjukkan wajah tegasnya. “Alhamdulillah jika ibu dan bapakku akan datang, jadi urusan rumah tanggaku cepat terselesaikan, dan aku tidak peduli jika ibu dan bapak akan membenciku saat aku menjadi janda muda.”


Bu Hana mendesah kecewa, dan meletakkan ponsel milik Aurelia di atas ranjang.


“Mohon maaf Bu jika aku menolak untuk merawat Mas Dhafi, jika hanya sekedar untuk menjenguknya mungkin bisa aku lakukan. Lagi pula Ibu bisa meminta bantuan pada Mbak Faiza untuk merawat Mas Dhafi, karena wanita itu yang dicintai oleh Mas Dhafi bukan aku.”


Tampaklah raut wajah kecewa Bu Hana terhadap menantunya tersebut.


“Anda dengar sendiri bukan apa yang diucapkan oleh Aurelia, jika memang sudah tidak ada keperluan lagi, Anda bisa meninggalkan ruangan ini. Karena Aurelia juga butuh istirahat, agar cepat sehat kembali,” pinta Emran, masih sopan mengusir Bu Hana secara halus.


“Perlu Anda ketahui seharusnya saya yang merawat menantu saya, bukan Anda yang bukan siapa-siapanya Aurelia, saya juga berhak memindahkan Aurelia untuk di rawat di rumah sakit yang sama dengan keberadaan suaminya,” tegur Bu Hana memperlihatkan wajah tidak sukanya pada Emran.


Pria itu kembali menatap Aurelia dengan tatapan hangatnya sebelum dia kembali menatap Bu Hana.


“Tidak perlu jadi siapa untuk membantu orang. Saya juga tahu diri memang saya bukan bagian dari keluarga Aurelia, tapi Aurelia adalah wanita yang disayangi oleh anak saya, tidak ada yang salah jika Anda ingin merawat menantu Anda, tapi pasti ada udang dibalik itu semua!” balas Emran dengan menajamkan sorot matanya.

__ADS_1


Bu Hana tampak menyerah jika harus berdebat dengan mantan atasan Dhafi, begitu banyak kata yang dibalikkan ke dirinya.


“Ibu tidak perlu merawatku, lebih baik Ibu merawat Mas Dhafi saja, aku sudah nyaman di sini. Terima kasih Ibu telah menjengukku, dan tinggalkan saja alamat rumah sakitnya, jika aku sudah sembuh insyaAllah akan menjenguk Mas Dhafi sebentar,” sambung Aurelia.


Tidak ada lagi yang bisa Bu Hana perbuat, akhirnya dia memilih berpamitan dengan meninggalkan alamat rumah sakit tempat Dhafi di rawat.


“Aku harus memberitahukan Ida tentang masalah ini, aku tidak ingin ada perceraian antara Dhafi dan Aurelia. Untuk Faiza, kamu benar-benar wanita murahan!” gumam Bu Hana setelah keluar dari ruang rawat.


Sepeninggalnya Bu Hana dari ruangan, Aurelia bernapas lega, dan dia melanjutkan berbincang dengan Bu Tin dan Lilis. Emran sebagai tuan rumah yang baik, dia menyambut hangat kedua wanita paruh baya itu sampai dia memesankan makanan untuk tamunya Aurelia. Diam-diam Bu Tin dan Lilis sejak tadi memperhatikan sikap Emran yang begitu perhatian terhadap Aurelia.


“Kenapa aku merasa Tuan Emran kayak suaminya Neng Aurelia ya,” celetuk Lilis, saat mereka berdua sudah berpamitan untuk pulang.


“Kita doakan saja yang terbaik Lis, paling tidak Neng Aurelia sudah ada yang melindunginya sekarang. Saya benar-benar tidak menyangka selama ini Neng Aurel mengalami KDRT. Saya juga gak habis pikir punya mertua gak ada otaknya, udah jelas menantunya disiksa sama anaknya, eeh malah gak terima menantunya mau ceraiin. Edan!” jawab Bu Tin agak geram, rasanya tadi dia ingin ngerujak bibirnya Bu Hana.


Tidak selamanya segala sesuatu yang kita lihat tampak baik dan selalu harmonis di luar sana, akan sama di dalamnya, kadang ternyata kelihatan harmonis di luar sana hanya untuk menutupi kebusukan yang terjadi di dalamnya. Begitulah rumah tangga Dhafi dan Aurelia selama ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2