Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Luka di pinggang


__ADS_3

Aurelia menarik napasnya dalam-dalam ketika keluar dari kamar tersebut, dan sedikit mengusap lembut dadanya agar hatinya lega. Ternyata di mana pun dia berada tetap akan bertemu dengan orang yang tidak menyukainya, padahal baru kenal sebentar.


Wanita muda itu kini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan seragam nannynya, lalu bergegas ke ruang laundry terlebih dahulu untuk mencuci seragamnya yang sudah kotor, setelahnya baru bergegas ke lantai 2 ke kamar majikan kecilnya.


“Kamu sudah datang?” tanya Mama Syifa yang kebetulan berpapasan di dapur kering.


“Selamat pagi Nyonya, iya saya sejak tadi sudah datang, dan ini baru saja mau ke kamar tuan muda,” jawab Aurelia dengan sopannya.


Mama Syifa manggut-manggut sembari menuju salah satu rak yang ada di dapur.


“Ada yang bisa saya bantu Nyonya, sebelum saya ke atas?" Aurelia menawarkan bantuan, karena di dapur kering hanya ada dirinya, sedangkan chef dan maid yang lainnya ada di dapur basah sedang menyiapkan sarapan pagi untuk majikannya.


“Ibu mau bikin teh, bisa ambilkan cangkir yang ada di atas rak itu?” pinta Mama Syifa sembari menunjukkan rak yang berada di atas kepalanya, tempat dia berdiri.


Aurelia pun mendekat Mama Syifa. “Oh bisa Nyonya, tunggu sebentar ... saya ambilkan,” jawab Aurelia. Kedua tangannya pun terulur ke atas mengapai handle rak untuk membuka pintu rak tersebut, dan baju Aurelia pun tersingkap ke atas hingga garis pinggangnya sekitar 15 cm ke atas sangat terlihat jelas.


Tidak sengaja Mama Syifa memperhatikannya, dan netranya membulat saat melihat luka-luka lebam serta goresan yang membekas, sudah jelas Mama Syifa jadi merinding. Kulit yang begitu putih tapi ada luka yang begitu banyak.


Aurelia tersenyum tipis saat berhasil mengambil cangkir teh tersebut pada Mama Syifa. “Saya buatkan tehnya ya Nyonya,” tawar Aurelia.


“Eeh ... Iya boleh,” jawab Mama Syifa masih terpaku dengan luka punggung wanita muda itu, dan membiarkan Aurelia membuatkan teh hangat untuk dirinya.


Tidak ada lima menit teh hangat untuk Mama Syifa sudah jadi. “Silahkan Nyonya ini tehnya,” ucap Aurelia sembari meletakkan cangkir tersebut di meja.


“Saya pamit ke atas dulu Nyonya.”


Mama Syifa langsung mencekal lengan Aurelia. “Sebentar ada yang ingin Ibu tanyakan sama kamu?” tanya Mama Syifa yang sudah mulai penasaran.

__ADS_1


Aurelia tidak jadi melangkahkan kakinya. “I-iya Nyonya ingin tanya apa?” Jujur saja hatinya mulai ketar ketir, pikirannya sudah mulai negatif dan langsung melayang dengan perkataan Rida barusan mengenai semalam dia pulang diantar oleh Emran. Dibalik diamnya ada rasa takut yang menyelusup.


“Maaf sebelumnya Ibu bertanya mengenai hal yang pribadi padamu, kamu boleh menjawabnya atau tidak terserah kamu.”


“Iya Nyonya.” Aurelia memberanikan menatap Mama Syifa


“Pinggang kamu ke atas penuh luka lebam dan goresan, seperti bekas pukul atau cambukkan, bukan luka terbentur. Benarkah yang Ibu duga itu?” tanya Mama Syifa penuh kehati-hatian agar tidak membuat wanita muda itu tersinggung.


Mama Syifa masih memperhatikan ekspresi wajah Aurelia yang masih membeku karena kaget. Tangan Mama Syifa pun terulur menyentuh lengan Aurelia, dan menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi meja dapur, wanita muda itu hanya mengikutinya tanpa banyak berkata.


Mama dari Emran ini punya background pendidikan psikolog, di jaman saat masih muda dia sempat praktek di rumah sakit, namun semenjak menikah dan memiliki anak wanita paruh baya itu totalitas hidupnya mengurus suami dan putra semata wayangnya, tapi semenjak suaminya meninggal dia kembali menyibukkan dirinya dengan persatuan himpunan psikolog dan psikiater untuk mengasah ilmunya kembali.


Aurelia menundukkan kepalanya dan menatap kedua jemarinya yang sudah saling bertautan di atas pangkuannya.


“Aurelia, jika kamu tidak sanggup menjawab kenapa pinggang dan mungkin saja punggungmu penuh dengan luka, Ibu tidak akan mendesak. Itu hak kamu, tapi tolong pikirkan baik-baik, hal yang buruk padamu jangan kamu diam saja. Jangan kamu siksa dengan mendzolimi dirimu sendiri, entah siapa yang telah menyiksamu, setiap orang berhak untuk melawan, kita tinggal di negara yang memiliki hukum,” tutur Mama Syifa, sembari menganalisa reaksi yang akan muncul di diri Aurelia.


“Aurelia, boleh Ibu lihat punggungmu dengan jelas?” tanya Mama Syifa.


Tanpa pikir panjang wanita muda itu mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah Mama Syifa.


“Terima kasih, Ibu permisi lihat punggung kamu, tidak perlu dibuka bajunya,” ucap Mama Syifa. Di dapur kering itu tidak ada orang lain selain mereka berdua, Mama Syifa hanya menyingkap baju bagian belakang Aurelia, dan bibir wanita paruh baya itu mengangga saat melihat punggung Aurelia yang penuh dengan luka, sungguh miris dan memilukan melihatnya hingga Mama Syifa tidak sanggup melihatnya lebih lama, dan dia meyakini luka tersebut tidak mendapatkan perawatan yang baik.


Buliran bening semakin mendesak ujung ekor netra Aurelia, untuk pertama kalinya dia berani menunjukkan luka di punggungnya, mungkin ini adalah salah satu titik dia sudah tidak tahan dengan kekejaman suaminya.


Mama Syifa sempat menahan sesak di dadanya, dari luka dan guratan itu dia bisa menilai begitu kencangnya barang yang menghantam tubuh mungil wanita itu.


Sekarang wanita paruh baya itu menghadap Aurelia, dan meraih kedua tangan wanita itu yang masih bertautan itu. “Ibu akan panggil Dokter untuk mengobati lukamu itu sepertinya lukamu itu tidak pernah diobati,” tutur Mama Syifa dengan lembutnya. Dia tidak menuntut bertanya kenapa, siapa dan bagaimana bisa terjadi, yang utama adalah mengobati lukanya terlebih dahulu.

__ADS_1


Aurelia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Mama Syifa yang tak bisa diartikan, dia hanya bisa mengeluarkan air mata, antara terharu dan sedih menjadi satu karena mendapatkan perhatian dari seorang yang bukan orang tuanya.


“Terima kasih, Nyonya,” jawab Aurelia bergetar suaranya.


Mama Syifa tersenyum hangat lalu memeluk Aurelia dengan hati-hati karena luka di punggungnya itu. “Ibu tidak mau bilang kamu harus kuat, Aurelia. Justru kamu jangan berdiam terus dirimu disiksa, entah disiksa oleh orang tuamu atau suamimu. Itu sudah salah jika sudah memakai kekerasan, kamu harus melindungi dirimu dari kekerasan itu,” imbuh Mama Syifa saat mengurai pelukannya.


Pandangan Mama Syifa bisa merasakan jika banyak hal yang dipendam oleh Aurelia. Mereka berdua saling bersitatap, dan Aurelia mulai mencoba berbicara kembali.


“Su-suami ... su-suami yang sering memukul tu-tubuh saya,” jawab Aurelia sembari menahan rasa sesaknya di dada.


“Astagfirulloh.” Mama Syifa kembali memeluk Aurelia, dan akhirnya wanita muda itu pecah sudah tangisannya dalam pelukan majikannya.


Tanpa mereka berdua ketahui, agak jauh Emran mendengar percakapan mamanya dengan Aurelia, terkepallah kedua tangan Emran.


“Dasar suami biadab!” umpat batin Emran.


Pria tampan itu membalikkan badannya, yang semula ingin meminta maidnya membuatkan dia kopi, kini dia kembali ke lantai atas untuk menengok anaknya sudah bangun atau belum, dan memberi ruang untuk Aurelia bersama mamanya dulu. Kemudian dia menghubungi seseorang melalui ponselnya.


“Adam, umumkan ke team marketing, saya mau rapat dengan mereka semua dan manager marketingnya wajib hadir jam 10 pagi. Dan satu lagi minta butik Sabrina menyiapkan beberapa baju untuk wanita berusia 18 tahun, tubuhnya langsing, tingginya sekitar 160cm, model bajunya yang kekinian,” perintah Emran melalui sambungan teleponnya.


“Baik Tuan, siap saya laksanakan,” jawab patuh Adam, tapi dahinya berkerut.


“Bajunya buat siapa ya?” gumam Adam setelah mengakhiri telepon dari Bosnya.


 Bersambung ...


 

__ADS_1


__ADS_2