Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Perasaan Emran


__ADS_3

Hati yang terluka mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka tersebut, setiap manusia memiliki toleransi yang berbeda-beda dalam menyikapi perasaannya yang sudah dilukai baik secara fisik dan mentalnya oleh pasangan hidupnya. Dan salah satu bentuk mengobati luka tersebut adalah menenggelamkan dirinya dengan berbagai kesibukan, agar dia bisa mengalihkan pikirannya untuk tidak fokus dengan goresan luka serta kenangan buruk tersebut.


Aurelia, segenap hatinya pernah dia serahkan untuk suaminya. Mencintai sang suami dengan setulus hatinya, begitulah kisah cinta pertamanya yang amat tragis. Kini rasa cintanya sudah dikuburnya dalam-dalam, dan tak ingin menggali rasa cinta itu, mungkinkah ada trauma di hati Aurelia? Mungkin saja itu terjadi, hal ini biasa terjadi pada perempuan yang mengalami KDRT dalam rumah tangganya, hingga berakhir dia tidak percaya dengan kata cinta dan bisa juga sampai tidak percaya dengan seorang laki-laki.


Usai Aurelia kembali mengenakan seragam nannynya, wanita muda itu kembali ke kamar Athallah untuk mengecek keadaan majikan kecilnya, dilihat bocah kecil itu gelisah dalam tidurnya, lantas Aurelia memilih naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di samping majikan kecilnya, lalu tangannya terulur mengusap lembut punggung Athallah agar tidur siangnya tidak gelisah.


Lama dan semakin lama, netra Aurelia turut terpejamkan saat mengusap punggung Athallah, tubuhnya yang letih akhirnya meminta untuk diistirahatkan sejenak.


Satu jam kemudian ...


Derit pintu terdengar saat terbuka, langkah kaki yang terdengar berat tiba-tiba tak terdengar saat pria itu merasakan sunyi sepi di dalam kamar putranya. Dengan mengendap-endap dia kembali melangkahkan kakinya, dan tertuju menuju ranjang putranya, terlihatlah kini sosok wanita yang sempat terbayang-bayang di pelupuk matanya sedang tertidur pulas merangkul putra yang sangat dia sayangi.


Pelan-pelan dia menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang, dan netranya menatap lekat-lekat kedua orang tersebut, hatinya amat terasa hangat melihat pemandangan tersebut. Dan entah kenapa juga pria itu mengangkat tangannya lalu menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Aurelia pelan-pelan, sentuhannya laksana angin yang berhembus.


Emran, sosok pria dewasa yang matang, bukan lagi seorang pemuda yang baru mengenal seorang wanita. Dia pernah jatuh cinta dengan segenap hatinya, namun semakin lama cinta yang dia miliki untuk istrinya saat itu semakin terkikis karena sikap abai Soraya. Kegagalan dalam rumah tangga, hingga memilih untuk berpisah dengan sang istri, lalu berkomitmen hanya untuk mengurus sang buah hati.


Tak menampik sejak dulu banyak wanita yang mengagumi dan mengejarnya, dan hal itu kembali terjadi lagi saat dirinya sudah bercerai dengan Soraya. Namun, hatinya tertutup untuk dekat dengan seorang wanita, mungkin karena kegagalan dalam rumah tangganya.

__ADS_1


Lalu, ada apa dengan sosok Aurelia? Dia yang selalu bersikap dingin dan datar pada tiap wanita, tapi kenapa dirinya selalu ingin melihatnya?


“Entah kenapa hatiku tergelitik untuk ingin tahu akan dirimu, biarlah aku menyelami perasaanku sendiri, tapi izinkan aku selalu berada di sampingmu untuk membantu mengobati luka di hatimu, Aurelia, “ gumam Emran sendiri begitu pelan, hingga suaranya nyaris tak menganggu kedua orang yang masih nyenyak dalam tidurnya.


Setelah puas memandang mereka berdua, Emran pun memutuskan untuk kembali ke ruang kerja, namun sebelum meninggalkan kamar Athallah, pria itu mengusap lembut pipi Aurelia.


Di waktu yang bersamaan, di rumah sakit P.


Bu Hana memaksa Faiza dan Bu Dilla untuk keluar dari ruang rawat Dhafi, hingga Ayah Jafri minta bantuan pada beberapa perawat agar mereka berdua kembali ke kamarnya.


Bu Hana berdecak kesal, lalu dia menyilangkan kedua tangannya di dada. “Eeh Bu, dimana-mana kalau suami sudah mengucapkan menjatuhkan talak tiga tidak ada kata talak bisa ditarik kembali! Secara agama ya sudah sah bercerai! Lagian salah sendiri punya anak disokong buat jadi pelakor rumah tangga sepupunya, ya anak ibu kena karmanya, sama seperti dengan anak saya yang sudah mengkhianati istrinya. Jadi sebaiknya bawa anak Anda keluar dari sini juga! Tidak perlu teriak-teriak di sini! Malu dengan pasien sebelah!” jawab Bu Hana dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


Salah satu perawat sudah memegang lengan Bu Dilla, dan perawat lain sudah mengambil alih kursi roda yang digunakan oleh Faiza.


“Mas Dhafi, pokoknya aku tidak terima diceraikan!” Faiza berteriak sekeras mungkin dalam isak tangisnya saat mereka berdua dibawa keluar dari kamar yang ditempati oleh Dhafi.


Dada Bu Hana terlihat menghela napas beratnya ketika mereka berdua berhasil dikeluarkan, sementara itu Dhafi memejamkan netranya sejenak untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Kakek Dwi yang berada di kamar tersebut mendekati ranjang Dhafi, dia pun berdeham agar cucunya membuka matanya dan benar saja Dhafi membuka kelopak kedua matanya.

__ADS_1


“Terkadang dalam kehidupan kita suka terlambat menyadari orang yang sepatutnya dipertahankan, namun kita perlakukannya semasa bodonya. Kakek sangat kecewa dengan sikapmu sebagai suami, yang sangat ringan tangan menyiksa istrimu, lalu mengkhianati istrimu yang sangat tulus menerimamu sebagai suami. Allah kini membalas segala perbuatanmu, menegurmu dalam musibah ini. Allah mencabut ingatan memory yang kamu buat pada Aurelia, dan mungkin saja Allah juga sedang membolak balikkan perasaanmu saat ini. Kakek berharap kamu menyadari semua kesalahan yang telah kamu perbuat dan bertobatlah,” tutur Kakek Dwi.


Dhafi bergeming, dia hanya bisa mendengar tutur kata dari Kakek Dwi. Mau jawab apa pun dia tidak bisa lagi merangkai katanya, yang ada kini netranya yang kembali berembun.


“Kakek berharap jangan mempersulit dalam urusan perceraian dengan Aurelia. Dia sudah benar-benar terluka baik fisik dan mentalnya, dan seharusnya kamu patut bersyukur Aurelia tidak melaporkan kamu ke pihak kepolisian,” lanjut kata Kakek Dwi, lalu dia membalikkan badannya karena tidak membutuhkan jawaban dari cucunya.


Bu Hana yang sudah duduk dan mendengar ucapan ayahnya, hanya bisa menundukkan kepalanya lalu dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dan sayup-sayup terdengar suara isak tangis.


Semua sudah terjadi dan sangat fatal sekali kesalahan Dhafi, harapan yang begitu besar yang Bu Hana jatuhkan pada Aurelia sebagai menantu kesayangannya, jelas tidak akan pernah kembali lagi, tinggal waktu yang akan meresmikan perpisahan Dhafi dan Aurelia secara hukum sebagai mantansuami istri.


Dhafi tak lama terkekeh sendiri, dia merutuki dirinya yang masih belum mengingat apapun, dan hatinya pun sangat sakit melihat Aurelia pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


“Begitu jahatkah aku di masa lalu, kenapa aku bisa sejahat itu, padahal dia istirku sendiri ... ha ... ha!”


Bayangan sosok Aurelia yang begitu cantik membuat Dhafi berteriak frustrasi hingga suaranya begitu menggelegar.


bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2