Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Mendoktrin Bu Ida


__ADS_3

Keesokan hari ...


Rumah Sakit P.


Dhafi sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa karena keadaannya sudah stabil. Pria itu hanya bisa terdiam melihat satu persatu orang yang diperkenalkan kembali oleh Bu Hana.


Bu Hana dan Ayah Jafri dari semalam menemani Dhafi, sedangkan tadi pagi kedua orang tua Aurelia, Kakek Dwi dan ibunya Faiza baru tiba dari Surabaya. Berkumpullah mereka semua di rumah sakit P, namun ibunya Faiza langsung memisahkan diri menuju kamar rawat Faiza.


“Ini foto pernikahanmu, kamu sudah menikah dan nama istri kamu, Aurelia,” ucap Bu Hana memberitahukan foto-foto yang ada di galeri ponselnya, namun tetap saja Dhafi tidak mengingatnya.


“Sabar Bu, kita kasih tahunya pelan-pelan dulu sama Dhafi, kata dokter jangan dipaksakan.” Ayah Jafri mengusap bahu istrinya, agar lebih sabar memberitahukan segala sesuatu yang berkaitan dengan Dhafi kecuali masalah Faiza, yang sekarang Bu Hana lakukan yaitu membantu mengingatkan Dhafi akan Aurelia sebagai istrinya.


Dhafi memegang kepalanya yang masih diperban, terasa masih sakit efek pasca dioperasi bagian kepalanya.


“Kepalamu sakit lagi, Nak?” tanya Bu Hana.


“Iya Bu, terasa sakit lagi,” keluh Dhafi dengan wajah meringisnya.


“Ya sudah istirahatlah,” jawab Bu Hana, sudah tidak memaksa lagi.


Dhafi di rawat di ruang rawat kelas 1 sesuai dengan kemampuan orang tuanya, dan sangat jauh berbeda dengan kemampuan Emran sebagai pengusaha dalam bidang beberapa jenis bisnis.

__ADS_1


Bu Hana kembali duduk bergabung dengan kedua orang tua Aurelia, setelah itu Kakek Dwi bersama ayahnya Aurelia pamit keluar dari ruangan untuk mencari udara segar.


“Bu Hana, ini Aurelia sejak tadi saya lihat kenapa tidak ada di rumah sakit ya untuk temani Dhafi di sini?” tanya Bu Ida yang sejak tadi menatap pintu kamar berharap putrinya datang.


“Aurelia kemarin sedang tidak enak badan, sempat saya jenguk. Hari ini kalau dia agak enakkan badannya baru akan ke sini,” jawab Bu Hana dengan tenangnya.


Bu Ida manggut-manggut seakan paham, dan dia kembali makan kue yang sudah terhidang di atas meja. Bu Hana hingga saat ini belum menceritakan kejadian yang menimpa Aurelia serta kelakuan Dhafi, yang jelas saat ini dia ingin mendoktrin orang tua Aurelia agak melarang anaknya mengambil keputusan untuk bercerai.


“Bu Hana kalau boleh tahu kenapa Faiza bisa mengalami kecelakaan bersama Dhafi, ya?” Pertanyaan ini sebenarnya sudah menggelayut di otak Bu Ida namun baru kali ini sempat dia menanyakannya, walau hatinya bersyukur anaknya tidak turut mengalami kecelakaan.


Bu Hana melirik suaminya sejenak, lalu memosisikan keadaannya agar terlihat tenang dan tak ada masalah apapun, walau dia sudah mengetahui semuanya dan sudah dia ceritakan pada Ayah Jafri.


“Bu Ida kan tahu anak saya mengalami amnesia akibat kecelakaan, jadi saya juga belum tahu ceritanya dengan jelasnya. Dan hingga saat ini saya juga belum menjenguk Faiza karena saya fokus mengurusi anak saya terlebih dahulu,” jawab Bu Hana.


“Bu Ida, saya harap apapun yang dikatakan oleh Faiza jangan langsung dipercaya, tolong jaga hati Aurelia. Saya tidak mau rumah tangga anak kita berdua jadi berantakan gara-gara salah paham, bisa sajakan Dhafi sedang berbaik hati ingin mengantarkan Faiza pulang tapi ternyata malah dapat musibah,” ucap Bu Hana sudah mulai memainkan aksinya.


“Iya juga sih, tapi terlalu baik hati sekali Dhafi, padahal Faiza bisa pulang sendiri.” Mau bagaimanapun Bu Ida tidak senang jika keponakannya terlalu dekat dengan menantunya, yang ada nanti menantunya main serong, dan berakhir anaknya jadi janda. Bu Ida tidak ingin anaknya menjadi janda!


Bu Hana kembali menatap besannya, setelah meneguk minumannya. “Bu Ida, jika nanti ada masalah rumah tangga anak kita, saya berharap tidak ada perceraian diantara anak kita, sebagai orang tua kita harus membantu menyelesaikan baik-baik masalahnya. Lagi pula Bu Ida tidak maukan Aurelia jadi janda di usai muda?” tanya Bu Hana.


“Oh ya jelas saya tidak mau anak saya jadi janda muda, bikin malu keluarga di kampung. Tenang saja Bu Hana, saya akan membantu jika ada masalah dengan anak saya,” jawab Bu Ida semangat.

__ADS_1


Bu Hana mengulas senyum tipisnya, dan kembali meneguk minumannya. Tak sia-sia rasanya bicara dengan Bu Ida yang masih memiliki pemikiran yang kolot, setidaknya ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya bercerai, terlihat sangat mudah ya.


Sementara di luar lobby rumah sakit P, tampak mobil mewah milik Emran tiba, dan ternyata  Aurelia yang tadi pagi sudah diizinkan untuk rawat jalan memutuskan untuk mampir menjenguk suaminya, dan tentu saja Emran menemaninya, jika Aurelia tidak mau ditemaninya maka oleh Emran tidak diizinkan menjenguknya. Sepertinya terdengar aneh Emran tidak mengizinkannya, ini semua Emran lakukan demi kesehatan mental Aurelia yang belum pulih.


Wanita yang masih berstatus istri Dhafi ini terlihat agak cerahan wajahnya, dan penampilannya sangat jauh berbeda. Wanita muda itu mengenakan dress motif floral, ditambah dengan sepatu flat shoes berwarna nude yang bermerk LV tampak menjadi berkelas penampilan Aurelia. Wajahnya pun dirias tipis dengan sapuan bedak serta lipstik berwarna merah muda.


“Sudah siapkan hatimu?” tanya Emran saat mereka berdua akan turun dari mobil.


“Bismillah, InsyaAllah, Tuan Emran.” Aurelia menjawab dengan keyakinan penuhnya. Sebelum Aurelia memutuskan untuk menemui Dhafi, Aurelia sudah menjalankan sesi konseling dengan Psikiaternya, dari sanalah dia dibukakan matanya untuk menghadapi segala sesuatu kemungkinan yang akan terjadi. Segala masalah jangan terlalu lama diabaikan, selesaikanlah dengan baik-baik agar bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik, dengan seiringan waktu luka batin yang masih dirasakan, lambat laun akan kembali pulih.


Emran terlebih dahulu turun dari mobilnya, baru setelah itu Aurelia yang turun, kemudian disusuli oleh Adam. Wanita cantik itu dikawal oleh dua pria tampan, dan hal itu jadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit. Apalagi kehadiran Emran jadi salah satu daya tarik karena mantan suami artis, jadi banyak yang tahu siapa Emran.


Selama menuju ruang rawat Emran tidak menggandeng tangan Aurelia, namun sesekali tangannya merangkul pinggang wanita itu, seolah dia sedang membuat mata pria yang menatap Aurelia langsung berpaling, karena pria itu menunjukkan kepemilikan wanita muda itu.


Kini, mereka bertiga sudah di depan ruang rawat kelas satu yang berada di lantai 4, sejenak Aurelia menarik napas dalam-dalam saat menundukkan kepalanya, sementara Emran membelai punggung wanita itu dengan lembutnya.


“Tenangkan hatimu, ada saya di sampingmu,” ucap Emran.


 Bersambung ...


Hari senin jangan lupa VOTE buat Aurelia, biar yang nulisnya semangat menyelesaikan ceritanya. Makasih sebelumnya.

__ADS_1


Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🍊🍊


 


__ADS_2