
Bu Ida lagi-lagi meneguk air minumnya sampai gelas milik suaminya pun ikutan ditenggaknya, sedangkan Bapak Heri seperti sedang meraba atas apa yang diucapkan oleh Emran barusan.
Apakah ini bentuk sebuah lamaran secara tidak langsung? Praduga yang ada di benak Bapak Heri beserta Bu Ida.
Aurelia ingin sekali berucap, namun jantungnya tidak bisa diajak kompromi, sejak tadi bertalu-talu, tapi yang jelas dia ingin berkata namun ada yang menahan dirinya. Entah apa itu.
“Jadi maksud Pak Emran menyukai anak saya, dan ingin berniat ke jenjang yang lebih serius?” tegas Bapak Heri, agar dia sendiri tidak salah persepsi.
“Iya Pak Heri, seperti itu. Tapi saya tidak memaksakan pada anak Bapak. Di sini saya hanya minta izin serta restunya, untuk selanjutnya saya menyerahkan pada Aurelia,” jawab Emran mantap.
Bapak Heri mengangguk pelan, dan kini dia mengalihkan tatapannya pada putri sulungnya.
“Buat saya pribadi, ini benar-benar di luar dugaan saya. Entah bagaimana Pak Emran bisa menyukai anak saya dari keluarga yang tidak memiliki apa-apa. Dulu saya menjodohkan anak saya dengan anak teman yang seperti Pak Emran ketahui, ternyata bukanlah kebahagiaan yang menyelimuti anak saya, tapi justru siksaan batin dan fisik yang menimpanya.” Sejenak Bapak Heri menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
“Orang tua pasti menginginkan kebahagiaan buat anaknya, walau sekilas kami pernah dibutakan dengan harta yang kami terima setelah menikahkan Aurelia dengan Dhafi, sangking ekonomi kami sangatlah rendah. Pekerjaan saya hanyalah petani di kampung jika pas musim, selebihnya hanya kerja serabutan. Namun saya cepat menyadari ketamakan kami yang telah membuat anak kami kesakitan. Kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang fatal tersebut. Maka dari itu mungkin istri saya agak takut jika ada pria kaya yang mendekati,” tutur Bapak Heri penuh penyesalan.
Mendengar ucapan Bapak Heri, membuat Aurelia menundukkan kepalanya. Sementara itu Emran terlihat sangat memahami apa yang dirasakan oleh kedua orang tua Aurelia.
“Bukan berarti kami tidak merestui Pak Emran, tapi kami masih ada rasa takut. Biasanya pria kaya hanya memanfaatkan kekurangan kami, dan sejujur kami ingin Aurelia bisa menjadi wanita yang mandiri, tidak berpangku pada seseorang,” lanjut kata Bapak Heri.
Emran menarik punggung dari sandaran kursi, lalu menjatuhkan kedua tangannya ke atas meja.
“Saya sangat memahami rasa kekhawatiran dari Bapak dan Ibu, maka dari itu saya mengajak Bapak dan Ibu sekeluarga sama-sama tinggal di Jakarta agar bisa memantau kondisi Aurelia, dan perlu saya ingatkan sekali lagi jika saya bukanlah Dhafi yang tidak bisa menghargai sebuah ikatan, apalagi ringan tangan.” Emran mencoba meyakinkan kedua orang tua Aurelia agar tidak negatif thinking dengannya.
__ADS_1
Kini pandangan Bapak Heri teralihkan pada anaknya kembali. “Kalau menurutmu bagaimana Aurelia, sejak tadi kamu tidak mengeluarkan pendapatmu?” tanya Bapak Heri.
“Untuk saat ini aku agak bingung Pak mau komentar apa, karena ini benar-benar membuat aku kaget dan tak menyangka,” ungkap Aurelia apa adanya. Pria tampan itu kembali menolehkan wajahnya, agar bisa menatap wajah Aurelia.
Aurelia bisa merasakan jika pria tampan itu menatap wajahnya yang masih memerah semu.
“Tapi jika memang Tuan Emran berniat baik meminta Ibu dan Bapak tinggal di Jakarta tanpa berharap balas budi, aku setuju Pak, walau sebenarnya —.”
Emran langsung menyentuh tangan Aurelia yang ada di atas meja tersebut. “Jangan kamu pikirkan, saya sangat tulus ingin membantu keluargamu, dan jangan jadikan beban atas isi hati saya tadi. Kamu hanya perlu tahu saja, saya tidak menuntut dibalas perasaan saya,” jawab Emran dengan tatapan hangatnya.
Pelan namun pasti Aurelia mengerakkan kepalanya menghadap pria tampan itu. Bagaimana bisa pria yang rupawan tersebut jatuh cinta dengannya?
“B-baik Tuan,” jawab Aurelia seraya dadanya sesak melihat pria itu, untung saja dia tidak pingsan.
Bu Ida tak tahan rasanya, entah mau bahagia atau menangis saat melihat rumah dengan gaya minimalis, walau tidak bertingkat namun terlihat luas, kurang lebih luas tanahnya 200 meter. Rumahnya pun sudah dilengkapi dengan furnitur, dan siap di tempati. Sedangkan Edi dan Eni jelas terlihat senang apalagi saat Emran menunjukkan kamar yang sudah di siapkan untuk mereka masing-masing.
“Bapak, Ibu, sekarang Edi punya kasur sendiri, tidak tidur di kasur lantai lagi!” teriak Edi bahagia.
Bu Ida hanya mengangguk pelan sembari mengusap netranya semakin basah saja.
“Eni juga punya kamar sendiri Bu!” Eni tidak mau kalah kegirangan melihat kamar yang bernuansa pink tersebut.
Bapak Heri menepuk bahu Emran. “Terima kasih banyak Pak Emran,” ucap Bapak Heri dengan netranya yang berbinar-binar.
__ADS_1
“Panggil saya Emran saja Pak, dan mohon jangan sungkan dengan saya jika ada sesuatu,” pinta Emran.
Pria paruh baya itu mengangguk dan mereka berdua berpelukan sesaat. Suasana hangat tersebut membuat Aurelia tidak mampu berkata-kata lagi untuk Daddy-nya Athallah.
Bu Ida yang melihat suaminya dengan Emran, mengusap lengan Aurelia. “Entah Ibu harus berkata apa Nak, sungguh kamu bernasib baik bertemu dengan majikan seperti ini. Dan Ibu sangat berharap dia memang tulus mencintaimu. Ibu tak ingin melihat kamu menderita lagi,” kata Bu Ida agak bergetar suaranya.
Aurelia hanya mengangguk pelan, tak bisa menjawab, biarlah untuk saat ini dia mengamati semuanya sebelum pada akhirnya bisa bicara berdua dengan Emran.
“Rumah ini bisa segera ditempati, boleh kapan pun, dan untuk urusan barang di kampung sebaiknya tidak perlu dibawa kesini, mungkin hanya dokumen-dokumen yang penting saja. Dan selanjutnya saya mau mengajak Bapak ke minimarket yang saya ceritakan, kebetulan ada di depan komplek perumahan ini jadi tidak repot untuk Bapak mengelolanya, dan yang jelas nanti ada beberapa karyawan yang akan membantu Bapak di sana,” kata Emran, lalu tak lama pria itu merogoh sesuatu di dalam saku jasnya, kemudian memberikan amplop berwarna coklat agak tebal pada Bu Ida.
“Ini ada uang untuk keperluan dapur, semoga cukup ya Bu,” kata Emran.
Jelas sekali Bu Ida terkejut, tangannya pun agak gemetaran saat menerimanya, belum jadi mantu tapi sudah seperti menantunya sendiri.
“Ya Allah ... Pak Emran, kenapa baik sekali jadi orang.” Pecah sudah tangisan Bu Ida, dan pria itu memeluk Bu Ida.
“Sudah Bu, ini rezeki dari Allah melalui saya, bukan karena saya baik. Dan tolong jangan panggil pak, cukup Emran,” pinta Emran. Bu Ida hanya bisa mengangguk pelan dalam pelukan Emran, sang calon menantu berikutnya.
Aurelia jadi mengusap-usap lengannya sendiri, semakin lama melihat kebaikan Emran, membuat hatinya semakin galau. Melihat keresahan Aurelia, Emran mengurai pelukannya lalu menghampiri wanita itu dengan tatapannya begitu dalam.
“Mau ikut ke depan, antar Bapak ... hem?” tanya Emran sembari mengulurkan tangannya.
“Eh ...,” Wajah Aurelia jadi kikuk kembali, namun tangannya terangkat untuk menerima uluran tangan pria itu. Genggaman hangat kembali terasa di telapak tangan mereka berdua.
__ADS_1
bersambung ...