
Rasa bahagia masih menyeruak dari hati Erman, Aurelia hanya bisa tersenyum hangat melihat raut wajah Emran tersebut. Siapa sangka ada pria yang betul-betul menginginkan dirinya, dan semuanya terpancar di wajah tampan pria itu.
Jemari manis Aurelia kini sudah tertahtakan hati Emran dalam bentuk cincin berbatukan berlian. Sedangkan salah satu tangannya sedang memegang buket bunga yang begitu cantik dan wangi. Hati wanita siapa yang tidak akan jadi luluh menemui pria seperti Emran, yang awalnya tidak suka bisa jadi suka, dan semoga saja bisa membalas cinta pria dewasa itu.
Malam semakin larut, rasanya hati Erman tidak rela berpisah dengan calon istrinya, tapi mau bagaimanapun sudah waktunya mereka beristirahat. Bagaikan anak muda mengantar kekasihnya pulang ke rumah, sama hal yang Emran lakukan saat ini, dia sedang mengantarkan Aurelia sampai ke depan kamarnya.
“Selamat beristirahat calon istriku, jangan lupa segera tidur ya. Semoga mimpi yang indah,” kata Emran, setelah itu dia mengecup kening Aurelia dengan lembutnya.
“Mas Emran juga, semoga tidurnya nyenyak ya,” jawab Aurelia tersipu malu-malu.
“Ya ... sayang.”
Emran membukakan pintu kamar Aurelia dan mempersilahkan sang pujaan hatinya untuk masuk ke dalam, setelah itu barulah dia masuk ke dalam kamarnya yang tak jauh keberadaannya dari kamar Aurelia.
Di dalam kamar, Aurelia mengusap dadanya sembari tersenyum sendiri dan menghirup aroma wangi yang menyeruak dari buket bunga mawar tersebut, lalu bergegas menuju ranjang, kemudian menghempaskan dirinya ke atas ranjang.
“Ah kenapa masih berdebar saja hatiku,” gumam Aurelia sendiri sembari menatap langit-langit kamarnya, wajah Emran yang tersenyum masih terbayang-bayang di pelepuk matanya, ditambah dengan bayangan ketika pria itu mencium bibir. Ah, wanita itu jadi kembali menggigit bibirnya diiringi dengan memejamkan netranya.
Indah bukan rasanya dicintai, ketimbang mencintai tapi tak terbalaskan.
...----------------...
Esok hari ...
Ada yang sangat berbeda di pagi hari ini, Aurelia dengan hati yang masih merasakan kebahagiaan bangun pagi seperti biasa, dan sebelum mengurus majikan kecilnya dia menyempatkan diri ke dapur untuk memasak beberapa menu untuk sarapan pagi dengan bahan yang sudah tersedia di dapur basah, maid yang biasa masak agak heran tapi tetap masak seperti biasanya.
Usai masak barulah dia kembali ke kamar Athallah, dan ternyata calon suaminya sudah berada di sana dengan pakaian yang terlihat santai.
“Pagi, Sayang,” sapa Emran begitu hangat saat pria itu menghampirinya, lalu mengusap lembut pipi Aurelia.
“Pagi juga Mas, tumben pakaiannya kok terlihat santai, tidak ke kantor?”
__ADS_1
“Hari ini aku gak ke kantor, mau temeni kamu ke sekolah Atha, terus aku mau ajak kamu jalan-jalan. Mau, kan?” tanya Emran.
“Jalan-jalan.” Tampak berpikir sesaat.
Sementara itu di antara mereka berdua, ada bocah tampan yang melirik mereka berdua secara bergantian dengan melipatkan kedua tangannya.
“Daddy cama Mbak mau jalan ke mana? Atha kok gak di ajak!” seru Athallah mendengus kesal. Sontak saja mereka berdua menurunkan pandangannya.
“Abang, sayang,” sapa Aurelia sembari mendekatkan dirinya lalu menyejajarkan tinggi badannya.
“Abang jangan cemberut dong, Daddy'kan mau ajak jalan-jalan Abang, tapi setelah selesai sekolahnya, betulkan Daddy?” tanya Aurelia dengan mendongakkan wajahnya, Emran mendesah maksud hati mau jalan berdua saja dengan calon istrinya, tapi ternyata dia melupakan makhluk kecil itu yang harus berbagi perhatian Aurelia.
“Tuh Daddy ndak jawab, belalti Atha ndak diajak jalan-jalan!” celetuk Athallah dengan kesalnya sembari menghentakkan kedua kakinya.
Mau tidak mau Emran harus mengalah. “Son diajak jalan-jalan, sekarang kita siap-siap berangkat ke sekolah, ayo mandi,” ajak Emran.
“Janji ya Daddy, Atha diajak jalan-jalan,” kata Athallah agar lebih yakin.
Emran langsung mengangkat tubuh kecil Athallah dan membawanya menuju kamar mandi.
“Aku yang mandikan Atha, kamu siapkan baju seragamnya saja ya, Sayang.”
Aurelia tersenyum tipis. “Iya Mas.”
Apa yang mereka lakukan pagi ini bagaikan pasangan suami istri yang saling bahu membahu mengurus buah hati mereka, tidak ada sebuah keterpaksaan, semua dilakukan dengan hati. Athallah pun tampak cerah dengan keberadaan mereka berdua, terasa di hati Athallah memiliki keluarga yang lengkap.
“Daddy.”
“Ya Son.” Emran terlihat sibuk menyisiri rambut Athallah, sementara Aurelia sedang merapikan lipatan kemeja Athallah.
“Dad, boleh ndak Mbak Aulel Atha panggil mommy?” tanya Athallah dengan tatapan memohonnya.
__ADS_1
Tangan Aurelia pun berhenti bergerak karena terkejut, sedangkan Emran langsung menatap pujaan hatinya.
“Bolehkah Sayang, anakku mulai hari ini panggil kamu mommy?” Kini Emranlah yang menatap memohon pada Aurelia.
Wanita mana yang tidak menginginkan seorang anak saat sudah menikah, pasti sangat menginginkan, apalagi jika seorang anak memanggilnya ibu, mama, mommy, ummi dan sebagainya.
Wanita muda itu tersenyum pada Emran, lalu menjawab, “Boleh kok Mas.”
Athallah langsung jingkrak-jingkrakkan meluapkan kebahagiaan. “Hole, Atha punya mommy!” seru Athallah.
Sebenarnya Athallah masih memiliki mommy kandung, tapi sayangnya sejak bayi Athallah jarang merasakan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya, hingga dia kehausan akan kasih sayang seorang ibu, dan kali ini Athallah merasakan apa artinya memiliki seorang ibu walau kelak hanya sebagai ibu sambung.
“Atha cayang cama Mommy Aulel,” ungkap Athallah sembari memeluk wanita muda itu, begitu terharunya Aurelia menerima kasih sayang yang tulus dari Athallah.
Netra Emran jadi berbinar-binar, dan ikutan memeluk mereka berdua. “Daddy juga sangat mencintai kalian berdua,” sambung Emran. “I love you, sayang,” lanjut Emran sedikit berbisik saat wajahnya sengaja mendekati daun telinga wanita itu, lalu mengecup pipi Aurelia dengan lembut.
Love languages Emran memang mampu membuat Aurelia merasa sangat dicintai dan dihargai oleh pria dewasa itu, tanpa membalas ucapan cinta Emran itu, Aurelia agak malu tapi dia memberanikan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup pipi pria dewasa itu untuk pertama kalinya. Dan hal itu tentu membuat Emran terkejut, lalu semakin erat memeluk Aurelia dan Athallah secara bersamaan sangking bahagianya.
Kebahagiaan wanita itu sangatlah sederhana, dia ingin prianya menunjukkan perhatiannya, kasih sayangnya serta ucapan cintanya setiap saat, karena wanita butuh kejelasan bukan sebuah keraguan, karena dengan hal tersebut hatinya akan tumbuh rasa cintanya dan mulai ada rasa nyaman berada di samping pasangannya. Tapi di luar sana banyak pria yang melupakan hal tersebut, ingatlah hubungan akan selalu terjalin dengan baik jika selalu menyadarinya, jangan sampai kelamaan mengabaikannya.
Kemesraan mereka pun berlanjut ketika mereka berempat sudah berada di ruang makan.
“Mas Emran, hari ini aku masak, semoga cocok ya, aku gak tahu Mas suka makanan apa,” ucap Aurelia sembari menyiapkan piring untuk Emran, Athallah, dan Mama Syifa.
Emran menatap sajian yang terhidang dekat dengannya, sarapannya agak berbeda ada daging sapi lada hitam, sop kimlo, sapo tahu.
“Sayang, beneran kamu yang masak?makasih banyak ya, pasti masakannya enak,” jawab Emran terlihat senang, maklum selama berumah tangga dengan Soraya tidak pernah dimasakin, dan kini dia merasakan dirinya dimasakin oleh orang yang sangat spesial dalam hidupnya.
Dibalik Aurelia menghidangkan makanan untuk calon suaminya serta anak sambungnya, ada kenangan buruk yang terlintas di pelupuk netranya di saat dia memasakkan untuk Dhafi, hanya kata kasar yang dia terima serta amukkan dari mantan suaminya, tanpa dia sadari netranya berembun.
Melihat Aurelia agak berkaca-kaca netranya, Emran menyentuh tangan wanita itu. “Makasih Sayang, masakkan kamu sangat enak, aku berasa dimasakin sama istri,” ucap Emran sembari tersenyum hangat.
__ADS_1