
Aurelia menurunkan pandangannya dan menatap tangannya yang telah digenggam erat oleh tangan besar milik Emran, entahlah kenapa dia mau menerima uluran tangan pria itu, uluran tangan yang sangat hangat dan sering dia rasakan dalam waktu beberapa kali ini.
Dengan sikap gentlenya, pria itu mengajak wanita pujaan hatinya untuk sama-sama menuju minimarket, diikuti oleh bapak dan ibunya.
“Mengapa Tuan Emran jatuh hati padaku?” batin Aurelia bertanya-tanya di saat dia diam-diam melirik pria tampan itu.
Sekitar 10 menit, mereka sudah tiba di gerbang komplek perumahan, dan mobil yang mereka tumpangi terparkir di depan salah satu ruko. Emran langsung mengajak mereka masuk ke dalam ruko yang isinya sudah tertata rapi dengan rak pajangan, serta kontainer-kontainer yang berisikan barang yang akan dipajang di atas rak tersebut. Salah satu pria muda yang melihat kedatangan tuannya segera menghampiri Emran, dan langsung saja Emran memperkenalkannya pada Bapak Heri yang selanjutnya akan bertanggungjawab atas minimarket tersebut.
Sungguh kedua bahu Bapak Heri jadi tegap dengan sempurnanya, dirinya merasa sangat dihormati dan dihargai oleh Emran, padahal dia dari kalangan orang biasa saja, namun di sini memang terlihat Emran tidak memandang status sosial siapa pun. Untuk selanjutnya Bapak Heri akan dibimbing oleh salah satu manajer store pusat dalam mengelola minimarket tersebut.
Aurelia bergerak mendekati Emran saat pria itu sudah selesai koordinasi dengan bapaknya serta karyawan yang ada di sana.
“Terima kasih, Tuan Emran,” ucap Aurelia agak berbisik, namun masih terdengar di telinga pria itu.
Pria itu pun menoleh, dan menatap hangat Aurelia. “Bicaranya kok bisik-bisik begitu, saya tidak dengar loh,” sahut Emran.
Alamak denyut jantung Aurelia kembali luluh lantah dengan sikap Emran yang begitu lembut dan hangat, akhirnya dia memilih menundukkan pandangannya dengan tersipu malu-malu. Emran pun tersenyum, lalu kembali menggenggam tangan Aurelia yang sempat terlepas.
...----------------...
Waktu terus berjalan, setelah selesai mengurus segalanya, akhirnya Emran dan Aurelia kembali ke mansion, dan sudah tentu kepulangan mereka berdua disambut oleh Athallah. Bocah tampan itu langsung berlarian sembari merentangkan kedua tangannya.
“Daddy, Mbak ...!” seru Athallah, dan dia langsung memeluk Aurelia sesuai dengan tinggi badannya.
“Mbak kok pulangnya ama amat, Atha campe bocen nungguinnya? Atha’kan kangen cama Mbak Aulel,” ucap Athallah sembari mendongakkan wajahnya dengan raut betenya.
__ADS_1
Tangan Aurelia mengusap lembut rambut majikan kecilnya. “Maafin Mbak ya, tadi banyak urusan di luar, tapi sekarang sudah selesai semuanya,” balasnya.
Emran pun langsung mengendong anaknya. “Kok Daddy gak ditanyain Son? Gak kangen sama Daddy ya?”
Dengan cepat Athallah menggelengkan kepalanya. “Atha ndak kangen cama Daddy, tapi kangen cama Mbak,” jawab Athallah jujur, sembari menautkan kedua tangannya dan melirik secara bergantian pada Emran dan Aurelia.
“Becok-becok Daddy ndak boleh pelgi cama Mbak! Mbak uga ndak boleh pelgi cama Daddy,” pinta Athallah agak cemberut wajahnya.
Aurelia ingin rasanya tertawa kalau lihat wajah Athallah yang sangat mengemaskan kalau sudah cemberut begitu.
Wajah Emran ikutan cemberut pada anaknya. “Gak boleh begitu dong Son. Atha harus berbagi Mbak sama Daddy ya, memangnya Atha gak mau Mbak Aurel jadi mommy Atha ... hem?” tanya Emran.
Sontak aja Athallah mengamati wajah Daddy-nya dengan kelopak mata mungilnya yang semakin melebar. “Makcud Daddy, Mbak Aulel bakal jadi mommy Atha, telus nanti Atha unya adek bai?” sungguh pertanyaan yang amat polos.
“Iya, tapi nanti kita tanya sama Mbaknya dulu ya, mau gak jadi mommy-nya Atha.” Pria itu kini bergantian melirik Aurelia yang terlihat diam membisu, dengan semburat merah jambu yang kembali hadir di kedua pipinya. Mau menyanggah, mulutnya seakan terkunci.
“Hole Mbak Aulel jadi mommy Atha. Atha makin cayang cama Mbak!” seru Athallah sembari kembali mengecup basah pipi Aurelia, sementara itu Emran hanya bisa mengusap tengkuknya sembari mendesah setelah anaknya bernegosiasi tidak boleh lama-lama dekatnya dengan Aurelia, terus bagaimana dia mau menjalin kasih dan pendekatan sama pujaan hatinya.
Namun yang jelas Emran semakin bisa bernapas lega saat melihat Athallah merespon dengan baik, menerima kehadiran Aurelia yamg rencananya mau jadi mommy barunya, walau belum dapat lampu hijau dari Aurelia.
“Sudah Abang pipi Mbak jangan dicium terus, sekarang kita makan yuk, Abang pasti belum makan, Daddy Atha juga belum makan malam,” pinta Aurelia biar tidak lama-lama mendengar pembahasan barusan, yang bikin jantungnya senam skj terus.
Emran meletakkan tangannya ke punggung Aurelia, “Iya Son, Daddy juga lapar belum makan malam, kita ke ruang makan sekarang ya. Dan sini biar Daddy yang gendong, kasihan calon Mommy Atha nanti pinggangnya pegal-pegal,” ucap Emran sembari mengusap lembut pinggang Aurelia. Ah, jadi semakin merinding bulu kuduk Aurelia dibuatnya.
Makan malam pun mereka lewati dengan suasana yang hangat, dan banyak hal yang diceritain oleh Athallah mengenai kegiatannya selama di sekolah hari ini, Mama Syifa yang turut bergabung makan malam bersama itu juga merasakan kebahagiaan yang selama ini jarang dia lihat, apalagi akhir-akhir ini Emran mulai lebih banyak tersenyum, dan Athallah semakin hari mulai tidak terlalu rewel dan tantruman. Efek kehadiran Aurelia di mansion ternyata membawa dampak baik buat Emran bersama anaknya.
__ADS_1
“Semoga kalian berdua disegerakan jadi pasangan halal, dan mengisi mansion ini dengan tangisan dan tawa canda anak-anak kalian berdua,” batin Mama Syifa berdoa penuh pengharapan.
...----------------...
2 jam kemudian, tepatnya jam 21.00 wib.
Athallah sudah tampak pulas di atas ranjangnya, dan Aurelia memilih untuk istirahat di kamarnya, namun saat keluar kamar Athallah ternyata dirinya sudah di tunggu oleh Emran.
“Boleh saya bicara denganmu sebentar?” pinta Emran.
“Boleh Tuan, mau bicara di mana?” Sungguh sangat kebetulan Aurelia juga ingin bicara dengan Emran.
“Ikut saya,” pinta Emran sembari menggandeng tangannya.
Langkah kaki Aurelia mengikuti langkah kaki Emran, melewati beberapa kamar dan tibalah di pintu besar yang sudah terbuka, ternyata pintu menuju balkon yang ada di lantai 2 tersebut.
Ada meja bulat yang sudah dihiasi oleh bunga-bunga yang cantik, beberapa lilin yang sudah menyala, serta beberapa piring yang berisikan cake potong dan sudah tentu dengan minuman hangatnya. Netra Aurelia jelas terpesona dengan pemandangan yang dia lihat tersebut, jelas sangat romantis.
Emran menarik salah satu bangku untuk Aurelia. “Silakan duduk,” pinta Emran agak membungkukkan punggungnya pada Aurelia. Bolehkah saat ini Aurelia merasa melayang, dirinya diperlakukan bak seorang putri oleh sang pangeran yang begitu rupawan. Ah, semoga ini bukan mimpi.
“Terima kasih Tuan Emran,” jawab sopan Aurelia sembari menjatuhkan bokongnya di atas bangku tersebut.
Setelah itu Emran memutari meja tersebut, dan duduk di bangku yang berseberangan dengan Aurelia. Dan entah kenapa tiba-tiba suasana tersebut membuat Aurelia jadi canggung, apalagi kini dia hanya berduaan dengan Emran, di bawah sinar rembulan yang begitu terang, seterang wajah Emran yang kini sedang menatapnya dengan penuh damba, ditambah saat ini Emran mengecup punggung tangan Aurelia.
SERR!
__ADS_1
Bersambung ...