Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Hampir saja!


__ADS_3

Andai jantung bisa berteriak, mungkin dia akan berteriak “Hai jangan buat diriku berlarian! Aku sangat lelah mengikutinya!” sungguh sang jantung tampaknya bekerja keras saat ini, mengendalikan agar tidak terlalu bertalu-talu, dan bisa mengondisikan apa yang terjadi, tapi ternyata sang pemilik jantung tidak bisa diajak kompromi, justru dia harus kembali bekerja keras.


Emran mungkin bukan pria yang pertama kali mengenal seorang wanita dan justru dia memiliki pengalaman, tapi entah kenapa dirinya seperti baru pertama kali mengenal seorang wanita. Sudah tak ada jarak dirinya dengan Aurelia, sungguh terlihat intim. Hembusan napas mereka pun sudah menyatu di udara, hangat namun menggelitik geli saat tersentuh di wajah.


Netra Emran terpaku menatap cantiknya sang pengasuh anaknya, lidahnya keluh untuk berbicara seperti tadi, sungguh dirinya seperti sedang terhipnotis dengan sorot mata teduh wanita muda itu.


Sedangkan Aurelia yang sempat terhenyak, tak kuasa melihat wajah tampan majikannya yang sudah tak berjarak, hidung mancung mereka pun sempat bergesekkan. Aroma maskulin bercampur wood sangat menyeruak tercium di indra penciumannya. Tak ayal walau Aurelia belum ada rasa, hanya rasa hormat pada majikannya, tetap saja kondisi seperti ini membuat jantungnya berdegup dengan cepat dan tak bisa dia netralisirkan seakan jantungnya tidak bisa dikondisikan.


Wanita muda itu meremat tangannya di bahu pria itu, dia pun mulai menundukkan pandangannya, namun jemari Emran mencapit dagu dan mengangkat wajah Aurelia agar tidak berpaling dari pandangannya.


“Biarkan saya menatap wajahmu, Aurelia,” ucap Emran suara baritonnya melembut.


Netra Aurelia mengerjap-ngerjap berulang kali, paru-parunya rasanya sekarang berhenti saat itu juga seolah-olah kekurangan pasokan oksigen, ingatan saat Emran mencium bibirnya saat dia tenggelam mulai bermain-main dipelupuk matanya. Demi apa pun baru kali ini Aurelia merasakan kondisi seperti ini, rupanya sangat menyesakkan tapi bukan sesak karena sakit hati, tapi sesak yang tak bisa Aurelia tebak, hatinya bingung.


Dari sorot mata Emran, bisa dilihat tatapannya begitu hangat hingga munculnya percikan binar-binar, padahal saat masuk kamar tatapannya sangat dingin, dan hal itu membuat Aurelia semakin bingung sekaligus kikuk.


“Jangan tundukkan wajahmu lagi, saat saya menatapmu.”


Aurelia masih belum bisa berkata-kata apa pun, kini yang ada tatapan Aurelia justru turun ke bibir Eman begitu juga dengan Emran yang semula netranya menatap netra Aurelia.


“Ya Allah ada apa dipikiran aku saat ini, tolong hempaskan pikiranku saat ini,” batin Aurelia campur aduk rasa. Jika hati ingin menjauh, tapi tubuhnya justru membeku mengkhianati hatinya sendiri.


Pria itu semakin dekat dan sedikit memiringkan kepalanya, hatinya Aurelia justru malah berdoa tapi tak menghindari apa yang akan terjadi, dan benar saja bibir Emran menyentuh kembali bibir Aurelia, namun ...


BRAKK!!


Begitu kencang sekali suara pintu kamar terbuka dengan paksa, hingga daun pintu tersebut terbentur dinding.

__ADS_1


“EMMBAK ... HU ... HU ... HU!” teriak Athallah dalam tangisannya sembari berlarian menuju ranjang.


Emran langsung menarik wajahnya dan menolehkan wajahnya ke belakang bersamaan helaan napas kecewanya.


“EMMBAAAK ... HU ... HU!”


Dengan lincahnya bocah kecil itu langsung naik ranjang lalu menubruk kan tubuh mungilnya ke Aurelia.


“Mbak macih idup'kan, gak jadi mati'kan?” tanya Athallah masih sesegukan menangis.


Emran kembali mendesah melihat kehadiran anaknya yang sudah mengganggu keadaan romantis yang sempat terjadi, sementara itu Aurelia langsung mengalihkan pandangannya dari tatapan Emran, hatinya senang doanya terkabulkan, dia pun menghela napas leganya, lalu memeluk erat majikan kecilnya.


“Mbak masih hidup Abang, untung Daddy Abang tolongi Mbak tadi,” jawab Aurelia sembari mengusap lembut punggung majikan kecilnya yang masih naik turun karena sesenggukan.


Mama Syifa yang ikutan menyusul masuk, agak melirik ke Emran yang tiba-tiba saja terlihat lesu karena anaknya tanpa permisi langsung selonong masuk ke kamar.


“Dari tadi Athallah mau lihat kondisi kamu, dan akhirnya dia nangis lagi,” ucap Mama Syifa.


Wanita tua itu tersenyum hangat. “Tidak pa-pa yang namanya musibah tidak ada yang bisa menolak, alhamdulillah kamu selamat. Ya udah Atha yuk balik ke kamar, sudah waktunya bobo, biar Mbaknya istirahat dulu,” pinta Mama Syifa sembari mengulurkan kedua tangannya.


Athallah malah semakin menenggelamkan kepalanya ke dada Aurelia dalam pelukan wanita itu. “Ndak mau, Atha mau bobo cama Mbak di cini, Atha ndak mau ke kamar,” jawab Atha kembali menangis.


Aurelia tersenyum gemas, lalu kembali membelai lembut punggung majikan kecilnya. “Biar Athallah tidur di sini saja Nyonya sama saya, kasihan pasti dari tadi dia sudah lelah menangis,” jawab Aurelia.


“Tapi kaki kamu lagi sakit, Aurel!” timpal Emran, seakan tidak setuju dengan keputusan wanita itu.


Wanita muda itu pun menatap Emran. “Gak pa-pa Tuan, lagian hanya di ranjang, tidak jalan kemana-mana,” jawab Aurelia berusaha meyakinkan jika kakinya baik-baiknya.

__ADS_1


Emran hanya bisa mendesah, tak berkutik lagi ditambah anaknya masih melingkarkan tangannya ke pinggang Aurelia dengan eratnya.


“Ya sudah Mah, biar Athallah tidur di sini saja, Mama sekarang beristirahat saja,” pinta Emran.


“Baiklah, kalau begitu Mama kembali ke kamar,” pamit Mama Syifa.


“Ya Mah.” Emran bangkit dari duduknya di atas ranjang, lalu mengantar Mama Syifa sampai keluar kamar Aurelia. Dan setibanya mereka keluar dari ambang pintu, tangan Mama Syifa langsung menarik tangan Emran agar menjauh dari pintu kamar Aurelia.


Wanita tua itu mengamati wajah putranya tersebut sebelum berucap.


“Ada apa Mah?” tanya Emran dengan tatapan herannya.


“Kamu suka ya sama Aurel?” Mama Syifa langsung nembak.


Emran bergeming ...


Mama Syifa tersenyum sembari mengusap lengan putranya itu. “Aurelia wanita yang baik dan sangat keibuan sama Athallah, jika kamu memang menyukainya, sukailah dari hatimu bukan karena Aurelia begitu baik mengurus Athallah, jangan menyukainya atas dasar karena wanita itu bisa mengurus dan dekat dengan Athallah. Dia wanita yang punya trauma dalam rumah tangga, jika sekali lagi dia menemui pria yang memiliki maksud yang berbeda, hanya atas dasar membutuhkannya karena seorang anak. Mama bisa akan pastikan, Aurelia akan timbul antipati dengan seorang pria mana pun. Dan sama saja kamu memercikkan luka kembali untuk Aurelia,” tutur Mama Syifa.


Pria itu menundukkan kepalanya dan mencerna omongan Mama Syifa yang memang ada benarnya.


Mama Syifa kembali mengusap lembut lengan anaknya. “Aurelia masih berumur 18 tahun, dan kamu sudah berumur 32 tahun. Tanyakan pada hatimu jika ingin mendekati Aurelia? Benarkah karena kamu menyukainya tanpa embel-embel di belakangnya, dan juga jauh dari rasa kasihan. Karena yang dibutuhkan oleh Aurelia saat ini adalah kenyamanan, perhatian serta ketenangan untuk pemulihan jiwanya, bukan sosok pria baru pengganti suaminya. Aurelia butuh waktu untuk menerimanya.”


Emran menaikkan wajahnya. “Iya Mah, aku sangat paham, terima kasih atas masukkannya. Dan apakah Mama setuju jika aku dekat dengan Aurelia, atau lebih dari itu?”


Wanita tua itu tersenyum hangat. “Kamu sudah jatuh hatikah dengan Aurelia?” Pria itu menarik sudut bibirnya.


“Seperti yang Mama sampaikan tadi, tanya hatimu dan insyaAllah Mama pasti akan merestuinya, jika kamu benar-benar serius dengan Aurelia,” ucap Mama Syifa kembali.

__ADS_1


Emran pun langsung memeluk tubuh Mama Syifa dan mengecup ujung kepala wanita tua itu. Di hati pria itu ada kelegaan setelah mendengarnya, karena berbekal dulu saat berhubungan sama Soraya, Mama Syifa sempat tidak merestuinya.


Bersambung ...


__ADS_2