
Hari demi hari pun berlalu, seperti biasa Aurelia fokus mengurus Athallah, sementara Emran yang merasa pengasuh anaknya menjaga jarak dengannya tak bisa banyak menuntut, tapi pria itu bisa kembali mendekati wanita muda itu jika mereka bersama-sama menemui kedua orang tua Aurelia di hotel, entah untuk makan siang bersama atau makan malam.
Bu Ida dan Bapak Heri tampak menikmati liburannya di Jakarta, apalagi kedua adik Aurelia dijemput oleh orang suruhan Emran untuk bisa ikutan berlibur di Jakarta. Walau Emran dan Aurelia tidak bisa menemani Bu Ida dan Bapak Heri berserta adik-adiknya jalan-jalan, tetap ada suruhan Emran yang mengurusnya dengan penuh tanggung jawab.
Dhafi melalui hari-harinya penuh kehampaan, serpihan kenangan dia selama ini berusaha untuk mengingatnya kembali, namun sepertinya Sang Pencipta belum mengizinkannya. Hidupnya terasa tak ada gunanya, kakinya yang patah masih belum ada kemajuan menuju sembuh. Setiap hari pun dia lebih banyak berdiam diri di kamar yang pernah ditempati oleh Aurelia, hal itu dia sadari saat dia masih menemukan pakaian yang terlipat rapi di lemari.
Itulah kuasa Allah, Dia yang bisa membolak-balikkan perasaan seseorang, dulu Aurelia pun juga sama selalu menanti cinta dari suaminya, dan kini Dhafi baru merasakan kehilangan Aurelia, istri yang tak pernah dianggapnya.
Sekarang sudah seminggu berlalu, sesuai jadwal hari ini adalah pembacaan keputusan pengadilan agama atas gugatan Aurelia.
Kedua pasangan tersebut sudah duduk di hadapan meja para Hakim, dan kini tampak anggota Hakim sedang membacakan berita acara serta pasal-pasal yang terkait dengan pengajuan perceraian.
Tak bisa ditampik oleh Aurelia, ketika hatinya menginginkan perceraian, hatinya pula sangat bersedih. Rumah tangganya telah gagal, cinta pertamanya pun telah pupus, bayangan romansa dan hubungan harmonis yang pernah dia khayalkan bersama pria yang dia cintai sudah terhempas begitu saja dengan derita luka yang dia terima.
Aurelia menatap nanar ke hadapan Bu Hakim, sementara itu Dhafi yang semula menatap Bu Hakim kini dia tundukkan kepalanya dan mengusap buliran bening yang sempat keluar dari ujung ekor netranya.
“Dengan ini pengadilan agama memutuskan berdasarkan kajian dari bukti-bukti yang mendukung. Ibu Aurelia Almashyara bersama Bapak Dhafi Basim dinyatakan resmi bercerai secara hukum dan agama,” ucap Bu Hakim, diiringi suara ketukan palu sebanyak 3 kali menandakan resmi.
Aurelia dan Dhafi yang mendengarnya sama-sama menjatuhkan air matanya, tak disangka keputusan tersebut terdengar amat menyakitkan. Siang ini mereka berdua resmi menjadi mantan sepasang suami istri, dan sudah resmi tidak memiliki ikatan apapun.
Kedua keluarga yang hadir pun turut sedih, tapi apa yang mau dikatakan lagi, jika memang rumah tangga Dhafi dan Aurelia tidak bisa dipertahankan. Walau Dhafi berupaya ingin berubah dan mencoba lebih baik, tetap saja ada trauma yang sangat membekas di hati Aurelia. Mungkin ada hubungan yang bisa kembali memperbaiki dengan pasangannya, tapi ada juga yang tidak bisa dipaksakan.
Sidang sudah selesai, Aurelia dengan matanya yang basah bangkit dari duduknya, sementara itu Dhafi menggerakkan kursi rodanya untuk menghampiri mantan istrinya.
Pria itu terlihat tampak kurus, rahangnya pun dipenuhi dengan bulu-bulu halus yang tidak terawat.
__ADS_1
“Aurelia,” sapa Dhafi agak serak suaranya.
“Mas Dhafi,” balas sapa Aurelia.
Pria itu mendongakkan wajahnya agar bisa menatap lekat wajah cantik mantan istrinya, ingin rasanya dia meraih tangan wanita itu, tapi entah kenapa seperti ada tembok yang memisahkan mereka berdua.
“Sungguh bodoh sekali aku telah menyia-nyiakan dirimu, hingga akhirnya kita berpisah.” Tersirat penyesalan yang begitu mendalam di wajah Dhafi.
“Mungkin memang sudah suratan takdir rumah tangga kita seperti ini Mas Dhafi. Kita menikah karena dijodohkan bukan karena saling mencintai, seperti dirimu dengan Faiza. Aku yang selalu mengharapkan dicintai olehmu, namun siksaan yang aku dapati.”
Dhafi menundukkan kepalanya dengan rasa bersalahnya.
Aurelia menarik napasnya dalam-dalam. “Ah ... sepertinya kita tidak perlu membicarakan masa lalu itu, aku ingin melupakan semuanya. Semoga Mas Dhafi cepat sembuh, dan semoga kelak menemukan jodoh yang terbaik,” ucap Aurelia terkesan ingin mengakhiri pembicaraannya dengan mantan suaminya.
“Maafkan aku Aurel, saat ini aku memang belum mengingat perbuatan ku padamu. Tapi hatiku sangat menyesali atas perlakuanku padamu selama menjadi suamimu. Aku benar-benar minta maaf.”
Wanita muda itu pun menoleh wajahnya, dan melihat netra Dhafi sudah basah karena air matanya yang sudah luruh.
“Aku sudah memaafkanmu, Mas Dhafi. Dan semoga Mas tidak mengulangi perbuatan kasar serta perselingkuhannya jika sudah menikah lagi, ingatlah hal itu sangat menyakitkan perasaan wanita manapun. Masih untung Allah memberikan Mas Dhafi kesempatan hidup setelah ditimpa kecelakaan mobil itu, jadi masih ada kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri,” tutur Aurelia begitu lembut, hingga Dhafi tak mampu berkata-kata kembali.
Jujur saja Aurelia berusaha menguatkan hatinya ketika berucap dan menatap wajah sembab mantan suaminya, pria yang pernah membuat dia merasakan jatuh cinta.
“B-bolehkah a-aku memelukmu sebelum kita benar-benar berpisah dari ruang sidang ini,” pinta Dhafi agak bergetar.
Aurelia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa gejolak dihatinya untuk tidak pecah dalam tangisan. Mau bagaimanapun rasa yang sudah terkikis pernah hadir di relung jiwanya. Wanita itu tanpa menjawab, hanya mengangguk pelan menyetujui permintaan mantan suami. Biarlah ini menjadi pelukan pertama dan terakhir buat mereka berdua.
__ADS_1
Aurelia mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan Dhafi, pria itu pun merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluk mantan istrinya.
Tangisan Dhafi pun akhirnya terdengar jelas di telinga Aurelia. “M-maafkan aku yang telat mencintaimu, Aurelia. A-aku sangat menyesali semuanya,” ucap Dhafi dalam isak tangisnya.
Dalam pelukan Dhafi, Aurelia memejamkan netranya dan jatuhlah buliran bening dari ujung ekor netranya hingga membasahi bahu pria itu.
Cinta itu memang tidak pernah salah, hanya saja datangnya tidak bertepatan, dan jatuh di orang yang tidak tepat. Namun jika cinta itu tepat datangnya dan tepat juga orang yang menerimanya, mungkin akan ada bunga yang selalu bersemi di hati mereka.
Berakhir sudah kisah cinta pertama Aurelia, istri yang sangat mencintai suaminya, dan selalu berharap cintanya terbalaskan. Tapi rupanya takdir jodoh hanya bertahan selama 4 bulan. Dan untuk Dhafi yang selama ini mata dan hatinya tertutup karena hasutan istri keduanya, menerima karmanya. Doa istri yang tersakiti sangatlah mustajab.
Aurelia yang selalu berdoa agar cintanya terbalaskan oleh suaminya, ini pun terjadi namun di saat mereka resmi bercerai. Apa rasanya mencintai seseorang tapi tidak bisa kamu miliki? Pasti sedih dan sakit. Sama hal yang dirasakan oleh Aurelia, dia mencintai suaminya namun tidak bisa memiliki jiwa dan raganya.
Aurelia kembali melangkahkan kakinya, menatap ke depan dan tak menoleh ke belakang kembali. Yang lalu sudahlah berlalu dan sudah tutup ceritanya. Kini masa depanlah yang harus dia songsong.
Dari kejauhan ternyata Emran sudah menunggunya, dengan mengulurkan salah tangannya untuk menyambut kedatangan wanita yang membuat hatinya merana dan gelisah selama seminggu ini.
...----------------...
Kira-kira ceritanya masih mau lanjutkah? atau kita tamatkan sampai disini aja? Please tinggalkan komentarnya ya, maklumlah ini naskah sedekah buat di sini karena gagal retensi 😭
__ADS_1