Salahkah Aku Mencintaimu?

Salahkah Aku Mencintaimu?
Malam yang indah


__ADS_3

Kata cinta yang selalu Aurelia inginkan terucap dari bibir Dhafi, tidak pernah terucapkan hingga akhirnya mereka berpisah. Namun, kini dia mendengar kata cinta itu dari bibir pria lain yang bukan suaminya. Mungkinkah salah satu doanya terkabulkan jika dia ingin merasakan dicintai oleh seorang pria.


Pandangan Aurelia agak berkabut karena genangan air yang tiba-tiba saja muncul ke permukaan netranya. Sementara Emran menatap dirinya penuh kehangatan dan begitu dalam.  Tak bisa dipungkiri kata cinta yang diucapkan oleh Emran, membuat hatinya berdesir, hangat dan sedikit membuat dirinya melayang, tapi tak lama jantungnya kembali bertalu-talu sama seperti degup jantung Emran yang kini terasa di tangannya yang masih menyentuh dada pria dewasa itu.


Dikala belum ada jawaban dari Aurelia, tangan pria itu terangkat dan menyentuh pipi wanita itu dengan gerakan yang amat lembut namun bikin tubuh wanita muda itu meremang.


“Saya mencintaimu, Aurelia Almashyara. Bukalah hatimu untuk saya, dan izinkan saya mengobati luka di hatimu.” Sekali lagi Emran mengungkapkan perasaannya, dan kali ini berharap ada sebuah jawaban dari wanita itu.


Aurelia masih terdiam, namun masih setia menatap wajah pria dewasa tersebut, dan semakin lama wajah Erman begitu dekat dengan wajahnya, hingga mereka bisa saling merasakan hembusan hangat yang keluar dari napas mereka berdua.


Hidung mancung mereka pun mulai bersinggungan, dan seketika itu netra Aurelia berkedip jelas namun tak menarik dirinya dari peraduan Emran, hingga tibalah saat pria itu melabuhkan bibirnya ke bibir Aurelia.


Sejenak bibir Emran hanya menempel, namun setelah tak ada reaksi berlebihan dari Aurelia, barulah dia menekannya dengan lembut, wanita itu pun terhenyak dengan melebarkan kedua netranya lalu kemudian dia memejamkan netranya ketika Emran membasahi bibirnya, dan menerima sesapan lembut yang belum pernah dia rasakan selama ini.


“Inikah rasanya ciuman, Ya Allah maafkan aku, aku ciuman bukan dengan suamiku sendiri,” membatin Aurelia saat masih merasakan sentuhan Emran.


Inilah pengalaman Aurelia untuk pertama kalinya dicium oleh seorang pria, walau Emran sudah pernah menyentuh bibirnya dalam keadaan pingsan untuk memberikan napas buatan.


Emran bisa merasakan jika Aurelia tidak membalas ciumannya, dan terkesan belum pernah melakukannya, padahal sudah pernah menikah, ini membuat pria itu heran namun semakin jadi ingin menghalalkannya. Dia pun melepaskan pagutannya dengan masih menatap wajah wanita itu.


Aurelia membuka netranya saat merasakan bibir Emran tidak lagi menyentuh bibirnya, ada rasa malu saat dia membuka netranya karena melihat Emran menatapnya.


“Maaf, kalau saya lancang menciummu, kalau mau tampar saya silakan,” kata Emran, jaga-jaga kalau Aurelia ingin marah dengannya.


Aurelia menggeleng pelan, dan ingin sekali menyentuh bibirnya, tapi sudah terlebih dahulu jemari Emran mengusap bibirnya ranumnya yang basah.


“Apakah dia tidak pernah ciuman dengan Dhafi?” batin Emran jadi bertanya-tanya ke arah ke sana.


“Tu-Tuan ...”


Pria itu kembali mengernyitkan keningnya karena panggilan tersebut.

__ADS_1


“Ah ... maksudnya pak ... eh mas ... eh pak.” Aurelia jadi kebingungan sendiri mau panggil apa dengan pria dewasa itu.


Refleks salah satu tangan Emran terulur melingkar di balik punggung Aurelia, hingga tubuh wanita itu semakin dekat dengannya.


“Ayo mau panggil saya apa, kalau panggil Tuan lagi maka kamu akan saya peluk seperti ini, bagaimana?”


Ah, Aurelia jadi serba salah dibuatnya, kenapa pria itu semakin membuat jantung dia senam zumba kali ini, yang selalu dihentakan dengan segala hal yang terlalu intim dan hangat, serta jelas belum pernah dia dapatkan dari sang mantan suami ketika menikah.


Wajah Aurelia yang tampak malu itu dan canggung kembali menatap pria dewasa itu.


“Bolehkah saya panggil Mas saja, soalnya di tempat tinggal saya terbiasa panggil Mas untuk pria yang lebih dewasa, kalau panggil Kak rasanya agak aneh, walau saya tahu Tuan tidak pantas dipanggil Mas, soalnya wajahnya kayak orang bule,” kata Aurelia hati-hati.


Pria itu mengulas senyum tipisnya. “Asalkan jangan panggil Tuan atau Pak lagi, kecuali kamu memang ingin saya peluk seperti ini. Dengan senang hati pasti saya akan peluk kamu terus,” jawab Emran.


Aurelia hanya bisa membulatkan netranya, namun tubuhnya tidak memberontak dikala dalam duduknya dipeluk oleh Emran.


“Aurel, maukah kamu membuka hati untuk saya?” Suara bariton Emran terdengar lemah lembut pada wanita muda itu.


“Jujur saya masih trauma dengan sebuah ikatan, berhubungan dengan laki-laki,” lanjut kata Aurelia, suaranya mulai terdengar serak.


Emran mengangkat dagu wanita itu agar kembali menatapnya. “Bolehkah saya diberikan kesempatan untuk mengobati rasa trauma dan lukamu itu?”


“Bisakah Mas menyembuhkan luka dan trauma saya?” Balik bertanya Aurelia.


“Bukan hanya saya, tapi kita berdua yang sama-sama mengobati trauma itu. InsyaAllah semuanya akan kembali membaik, bukalah hatimu untuk saya, dan izinkan saya mencintaimu,” jawab Emran begitu lembut, namun terdengar sangat meyakinkan.


“Bagaimana jika saya belum bisa membalas mencintai Mas Emran? Mas Emran akan marahkah?” Tersirat ada kecemasan diucapan Aurelia.


Emran menarik tubuh wanita itu dan memeluknya dengan erat, dia bisa membaca isi hati wanita itu yang masih ada kecemasan.


“Jangan bertanya saya akan marah kah? Mencintai dan dicintai itu menyangkut hati masing-masing, jika memang tidak bisa mencintainya maka utarakanlah, jangan berspekulasi yang aneh-aneh. Cinta itu memang tidak bisa dipaksakan tapi bukan berarti harus marah jika tidak terbalaskan. Saya hanya bisa berdoa saja minta sama Allah agar calon istri saya ini kelak bisa membalas cinta saya, dan tidak pernah menduakan hatinya,” tutur Emran tanpa meninggikan suaranya.

__ADS_1


Begitu tertegun Aurelia mendengar jawab Emran, sungguh sangat menenangkan hati tanpa menuntut apa pun darinya.


Saat memeluk Aurelia, Emran mengecup ujung kepala Aurelia mengungkapkan kasih sayangnya. “Jika kamu belum bisa mencintai saya, biarlah saya yang mencintaimu, biarkanlah saya membahagiakanmu.”


Semakin hangat hati Aurelia, hingga tak sadar dia mengangkat tangannya dan merangkul pinggang pria dewasa itu.


“Inikah rasanya dicintai? Kenapa rasanya begitu nyaman dan hangat,” batin Aurelia.


“Mas Emran tidak malukah dekat dengan wanita seperti saya yang hanya lulusan SMK dan dari kampung?” kembali bertanya.


“Kenapa harus malu sayangku, cintaku. Kalau kamu mau melanjutkan pendidikan akan aku daftar segera ke universitas yang kamu inginkan, tapi nanti setelah kamu mau menjadi istriku.” Tiba-tiba saja panggilan Emran menjadi berubah.


Aurelia pun menarik dirinya dari pelukan Emran dengan tatapannya yang membeliak, dan dalam waktu bersamaan itu pula Pak Iman datang menghampiri Emran dengan membawa buket bunga mawar berwarna merah, setelah itu Pak Iman undur diri.


Pria dewasa itu lantas bangkit dari duduknya dan sedikit menggeser kursinya ke belakang, dan tiba-tiba saja dia berlutut pada wanita itu, hingga Aurelia terlonjak dalam duduknya. Tak lama pria itu mengeluarkan kotak berwarna merah pekat dari saku celananya.


“Aurelia mungkin aku bukan pria yang sempurna, aku seorang pria yang pernah gagal dalam berumah tangga. Tapi dengan hadirnya dirimu aku ingin menjadi pria yang sempurna untukmu, hanya untukmu seorang hingga akhir hayatku. Aku sejujurnya ingin berhubungan serius denganmu, dan ingin menikahimu setelah masa iddahmu berakhir. Aku ingin mencintaimu dalam hubungan yang halal, dan aku tidak pernah main-main dalam sebuah hubungan. Aku akan sabar menunggu kamu membalas cintaku, tapi maukah kamu menerima lamaranku malam ini,” tutur Emran sembari membuka kotak kecil tersebut hingga tampaklah cincin bermata berlian, sungguh amat cantik.


Aurelia membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya, hatinya berdesir melihat Emran melamarnya dengan keadaan yang begitu romantis walau mereka berada di mansion Emran.


Mereka berdua sempat hening sejenak dalam keadaan saling bersitatap, netra Aurelia mulai berkaca-kaca tak menyangka jika malam ini Emran melamarnya secara intim, dikiranya hanya mengobrol biasa saja.


“Bersediakah kelak menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku, Aurelia?”


Aurelia menarik tangannya dari bibirnya lalu mengusap matanya, kemudian berkata, “Cintailah aku, bahagiakan aku, dan ajari aku mencintaimu Mas Emran.”


Emran sangat terkejut, dan langsung bangkit dari berlututnya, kemudian memeluk Aurelia dengan eratnya.


“Masya Allah, alhamdulillah ... aku sangat mencintaimu, aku akan membahagiakanmu, sayangku, calon istriku ini,” balas Emran penuh kebahagiaan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2