
Apa rasanya jika ditatap oleh seorang pria yang memiliki paras tampan, tubuh tegap tinggi, auranya penuh kharisma, sudah bisa dipastikan hati yang tampak tenang mulai berdentum di dalam dada, walau belum ada perasaan apa pun.
Apa rasanya di saat hati yang penuh dengan luka menerima sentuhan yang sangat lembut dan hangat, ditambah lagi perhatian yang sederhana namun menghanyutkan, bisa di cek ke dalam sanubarimu, pasti ada rasa yang menggelitik namun mampu membuat hatimu terasa hangat dan nyaman dibalik luka yang belum sembuh itu.
Aurelia semakin canggung di malam yang dihiasi cahaya rembulan yang tampak bersahabat menambah suasana yang begitu romantis dan terasa hangat. Mereka sejenak mengunci tatapannya, tanpa berucap namun banyak makna dibalik sirat mata antara mereka berdua.
“Aurelia, maaf jika tadi saya lancang mengecup tanganmu, kalau kamu tidak suka, boleh marah pada saya,” ucap Emran.
Mau marah hanya karena tangannya di kecup oleh Emran, rasanya tidak mungkin akan dia lakukan, kecuali dilecehkan mungkin sejak tadi dia sudah melawan pada Emran. Aurelia hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya. Lalu ...
“Tuan Emran, bolehkan saya bertanya sesuatu? Sebenarnya tidak hanya satu pertanyaan, mungkin banyak sekali pertanyaan yang ingin saya ajukan.” Aurelia membuka suaranya namun terkesan sangat hati-hati.
“Boleh, tapi bisakah kamu tidak memanggil saya Tuan?”
Aurelia mengernyit heran mendengar permintaan Emran, jika dia tidak panggil Tuan lantas dia harus panggil apa?
“Baiklah, saya akan panggil Pak.”
Kin bergantian Emran yang mengernyitkan dahinya. “Loh kok jadi Pak?” Terdengar ada penolakan dari pria tersebut.
Semakin heranlah Aurelia. “Kalau panggil Tuan dan Pak tidak boleh, berarti harus panggil apa?”
Emran mencondongkan dirinya ke depan hingga tubuh bagian depannya bersentuhan dengan tepi meja.
__ADS_1
“Panggil Kak Emran, Mas Emran, Sayang, Hubby, atau Daddy juga boleh,” jawab Emran serius tapi santai.
Membeliaklah netra Aurelia setelah dapat jawaban Emran, dan lidahnya jadi keluh untuk merangkai kata sebagai jawabannya. Emran yang melihat wajah terkejut pujaan hatinya tersenyum hangat, tangannya pun terangkat dan menyentuh pipinya dengan lembut.
“Boleh tidak saya pinta kamu panggil hubby ... hem.” Suara yang penuh wibawa itu mendadak masuk ke relung hati Aurelia hingga dirinya pun tampak membeku dalam duduknya.
“Kok jadi diam, kalau belum bisa juga tidak pa-pa, saya hanya bercanda saja kok,” lanjut kata Emran, sebenarnya bukan bercanda tapi memang serius, namun menyadari dia tidak boleh memaksakan kehendaknya. Tangannya pun ditarik dari pipi Aurelia, lalu diraihnya cangkir yang sudah terisi dengan coffe latte untuknya, sedangkan untuk Aurelia dipesankan dibuatkan hot chocolate.
“Sambil diminum Aurel selagi hangat,” ajak Emran sembari menyesap minum miliknya. Ajakan yang mampu membuang rasa canggung yang meliputi diri Aurelia, dia pun segera menyesap minum miliknya sedikit demi sedikit, sama hal yang sedang dilakukan oleh Emran.
Setelah merasa dirinya mulai rileks setelah menyesap hot chocolatenya, Aurelia kembali mencoba menyusun kata pertanyaan.
“Sebenarnya saya tidak enak menanyakan ini Tuan ... eh Kak.” Aurelia langsung meralat.
“Hati saya sangat tidak enak atas sikap Kak Emran beberapa hari ini, apalagi untuk hari ini. Mengapa Kak Emran sangat baik pada saya dan keluarga saya, lalu kenapa jatuh hati dengan saya dan menginginkan saya? Saya merasa tidak pantas untuk Kak Emran.” Lepas sudah salah satu yang sejak tadi mengganjal perasaan Aurelia, dan gara-gara ucapan wanita muda itu Emran menggeser bangkunya ke samping Aurelia, dan hal itu membuat Aurelia terkesiap karena tak ada lagi jarak di antar mereka berdua.
“Apa yang membuatmu merasa tidak pantas untuk saya?” Emran bertanya tanpa mengalihkan tatapan dari Aurelia, dan justru mengunci tatapannya.
Bola mata Aurelia yang semula terdiam, sekarang bergerak ke kanan ke kiri ingin rasanya dia kembali menundukkan pandangannya karena tak sanggup melihat sorot mata Emran yang begitu dalam, tapi ada yang terjadi dia saat dia ingin menundukkan kepalanya, tangan Emran sudah terulur menyentuh dagunya agar tetap tegak lurus.
“Berulang kali sudah saya katakan, jangan menundukkan wajahmu jika kita sedang berbicara, apakah terlalu sulit buat kamu lakukan ... hem?” Entah ini sebuah pertanyaan atau sebuah permintaan dari Emran, namun hal itu membuat Aurelia menggigit bibir bawahnya menahan rasa malunya.
Jelas sekali Emran kembali menatap dalam wajahnya, hingga lagi-lagi Aurelia jadi serba salah.
__ADS_1
“Sa-saya tidak enak jika menatap wajah pria yang sangat saya hormati sebagai majikan, saya sangat sadar diri jika bukanlah wanita yang memiliki kelebihan yang luar biasa seperti wanita di luar sana. Apa pantas saya yang hanya wanita biasa-biasa saja disukai oleh pria seperti Kak Emran, yang sangat layak memiliki pendamping wanita yang hebat.” Di saat sudah berkata dia mengulas senyum getirnya pada pria tampan itu.
“Kenapa jatuh hati pada saya? Sedangkan di luar sana banyak yang mengagumi, menyukai Kak Emran, dan sangat pantas menjadi kekasih atau istri, ketimbang saya yang hanya seorang pengasuh tanpa mengenyam pendidikan tinggi,” lanjut Aurelia berkata.
Pria itu berusaha mendengarkan baik-baik semua ucapan Aurelia, setelah dirasa sudah selesai barulah dia menjawab.
“Jika ditanya kenapa saya jatuh hati denganmu, saya juga bingung Aurelia. Jika kamu bilang banyak wanita yang menyukai dan mengagumi saya di luar sana memang benar, lebih dari segala-galanya darimu, dan saya bisa memilihnya. Tapi entah kenapa hati saya selalu menginginkanmu, saya sudah berulang kali mencoba untuk mengabaikanmu, tapi justru hati saya selalu ingin tahu tentangmu, saya juga sudah berulang kali mengalihkan perasaan saya, tap justru semakin kuat untukmu. Kamu tahu ... dirimu selalu membuat saya bingung kenapa saya bisa jatuh cinta padamu,” tutur Emran sangat serius.
Aurelia menatap lekat wajah Emran terutama kedua netra kelamnya yang tampak jernih, namun terpancar sebuah kejujuran, itulah yang Aurelia rasakan saat Emran berbicara.
“Aurelia, apakah saya salah mencintai wanita yang hanya bekerja sebagai pengasuh anak? apakah saya salah mencintai wanita yang selama ini sangat cantik baik hatinya dan parasnya? Apakah salah jika saya mencintai wanita yang bukan dari sosial yang sama seperti saya?” Cecar Emran.
Hal ini membuat Aurelia jadi terhenyak. Lantas Emran mengerakkan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah pujaan hatinya.
“Apa jawabanmu?”
“Ti-tidak ada yang salah,” jawab Aurelia hampir tercekat dengan salivanya sendiri, karena posisi Emran begitu dekat dengannya, aroma maskulinnya pun sangat menyeruak di indra penciumannya, rasanya menggelitik dan memabukkan. Sementara Emran bisa mencium aroma bunga lily yang menyeruak dari tubuh wanita itu, parfum yang dia disediakan di kamar Aurelia, sungguh wangi yang lembut dan menggoda.
Emran meraih tangan Aurelia yang berpangku di atas meja, lalu meletakkannya di dada bidangnya, Aurelia terhenyak dan netranya turut menatap di mana tangannya berada.
“Cinta yang sesungguhnya tidak butuh alasan kenapa bisa jatuh cinta. Saya sangat mencintaimu, Aurelia Almashyara, bisakah kamu rasakan jika jantung saya berdegup dengan cepat. Inilah yang selalu saya rasakan jika selalu dekat denganmu, dan dia semakin kencang jika kamu mengacuhkan dan menjauhkan saya seperti seminggu yang lalu,” imbuh Emran berkata jujur.
Lidah Aurelia benar-benar dibuat keluh tak bisa berkata-kata, tangannya yang sudah menyentuh dada Emran untuk pertama kali ini merasakan degupan tersebut. Netranya pun akhirnya bergerak menatap netra Emran kembali.
__ADS_1
“Saya mencintaimu, Aurelia Almashyara.”
Bersambung ...