SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 34


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menemani Laura berbelanja, Juna hanya diam.  Karena setelah apa yang Juna bicarakan dengan Ina, Juna terus saja memikirkan semua yang Ina katakan dan itu jelas disadari betul oleh Laura yang berada di sisinya.


Melepaskan Zara, dulu pernah terpikirkan oleh Juna jika keadaan telah membaik dan jika Juna punya waktu yang tepat untuk membahas tentang Laura pada Zara. Namun yang terjadi sekarang justru berbeda dari apa yang pernah Juna rencanakan. Juna bahkan merasa takut jika Zara mengetahui semua hal tentang Laura, tanpa Juna ketahui jika Zara sudah mengetahui semuanya.


Membayangkan melepas Zara membuat hati Juna bergejolak. Juna akui mungkin Juna egois karena Juna menginginkan keduanya, tetapi itulah kenyataannya. Juna merasa sangat nyaman dan membutuhkan kehadiran Zara dalam hidupnya, tetapi Juna juga mencintai Laura dan menginginkan Laura.


"Apa sebenarnya yang pelayan itu bicarakan denganmu?" tanya Laura membahas hal yang sama yang coba Juna hindari sejak mereka masih berada di rumah.


"Tidak ada yang penting," jawab Juna datar.


"Juna. Aku tahu betul jika pelayan itu mengatakan hal-hal yang membebani pikiranmu. Apa dia membahas tentang wanita ****** itu?" tanya Laura lagi membuat Juna yang mendengar seketika menginjak pedal rem dengan sangat tiba-tiba hingga menyebabkan suara klakson bersahut-sahutan di belakang sana.

__ADS_1


"Juna! Kamu ingin membunuhku?" bentak Laura berteriak menatap kesal pada Juna.


Juna yang berhenti tiba-tiba sama sekali tidak memedulikan makian dari banyaknya pengendara lain yang melewatinya sembari memakinya. Tatapan Juna beralih menatap tajam pada Laura dan itu membuat Laura merasa takut sendiri setelah membentak Juna.


"Jangan berani mengatakan istriku ******!" ucap Juna dengan sangat dingin dan penuh penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Laura yang mendengar itu semua tertawa, rasa takut Laura menghilang, berganti dengan amarah yang memenuhi hatinya mendengar ucapan Juna.


"Yang kamu sebut wanita itu adalah istriku. Dia punya nama, namanya Zara. Zara Nugraha!" tegas Juna sama sekali tidak menghiraukan ucapan Laura. Juna bahkan mengganti nama belakang Zara menggunakan nama belakang keluarganya


Laura lagi-lagi tersenyum. Tersenyum sendu menatap Juna. "Kamu mencintainya?" tanyanya pelan.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membahasnya. Aku sudah menemanimu seharian belanja, sekarang aku lapar. Lebih baik kita cari restoran terdekat!" ucap Juna tak bisa menjawab pertanyaan Laura.


Laura hanya diam, tak lagi membalas ucapan Juna. Pikirannya mulai melayang memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan Zara, saat Laura merasa jika kehadiran Zara mulai menjadi ancaman untuknya.


‘Ingat. Kau harus mengalah. Jangan membantah Juna karena Juna tidak suka di bantah. Jangan membuat jarak antara kalian jika tidak ingin hubungan kalian berakhir. Jangan berikan kesempatan untuk wanita itu merebut posisimu. Jadilah wanita yang baik, karena itu yang Juna suka darimu sejak awal bertemu.’ Batin Laura memperingati dirinya sendiri.


Mobil yang dikemudikan oleh Juna masuk ke dalam parkiran salah satu restoran. Juna keluar lebih dulu, diikuti oleh Laura yang berusaha bersikap manja pada Juna seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada mereka. Juna yang melihat itu sama sekali tidak merespon, tidak melarang tetapi tidak juga menolak saat Laura bergelayut manja di lengannya.


Tanpa keduanya sadari, seseorang menatap sinis pada mereka. Seorang pria yang sedari tadi diam-diam mengikuti mereka. Melihat interaksi antara Juna dan Laura, membuat pria itu merasa geram. Tangannya yang memegang ponsel dengan cepat membuka kamera ponsel dan mengambil beberapa foto pasangan yang tengah menjadi perhatiannya tersebut.


"Kasihan Zara. Juna sama sekali tidak pantas mendapatkan Zara. Kenapa wanita baik seperti Zara harus menikah dengan pria bejat seperti Juna? Bagaimana jika Zara mengetahui semua ini? Bisa dipastikan hati Zara akan sangat hancur," gumam pria itu merasa geram, tetapi masih terus memperhatikan Juna dan Laura yang sudah berada di dalam restoran dengan sikap mesra yang terus Laura ciptakan.

__ADS_1


__ADS_2