
Dua minggu telah berlalu, sejak percintaan pertama yang telah mereka lalui, kini sepasang suami istri yang telah lama menikah itu seperti seorang pengantin baru. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di kamar, hanya berjalan-jalan atau bermain sebentar. Benar-benar tak ada waktu untuk bersantai, bahkan untuk berpakaian sekalipun.
"Apa semuanya sudah siap, Mas?" tanya Zara, menatap Juna yang sedang membereskan barang-barang mereka ke dalam koper.
Hari ini adalah jadwal kepulangan mereka. Zara masih ingin terus berada di sini, selain pemandangan Bali yang indah, dia masih ingin terus-terusan berdekatan dengan suaminya. Sayangnya dia tidak bisa, karena dua hari yang lalu kakaknya mengabari jika akan ada pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun sang papa, dan semua anggota keluarga wajib berkumpul.
"Sebentar lagi, kopernya membengkak karena barang-barang yang kamu beli, sehingga sedikit sulit untuk diatur," jawab Juna tanpa menatap ke arah istrinya. Lelaki itu duduk di lantai dengan banyak barang yang masih berserakan di sekitar.
Zara yang melihat itu tak tahan untuk tidak tertawa. Akhirnya, setelah dia selesai bersiap, dia menghampiri suaminya. "Sudah, sana mandi dulu. Biar aku yang melanjutkan ini," pintanya lembut.
"Terima kasih, Sayang." Juna dengan cepat bangun, mengecup istrinya sekilas sebelum berlari ke kembar mandi. Lelaki itu terlihat begitu lega dengan penderitaan yang dia lalui bermenit-menit laku hanya untuk membereskan barang-barang.
Embusan napas panjang keluar dari bibir Zara. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. "Pantas saja membengkak dan tidak akan cukup, kamu aja ngaturnya salah, Mas," gumamnya dengan lirih.
Hampir setengah jam, akhirnya Juna telah selesai. Begitu dia keluar dari kamar mandi, ternyata istrinya itu tinggal merapikan sekoper lagi. Melihat itu membuat Juna merasa tercengang, tak menyangka jika istrinya itu akan menyelesaikan semuanya dalam waktu yang cepat.
'Benar yang dikatakan mama, jika lelaki tak boleh meremehkan wanita,' gumam Juna dalam hati mengingat-ingat lagi ucapan sang ibu.
"Mau makan dulu, Sayang?" tanya Juna ketika melihat Zara telah selesai. Dia sambil memasukkan pakaian-pakaian kotor di tas khusus yang ada di atas ranjang.
"Mas, ini sudah jam tiga. Setengah jam lagi pesawat kita berangkat. Jika kita terus mengulur waktu yang ada kita akan telat, dan sampai Jakarta malam. Kamu mau kita ketinggalan menghadiri pesta ulang tahun papa?" keluh Zara menatap suaminya cemberut.
"Baiklah, baiklah ... kamu benar. Ayo!" ajak Juna kemudian. Setelah menyelesaikan semuanya, lelaki itu akhirnya keluar dari resort. Dia menyewa seorang pelayan untuk membawa koper-koper miliknya dan mobil untuk mengantarkan mereka ke bandara.
Untungnya resort mereka sangat dekat dengan Bandara. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, akhirnya mereka sampai. Juna dan Zara sama-sama langsung masuk, dan menunggu pesawat mereka landing sambil mengatur barang-barang mereka untuk diletakkan di bagasi pesawat.
Kedua insan itu selalu bergandeng tangan selama perlawanan. Juna sama sekali tak melepaskan Zara, dan terlihat bahagia. Tak henti-hentinya dia menggoda Zara dan mengucapkan terima kasih atas dua minggu yang sangat terkesan ini.
__ADS_1
Begitu sampai di Jakarta, mereka langsung pulang ke rumah orang tua Zara. Mereka bahkan belum berganti pakaian dan tak sempat untuk mampir ke rumah memulangkan barang-barang pribadi mereka.
Ternyata benar yang dikatakan Zara, jika mereka akan tepat. Saat sampai, bisa mereka lihat jika seluruh keluarga telah berkumpul. Tak hanya keluarga Zara, keluarga Juna pun diundang.
"Yang habis bulan madu, wajahnya cerah sekali!" tutur Camila menyambut anak dan menantunya.
"Ma," keluh Zara malu-malu.
"Pastikan kalian bekerja keras, agar kamu segera mempunyai cucu," kata Candra menimpali.
Juna dan Zara menjadi bulan-bulanan semua orang karena habis pulang berlibur. Bahkan si kembar tak henti-hentinya menggoda adiknya mereka.
Zara benar-benar merasa malu. Dia hanya bisa terus tersenyum menerima semua sindiran tersebut. Sedangkan Juna malah tampak menikmati dengan senang.
Acara santai itu berlangsung. Mereka hanya berdelapan. Duduk di meja bundar besar yang menyatukan mereka semua. Banyak hidangan yang tersaji, dan tak lupa kue ulang tahun yang sangat menawan.
"Zara terburu-buru kembali sehingga belum sempat membelikan hadiah untuk Papa. Apa yang Papa inginkan, biar Zara memberikannya besok," imbuhnya bertanya.
Emirhan tersenyum, mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Papa tidak ingin apa-apa darimu, Nak. Papa hanya ingin melihat kerukunan dan keharmonisan rumah tanggamu saja, dan tak ada sesuatu yang menjadi pengganggu lagi."
Mata Zara berkaca-kaca mendengar hal tersebut. Dia merasa haru dan langsung memeluk ayahnya lagi. "Terima kasih, Pa. Terima kasih."
Mereka terus berpelukan sampai beberapa saat. Hingga sebuah deheman membuat mereka sadar. Zara terkekeh menyadari suaminya ada di sampingnya sejak tadi menunggu giliran untuk mengucapkan sesuatu pada ayahnya. Akhirnya dia mundur, dan membiarkan Juna untuk mendekat.
Dua lelaki berbeda usia itu tampak canggung sama lain. Saling menatap dengan aneh sebelum akhirnya sama-sama tersenyum.
Juna memberikan pelukan, sambil berkata, "Selamat ulang tahun, Papa mertua."
__ADS_1
"Terima kasih, Juna. Jaga terus putriku, jangan sampai aku melihatmu menyakitinya lagi." Emirhan berucap dengan sedikit ancaman.
Hal ini membuat Juna terkekeh. Baru saja dia akan meneruskan ucapannya, teleponnya berdering dengan nyaring. Dia segera mengambilnya, dan dahinya berkerut dalam melihat panggilan dari nomor baru.
"Siapa, Mas?" tanya Zara yang melihat sikap aneh sang suami.
"Tidak tahu, aku akan mengangkatnya dulu," kata Juna segera menyingkir dari sana diikuti oleh Zara.
Lelaki itu menjauh dari ruang makan, dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo, ini siapa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Apakah benar ini tuan Arjuna?" tanya seseorang dari seberang.
"Ya, dengan siapa saya berbicara?" tanya Juna balik, sambil mengerutkan dahi dalam.
"Ini dari pihak rumah sakit, pasien bernama Laura tengah dirawat di sini karena melakukan percobaan bunuh diri. Di teleponnya hanya ada kontak Anda yang bisa dihubungi."
Wajah Juna langsung kaku mendengar hak tersebut, tanpa sadar rahangnya mengeras. "Anda salah orang, Pak. Saya tidak mengenal Laura. Dia tidak ada urusannya dengan saya!" jawab Juna ketus menggeram.
Zara yang sejak tadi ada di sebelah Juna, tampak syok mendengar nama Laura di sebut. Tanpa sadar tubuhnya menegang.
"Maaf, Tuan Arjuna. Tapi Anda harus datang ke sini, pasien mengatakan Anda suaminya. Kondisi pasien sangat buruk, dia terlihat depresi. Jika Anda tidak segera datang, saya takut pasien akan mencoba bunuh diri lagi. Saat ini pasien sedang hamil."
Bagai petir yang menyambar, tubuh Juna kaku mendengar penjelasan orang yang menelponnya. Tubuhnya gemetar dengan pandangan kosong. Lelaki itu tampak tak bisa bernapas dengan normal, tubuhnya bahkan lemas dan terjatuh begitu saja di lantai.
"Tidak ... tidak mungkin!" lirih Juna frustasi dengan mata yang sudah berair.
"Mas Juna, Mas, ada apa?" Zara yang melihat itu menjadi panik, terlebih saat sang suami tak bisa diajak berbicara. "Siapapun, tolong aku!" Akhirnya dia hanya bisa berteriak untuk meminta bantuan.
__ADS_1