
Zayan yang tengah berkumpul bersama kedua orang tua dan anggota keluarga yang lain, terpaksa harus pergi sejenak saat seseorang meneleponnya.
"Siapa?" tanya Renata pada putranya.
"Teman, Ma. Aku jawab dulu," ucap Zayan melangkah menjauh dari sana. Zayan mencari tempat sepi saat Zayan yakin jika orang yang meneleponnya akan membicarakan hal yang penting.
"Halo, bagaimana?" tanya Zayan langsung setelah menelepon balik nomor orang yang meneleponnya.
"Sepertinya tuan Juna mempunyai wanita lain. Seharian ini saya mengikuti tuan Juna. Dia keluar dari rumah bersama seorang wanita yang terus saja bergelayut manja padanya. Mereka juga terlihat sangat mesra. Tuan Juna menemani wanita itu berbelanja, setelah itu makan di sebuah restoran," ucap pria yang menjadi suruhan Zayan, melaporkan semua hal yang di lihatnya.
Zayan yang mendengar itu mengepalkan erat kedua tangannya. Meski belum melihat secara langsung, tetapi penjelasan dari orang suruhannya sudah sangat meyakinkan jika Juna benar-benar memiliki wanita lain. Juna tidak memiliki saudara perempuan, jadi jelas wanita yang di maksud bukanlah saudaranya.
Teman? Sekalipun hanya teman, Juna tidak seharusnya bermesraan dengan wanita lain di saat statusnya adalah suami dari Zara.
"Apa kau punya buktinya?" tanya Zayan mencoba memastikan untuk menguatkan semua yang telah didengarnya.
"Saya mengambil beberapa gambar untuk anda. Saya akan mengirimkannya saat ini juga," ucap pria itu.
"Baiklah, kirimkan sekarang. Awasi terus gerak-gerik mereka dan selalu kabari aku," ucap Zayan memutuskan panggilan.
Zayan dengan cepat membuka beberapa foto dan sebuah video yang dikirimkan oleh anak buahnya. Darah Zayan seakan mendidih setelah melihat semua foto dan video tersebut. Sekarang Zayan mengetahui alasan Zara terlihat bersedih sekalipun Zara mencoba menutupinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus menutupi kebejatan suamimu, Za? Kakak tidak akan membiarkan kamu disakiti seperti ini," geram Zayan menyimpan kembali ponselnya.
Zayan kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Zavier. Sebelum menemui Zara, Zayan ingin menceritakan semua itu terlebih dahulu pada kembarannya. Mereka berdua akan mengambil keputusan bersama atas apa yang tengah menimpa adik kesayangan mereka.
"Apa kamu melihat Zavier?" tanya Zayan pada salah satu kerabatnya.
"Sepertinya Zavier pergi ke arah sana! Mungkin melihat kolam ikan," jawab orang yang di tanya oleh Zayan.
Setelah berbicara sedikit pada orang itu, Zayan kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari Zavier di tempat yang di tunjuk oleh orang tersebut.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" seru Zayan saat melihat Zavier tengah duduk melamun di pinggir kolam ikan.
"Juna punya wanita lain di luar sana dan Zara menyimpan rasa sakitnya sendiri selama ini. Bajingan itu menyakiti putri Emirhan," ucap Zavier terdengar jelas kemarahannya.
"Kau sudah tahu tentang itu?" tanya Zayan terkejut dan pertanyaannya juga membuat Zavier terkejut.
"Kau juga tahu?" tanya Zavier balik pada Zayan yang menganggukkan kepala menanggapinya.
Zayan mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto dan video yang ada di ponselnya. "Dasar bajingan!" umpat Zavier marah setelah melihat semua itu.
"Aku ingin Zara dan Juna berpisah. Aku tidak akan rela adikku disakiti oleh Juna atau siapapun itu," ucap Zayan menggebu.
__ADS_1
Menyadari Zavier yang tidak merespon, Zayan kembali menatap heran padanya. "Ada apa?" tanyanya lagi.
"Zara meminta kita untuk tidak ikut campur dalam pernikahannya. Zara sangat mencintai Juna," jawab Zavier pelan membuat Zayan terdiam lemas mendengarnya.
"Bagaimana aku bisa diam saja setelah mengetahui semua ini? Bagaimana aku bisa hidup tenang jika seseorang menyakiti adikku? Aku tidak bisa," ucapnya beberapa saat kemudian.
"Kau pikir aku bisa? Tidak, Zayan. Aku bahkan mengetahui lebih banyak dari apa yang kau ketahui," ujar Zavier pelan, tersirat kesedihan mendalam dari suara dan sorot matanya.
"Juna bahkan tidak pernah menyentuh Zara. Dia selalu pulang larut malam. Setiap hari dia menyakiti Zara dengan sikapnya tanpa dia sadari jika Zara mengetahui semua kelakuannya di luar sana. Bisa aku bayangkan bagaimana Zara menangis setiap hari karena Juna. Itu terasa sangat mencekikku, aku bahkan sulit untuk bernafas membayangkannya," ucap Zavier lagi saat Zayan hanya diam siap untuk mendengar penjelasannya.
Zayan yang mendengar itu semua tidak bisa tenang, Zayan bangkit berdiri, bergegas pergi dari sana diikuti oleh Zavier yang merasa khawatir akan apa yang akan dilakukan oleh saudara kembarnya.
Tujuan Zayan adalah kamar yang mereka tempati di sana, sebab Zayan yakin Zara berada di dalam kamar. Baru saja pintu akan dibuka, Zayan ataupun Zavier semakin merasa sesak saat melihat adik kesayangan mereka tengah menunaikan solat dengan begitu khusyu'.
"Ya Allah ya Tuhanku. Engkau pasti lebih tahu apa yang aku rasakan saat ini. Rasanya begitu sakit bertahan dalam keadaan seperti ini, tetapi Engkau juga pasti tahu betapa aku mencintai suamiku. Aku mohon, kembalikan dia ke jalan yang benar. Tambuhkanlah rasa cinta dihatinya untukku. Aku sangat mencintainya. Namun, jika rasa cinta diantara mereka berdua lebih besar dari rasa yang aku punya, maka bantu aku untuk mengikhlaskan semua ini. Berikanlah aku petunjuk atas apa yang harus aku lakukan, aku mohon...," ucap Zara dalam doa yang dipanjatkannya di sela isak tangisnya.
Zara melepaskan tangisnya dan mengadu pada sang pencipta tanpa Zara sadari jika Zayan dan Zavier berada di sana mendengar dan memperhatikannya. Keduanya yang tidak sanggup berada lebih lama di sana, memutuskan untuk pergi, menutup kembali pintu kamar dengan sangat hati-hati agar Zara tidak menyadari keberadaan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan untuk Zara?" tanya Zayan setelah mereka berada di luar rumah.
"Kita bicarakan di tempat lain. Aku punya rencana." Zavier melangkah lebih dulu di ikuti oleh Zayan yang siap mendengar rencananya.
__ADS_1