
Juna tidak menyia-nyiakan waktu. Meskipun tubuhnya masih sangat sakit dan wajahnya masih membiru lebam bekas pukulan, dia tidak peduli. Yang dia inginkan saat ini hanyalah bertemu Zara untuk meminta maaf, karena dia yakin jika permasalahannya dengan Laura telah kelar.
Malam itu juga, Juna bersiap. Lelaki itu mendatangi rumah ibunya untuk meminta bantuan.
"Astaga, Juna. Ada apa denganmu, siapa yang melakukan hal ini?" tanya Camila panik melihat keadaan sang anak.
Juna menghindar, saat tangan ibunya ingin menyentuh wajahnya. "Jauhkan tanganmu, Mama," katanya dengan kesal.
Mengingat kelakuan kakak-kakak Zara yang melakukan hal ini membuat Juna merasa jengkel. Tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sadar jika dirinya yang salah di sini.
"Apa itu sudah diobati?" tanya Camila lagi, mengekor sang anak yang mulai masuk ke rumah.
"Sudah, Ina sudah membantuku merawat lukanya tadi," jawab Juna seenaknya. "Di mana Papa?"
"Papamu ada di ruang kerja. Ada apa, Juna? Kenapa kamu mencari ayahmu, apa ada masalah serius yang terjadi?" Camila terus-terusan memberondong Juna dengan berbagai pertanyaan, untuk pelampiasan rasa penasarannya.
"Ya, dan aku butuh kalian berdua. Ayo, Ma!" ajak Juna menarik tangan ibunya, dan mengajaknya naik ke atas menuju ruangan sang ayah.
__ADS_1
Sepanjang jalan Camila tampak mengomel, terus-terusan mendesak Juna tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, Juna bersikap acuh dan enggan untuk menjawab. Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di ruangan kerja Candra. Tanpa mengetuk, Juna langsung masuk begitu saja bersama sang ibu.
"Apa kamu tidak punya sopan santun untuk--" Candra ingin marah, karena ruang kerjanya dimasuki orang begitu saja. Tapi melihat siapa yang ada di depannya membuatnya terkejut. Apalagi dengan wajah sang anak. Dia dengan cepat berdiri dengan panik. "Juna, apa yang terjadi?" tanyanya melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti tadi.
Juna mendesah kasar, dia melepaskan ibunya dan berjalan ke sofa. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya kasar duduk di sofa. Lalu memejamkan matanya sekilas.
"Juna!" Candra kali ini berbicara tegas, seolah meminta jawaban pasti tanpa basa-basi.
Hal ini membuat Juna akhirnya berkata, "Ini karena ulahku, Pa. Kakak kembar Zara yang melakukan ini padaku. Tapi jangan marah pada mereka. Karena bagiku mereka melakukan tindakan yang benar untuk melampiaskan rasa sakit mereka karena aku menyakiti adik mereka."
"Tapi dia terlihat baik-baik saja, Camila," sahut Candra ikut menyela. Entah kenapa dia malah tersenyum merasa bangga dengan sikap sang anak yang menerima pukulan tersebut.
"Astaga, aku benar-benar bisa gila!" desah Camila akhirnya menyerah untuk membahas kondisi Juna. Akhirnya dia bertanya, "Jadi, apa yang membawamu ke sini? Kamu mengatakan membutuhkan bantuan kita. Apa itu, Juna?"
Candra yang mendengar itu ikut penasaran. Dahinya sampai berkerut dalam menatap sang anak.
"Aku sudah memutuskan apa yang terbaik untuk hidupku. Aku memilih Zara dan melepaskan Laura," ucap Juna kemudian memulai pembicaraan.
__ADS_1
Meskipun Camila sudah mendengar hal ini dari Ina. Tapi tetap saja dia merasa senang karena Juna mengatakan hal ini padanya sendiri. Dia tersenyum puas, dan langsung menarik tangan Juna dalam genggaman. "Oh, Juna. Aku senang mendengarnya. Kamu tidak main-main, kan? Oh Tuhan, aku sangat bahagia mendengarnya."
"Aku tidak main-main, Ma. Aku serius untuk melepaskan Laura. Sayangnya, aku mempunyai masalah sekarang. Aku ingin meminta bantuan kalian untuk ikut bersamaku datang ke rumah Zara, kalian harus menjadi saksi saat si kembar bertanya perihal Laura. Katakan pada mereka jika urusanku bersama Laura memang benar-benar telah selesai, Ma." Juna menatap sang ibu penuh permohonan.
"Tentu saja. Mama dan papa pasti akan membantumu jika kamu memang memilih Zara. Kalau begitu, ayo kita lakukan? Bagaimana jika sekarang? Lebih cepat lebih baik!" kata Camila dengan antusias. Dia tampak lebih bersemangat daripada Juna. Karena dia sangat tidak sabar untuk membawa Zara ke dalam pelukan keluarganya lagi.
Candra tampak setuju, dan Juna akhirnya mengikuti saran ibunya. Malam itu juga, mereka bertiga akhirnya pergi ke rumah Zara.
Sepanjang jalan, Juna terlihat gelisah dan begitu diam. Lelaki itu seolah sedang mempersiapkan hatinya, dan menyusun kata-kata untuk meminta maaf setulusnya pada Zara. Dia terlihat tegang, dan tak percaya diri sekarang. Dia takut, jika Zara akan menolaknya. Untungnya, ibunya selalu meyakinkannya jika Zara pasti akan menerimanya. Hal ini membuatnya mempunyai harapan yang besar.
Hampir satu jam, mereka akhirnya sampai. Camila begitu bersemangat dan tak sabar untuk bertemu menantunya kembali. Sayangnya, dia harus menelan kekecewaan saat penjaga gerbang tak mengizinkan mereka masuk.
"Apa kamu satpam baru? Apa kalian tidak mengenal kita? Kita ini besan keluarga Emirhan, kenapa kamu menahan kami di gerbang, hah?" teriak Camila dengan marah. Dia sampai ditekankan oleh suaminya.
"Maaf, Bu. Tapi ini adalah pesan dari tuan Emirhan sendiri, jika keluarga kalian sudah tidak diterima lagi di sini. Kalian tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki lagi di rumah ini."
Baik Camila, Candra dan juga Juna syok mendengar kabar itu. Mereka tak menyangka jika keluarga Zara akan menolak kunjungan mereka.
__ADS_1