SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 74


__ADS_3

Teng... Teng... Teng...


Suara besi yang dipukul itu membuat Juna yang terdiam melamun langsung menoleh. Wajahnya tampak datar dan tak terlihat ekspresi apapun saat seorang sipir membuka pintu jeruji besi untuknya.


"Ada yang menjengukmu!" kata sipir itu dengan ketus.


Dengan cepat Juna beranjak, dalam hatinya dia selalu berharap jika yang dayang itu adalah Zara. Dia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan diucapkan pada wanita itu. Sebuah permohonan maaf, sebuah ungkapan penyesalan yang begitu mendalam, dan sebuah permintaan agar dia mengampuni. Meskipun Juna harus bersujud sekalipun, Juna akan melakukannya jika memang Zara yang muncul di hadapannya.


Lelaki itu antusias, saat dibawa ke sebuah ruang tunggu. Jantung berdebar kencang, berharap-harap dalam hatinya jika yang datang itu adalah wanita yang dicintainya.


Sayangnya, harapan Juna pupus saat bukan melihat Zara, melainkan ibunya. Juna tetap memaksakan senyum, untuk menyambut wanita yang telah melahirkannya itu meskipun dengan terpaksa.


"Oh, Juna Sayang ... bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Camila cemas, langsung berdiri dan memeluk anaknya dengan erat.


"Jangan khawatir, Ma. Aku baik-baik saja," jawab Juna santai, dengan wajahnya yang datar. Lelaki itu benar-benar pintar memainkan emosi saat ini sehingga tak ada apapun yang dapat dibaca dari sorot katanya.


Camila merasa prihatin mendengar hal tersebut. Dia mengusap pipi anaknya lembut sebelum menggiringnya untuk duduk. "Maafkan Mama. Mama belum menemukan cara untuk membebaskanmu dari sini. Jaksa umum menuntutmu atas kasus percobaan pembunuhan dan kamu langsung menjadi tersangka karena banyak saksi yang melihat kejadian malam itu," kata Camila lirih terlihat tertekan.


Juna yang mendengar itu menghela napas panjang. "Itu memang salahku, aku tak bisa mengendalikan emosiku dengan semua masalah yang terjadi. Aku siap dihukum asalkan Laura dan bayinya bisa menjauh dari kehidupan rumah tanggaku. Zara pasti bisa menantiku sampai aku bisa bebas dari penjara." Lelaki itu berbicara penuh percaya diri, meskipun pandangannya kosong saat menatap ke arah depan.


Hal ini membuat Camila memejamkan mata, dia menahan napasnya selama beberapa saat yang membuat tubuhnya menjadi tegang.


'Kenapa kamu bisa setega ini, Juna? Kamu bahkan tidak takut dengan dirimu sendiri setelah berusaha membunuh sesering!' lirih Camila dalam hati tertekan.

__ADS_1


'Sepertinya Laura memang membuat keputusan yang tepat,' imbuh Camila, yang kini mengingat lagi pertemuannya dengan Laura kemarin lusa malam.


Saat itu, Camila memberikan penawaran untuk Laura. Jika Laura membantunya membebaskan Juna, maka dia bersedia untuk merawat bayinya. Sayangnya, niatan itu ditolak mentah-mentah oleh Laura.


Laura berkata tak ada hal yang bisa diharapkan dari sosok Juna. Laura terang-terangan membenci Juna, dan menginginkan Juna dipenjara karena telah berusaha membunuhnya. Tak ada lagi kepercayaan pada Juna, bahkan setitik kecil rasa cinta Laura pada Juna pun sudah menghilang. Dia terlalu kecewa pada Juna. Jika saja lelaki itu tak bisa menerimanya, setidaknya tetap biarkan dia hidup untuk merawat anaknya.


Camila sudah berusaha membujuk Laura, tapi Laura bersikeras tak mau membantunya. Bahkan Candra yang ikut mendesak pun, lagi-lagi ditolak meskipun dengan iming-iming banyak uang. Laura berkata, dia sudah cukup mempunyai bekal dari peninggalan Juna kala itu.


"Kenapa, Juna ... kenapa kamu bertindak nekat seperti ini?" Mata Camila berkaca-kaca, dia menatap anaknya dengan nanar. Sosok yang dia lahirkan ke dunia, bocah yang dia susui dan dia timang setiap malam itu sangat berubah total. Dia bahkan hampir tidak mengenali anaknya lagi. Juna benar-benar telah berubah, dan Camila baru sadar jika hal ini bukan ulah Laura, melainkan dari diri Juna sendiri.


Juna tak mau menjawab, hanya mengalihkan pandang tak mau menatap sang ibu. Wajahnya terlihat datar, entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Camila menarik napasnya dalam-dalam, berusaha mengisi paru-parunya yang hampir kosong karena menangis. Wanita itu menenangkan diri, dengan mata yang terpejam sekilas.


"Juna, apa kamu mau menikahi Laura jika kamu bisa bebas saat ini juga? Dia mengandung anakmu dan--"


Camila tersenyum miris, menggelengkan kepala pelan menatap sang anak tidak percaya. "Baiklah jika itu maumu."


"Ma, Mama mau ke mana?" tanya Juna panik saat melihat sang ibu berdiri. Dia cepat-cepat menyusul, dengan tangan yang masih terborgol itu, Juna menggenggam tangan sang ibu erat.


"Mama mau pulang, tak ada lagi yang bisa diharapkan darimu," jawab Camila sedikit ketus.


"Tunggu dulu, Ma. Bisakah aku meminjam telepon Mama, aku ingin menghubungi Zara, Ma," pinta Juna mendesak, menatap ibunya dengan wajah yang memelas.

__ADS_1


Camila yang melihat itu hanya terkekeh pelan. "Zara tidak bisa dihubungi, aku bahkan tidak bisa menemuinya."


"Di mana dia, Ma?" tanya Juna cemas memikirkan sang istri.


"Mama tidak tahu." Camila melepaskan paksa tangan Juna dengan pelan. Lalu tanpa menatap Juna, dia pergi begitu saja keluar dari ruang pertemuan tersebut.


Tangis Camila pecah begitu dia keluar dari kantor polisi. Wanita itu merasa dadanya sakit, hatinya perih menyadari anaknya yang kini menjadi seorang yang sangat kejam.


"Sayang .... ada apa?" Candra yang ternyata menunggu di mobil, dibuat panik melihat sang istri tampak menangis sesegukan. Dia segera menghampiri dan memeluknya dengan lembut.


"Hiks, Papa." Camila menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Dia membalas pelukan itu erat, terus menangis untuk meluapkan kesedihannya.


Mungkin hampir sepuluh menit, mereka terdiam dengan posisi yang sama. Camila masih menangis, dan Candra dengan senantiasa menunggu sambil mengusap kepala pelan.


Sampai suara embusan napas kasar keluar dari bibir Camila, saat wanita paruh baya itu melepaskan pelukan. Dia terlihat mengusap pipinya kasar, yang kini terasa lengket karena air mata.


"Sudah merasa tenang?" tanya Candra perhatian.


Camila mengangguk pelan, dan memaksakan senyum tipis.


"Jadi, apa yang kamu bicarakan dengan Juna di dalam? Sudah memikirkan solusinya?" tanya Candra lagi, sambil mengangkat kedua alisnya.


"Ya, Pa." Camila mengangguk mantap. Dengan sorot mata penuh keseriusan, dia berkata, "Cabut semua pengacara yang kamu tugaskan untuk membebaskan Juna. Biarkan dia di penjara. Biarkan dia menyesal dengan perbuatannya. Dia bukan lagi Arjuna yang kukenal."

__ADS_1


Tentu saja hal ini membuat Candra syok. Dia tak menyangka jika sang istri malah menginginkan agar Juna di penjara saja. Padahal, dua hari yang lalu wanita itu kelabakan bingung untuk mencari segala cara agar Juna terbebas.


"Biarkan dia menanggung resikonya, dan merenungi segala perbuatannya," imbuh Camila dengan wajah datar, tanpa menampilkan emosi apapun.


__ADS_2