
"Beraninya kamu melakukan ini pada putriku!" Emirhan menggeram, mencengkram baju Juna sampai lelaki itu terangkat sedikit. Wajahnya begitu merah padam penuh marah, dan napasnya sangat memburu.
"Pa--"
"Jangan panggil aku Papa dengan mulut kotormu itu!" teriak Emirhan menyela ucapan Juna, dan kembali melayangkan pukulan.
Zara histeris, ingin menghentikan ayahnya. Tapi dengan cepat Zayyan memeluk erat dan tak melepaskan dirinya. Dia hanya bisa menangis histeris karenanya.
"Kamu benar-benar sialan, Juna. Padahal aku sudah sangat percaya padamu. Tapi kamu melakukan kesalahan besar dengan menyakiti Zara. Kamu pikir kamu siapa, hah!" bentak Emirhan kembali marah.
Kali ini Juna tak berani menjawab. Dia membiarkan ayah Zara berteriak padanya, bahkan terus memukulinya. Meskipun rasanya sangat sakit, apalagi dengan luka yang diberi Zayyan kemarin, tapi Juna tak peduli lagi. Dia mengaku salah, dia merasa pantas mendapatkan hal ini.
Kejadian itu terus berlanjut, sampai akhirnya Emirhan merasa lelah sendiri. Lelaki yang tak lagi muda itu tampak bernapas kepayahan setelah melampiaskan kemarahannya pada menantunya. Lelaki itu mulai mundur, dan melepaskan Juna.
Begitupula dengan Zayyan. Dia membiarkan adiknya mendekati Juna dan tak lagi melarangnya.
Zara menangis, dia membantu Juna untuk bangun. Dia merasa sedih melihat wajah Juna berdarah, dan lelaki itu tampak kesakitan.
"Apa yang Papa lakukan?" teriak Zara marah, bercampur isak tangis.
__ADS_1
Juna dengan cepat menggenggam tangan Zara, dan menggeleng pelan saat wanita itu menatapnya. "Sudah, Zara. Aku baik-baik saja"
"Tapi lukamu--"
"Aku pantas mendapatkannya," sahut Juna menyela ucapan istrinya itu. Dengan tubuh tertatih, dia mengumpulkan semua tenaganya yang tersisa untuk bangun.
Juna melepaskan genggaman tangan Zara, dan langsung menghampiri mertuanya. Dia menelan harga dirinya untuk berlutut fi depan ayah Zara itu.
"Maafkan aku, Pa. Maafkan aku karena telah mengecewakan kalian semua. Aku mengakui diriku salah dan begitu bodoh. Aku siap menerima semua hukuman darimu, tapi tolong jangan bawa Zara pergi dariku. Aku baru sadar jika aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangan Zara lagi. Aku janji akan membahagiakannya," tutur Juna panjang lebar memohon.
"Kamu juga pernah menyucikan janji sebelumnya!" decak Emirhan dengan ketus, masih tak mau melihat ke arah Juna.
"Pa, tolong. Zara masih mencintai mas Juna." Kali ini, Zara bahkan ikut-ikutan untuk memohon pada sang ayah.
Hal ini membuat Emirhan memejamkan mata begitu frustasi. Dia ingin anaknya pisah dengan lelaki bajingan itu. Tapi entah kenapa saat melihat Zara seperti ini, dia merasa tidak tega. Hatinya menjadi sakit melihat anaknya menangis dan memohon padanya.
"Zara," panggil Emirhan kemudian setelah lama terdiam. Dia menatap putrinya dengan lekat. "Kamu tidak ingin memikirkannya lagi, Nak? Dia benar-benar bukan lelaki baik."
Hati Juna bagai diremas mendengar mertuanya menyebut dirinya seperti itu. Tapi dia hanya bisa diam, dan menerima semuanya.
__ADS_1
"Pa, tolong biarkan Zara yang membuat keputusan. Biarkan Zara yang memilih. Zara hanya ingin dukungan dari Papa saja. Selebihnya, biarkan Zara yang menanggung semuanya." Zara menjawab dengan memelas.
Emirhan mendesah kadar mendengarnya, lalu menatap Juna dengan tajam. "Kamu dengar itu, Juna? Bahkan setelah kamu menyakitinya berkali-kali, dia masih tetap memilih bertahan padamu. Betapa brengseknya kamu!" ketus Emirhan.
"Maafkan aku, Pa. Tolong beri aku kesempatan lagi untuk bersama Zara aku mohon," jawab Juna, kali ini bahkan mencium kaki ayah Zara sebagai permintaan maafnya.
"Kesalahanmu sangat membebaniku, Juna. Bagaimana bisa aku percaya padamu lagi? Bagaikan kertas dikepal, bentuknya tak akan seperti semula lagi." Emirhan mengungkapkan kesedihan hatinya yang begitu dalam.
Tiga orang lain yang ada di ruangan itu ikut sedih mendengarnya. Ibu Zara masih menangis, dipeluk oleh Zavier, dan Zayyan sendiri terdiam seribu bahasa tanpa tahu hal apa yang bisa dia katakan.
Di tengah suasana kalut tersebut, tiba-tiba dua orang datang dari arah pintu. Emirhan hanya berwajah datar, ketika melihat orang tua Juna ternyata sudah tiba di sini.
"Juna!" teriak Camila sedih, melihat anaknya memohon sambil berlutut di kaki orang lain. Dia segera menghampiri dan memeluk anaknya untuk berdiri.
Tapi Juna bersikeras, dia bahkan mendorong pelan ibunya. "Biarkan Juna seperti ini, Ma. Juna tidak akan pernah berdiri sebelum papa Zara akan--"
"Bangunlah, Juna. Aku sudah muak melihatnya!" sahut Emirhan menyela dengan tidak senang. Lelaki paruh baya itu mengembuskan napas panjang sebelum berkata, "Aku menerima permintaan maafmu, dan semua keputusan ada pada Zara."
Sontak, semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Mereka tak bisa menyembunyikan kekagetannya, karena sikap murah hati Emirhan kali ini. Mereka semua tahu bagaimana tersiksanya Emirhan dengan masalah rumah tangga anaknya, dan mereka tak menyangka jika Emirhan akan memaafkan hal tersebut begitu saja
__ADS_1