
Zara terdiam di dalam kamar disaat semua orang tengah berkumpul di luar sana. Rasa sedih lagi-lagi menyelimuti Zara memikirkan Juna. Zara sangat merindukan Juna, tetapi pria itu sama sekali tidak berpikir untuk menghubunginya.
Meninggalkan ponselnya sengaja Zara lakukan untuk melihat sejauh mana kehadiran Zara berarti untuk Juna, tetapi lagi-lagi Zara harus merasa kecewa saat ternyata kehadirannya sama sekali tidak penting untuk Juna. Jika Juna merindukannya, Juna pasti akan berusaha mencari cara untuk menghubunginya. Tetapi semua itu tidak terjadi dan harusnya Zara sadar akan hal itu.
"Kenapa kamu lagi-lagi mengharapkan hal yang jelas kamu ketahui jawabannya, Za? Mas Juna hanya menginginkan Laura, dia sama sekali tidak menganggapmu sebagai istrinya. Dia mencintai wanita itu, bukan kamu," ucap Zara menyeka air matanya yang mengalir keluar meskipun Zara telah mencoba menahan diri agar tidak menangis.
Zara duduk di lantai, bersandar di ranjang dengan kedua lutut terlipat, menyembunyikan wajahnya yang tengah menangis pada kedua lututnya. Zara yang tengah menangis lupa jika dia belum mengunci pintu kamar, sehingga Zavier yang sudah berdiri di depan pintu dapat melihat dan mendengar tangis Zara.
Sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, Zavier merasa begitu sakit melihat adik kesayangannya menangis. Zavier dengan cepat mengunci pintu kamar dan itu membuat Zara yang mendengar langsung mengangkat kepalanya menatap ke arah pintu dan begitu terkejut melihat kehadiran Zavier di sana.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan menutupi semuanya, Za!" ucap Zavier dengan sangat tegas sembari menghampiri Zara.
__ADS_1
Mata cantik itu semakin berkaca-kaca melihat Zavier. Zara tidak bisa lagi menutupi semuanya. Air mata Zara semakin deras mengalir bersamaan dengan Zara yang menghambur masuk ke dalam pelukan Zavier.
"Kakak.... Rasanya sangat sakit," ucap Zara terisak menangis dalam pelukan Zavier.
Rasa cemas, perih, dan sesak di dadanya semakin Zavier rasakan saat mendengar tangis serta ucapan Zara. Zavier mengusap lembut kepala Zara, memberikan kecupan sayang di kepala Zara yang masih saja menangis dalam pelukannya.
"Ceritakan pada Kakak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zavier pelan berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya bergejolak serta amarah menguasainya memikirkan orang yang telah berani menyakiti Zara.
"Menangislah jika itu dapat membuatmu lega! Namun, setelah itu kamu harus menjelaskan semuanya pada Kakak. Katakan semuanya tanpa ada satu pun yang perlu di tutupi," ucap Zavier yang ditanggapi Zara dengan anggukkan kepala.
‘Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku, mas Juna. Aku tidak bisa lagi menanggung semua ini sendiri. Aku butuh tempat untuk bercerita selain kepada Tuhan. Aku tidak bisa menghadapi semua ini sendiri. Maafkan aku....’
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, setelah di rasa Zara sudah mulai sedikit tenang, Zavier melanggarkan pelukannya, mengusap lembut wajah sembab Zara.
"Ingat apa yang pernah Kakak dan Zayan katakan? Apa pun yang terjadi, kamu akan selalu menjadi tanggung jawab kami. Kebahagiaanmu adalah yang terpenting untuk kami. Jika kamu bersedih, itu akan menjadi luka untuk kami, Za. Jadi tolong jangan menyakiti kami dengan menyakiti dirimu seperti ini," ucap Zavier membuat Zara kembali menangis memeluknya.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku karena sudah berpikir menghadapi semuanya sendiri. Aku pikir aku sanggup, tetapi nyatanya aku tidak bisa tanpa kalian. Aku tidak pernah bisa, maafkan aku karena sudah membuat kalian bersedih," ucap Zara.
Zara sadar, menutupi atau pun mengungkapkan semuanya tetap saja akan menyakiti dan membuat sedih keluarganya. Namun, semua sudah terlanjur, Zavier dan Zayan tidak akan dengan mudah untuk di bohongi. Zara membutuhkan saudaranya seperti saudaranya yang akan selalu ada untuknya.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Zavier lagi dengan sangat lembut mengusap punggung Zara.
"Dia punya wanita lain, Kak. Dia mencintai wanita lain," jawab Zara membuat Zavier yang mendengar memejamkan matanya mencoba meredam amarah yang sangat menggebu di hatinya.
__ADS_1
‘Aku akan menghancurkanmu, Arjuna.’ Batinnya.