
Tengah malam itu juga, Juna pergi ke Rumah Sakit Permata. Lelaki itu tampak berwajah geram, raut wajahnya bahkan terang-terangan menunjukkan emosi. Dia benar-benar tidak terima dengan ulah Laura yang kini menghancurkan hidupnya.
"Pasien ada di ruangan Dandelion, kamar nomor tujuh," ucap seorang perawat ketika Juna menanyakan keberadaan Laura.
Juna langsung bergegas naik ke ruangan yang dimaksud. Lelaki itu benar-benar tidak menyia-nyiakan waktu dan ingin segera mengakhiri semua ini.
Begitu sampai di ruang rawat yang dimaksud, Juna menemukan Laura tengah berbaring dengan mata yang terpejam. Dahi Juna berkerut dalam melihat lilitan perban di pergelangan tangan wanita itu. Menyadari jika Laura benar-benar melakukan percobaan bunuh diri, entah kenapa malah membuat Juna tertawa dan bukannya bersimpati.
Lelaki itu sengaja menutup pintu dengan kasar, untuk menandakan kedatangannya. Usahanya berhasil, karena perlahan Laura mengerjap. Wanita itu tersenyum ke arahnya dengan senyum tipis dan wajah yang begitu pucat.
"Juna, kamu datang," lirih Laura dengan suara seraknya.
Juna tersenyum miring, mendekati Laura dengan tangan bertolak pinggang. "Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Laura? Kenapa mengusik kehidupanku lagi?" tanyanya ketus.
Laura menangis. "Aku bersumpah ini bukan rencanaku, Juna. Aku pun baru mengetahui jika aku hamil. Sayang sekali saat aku mencoba mati, masih ada yang menyelamatkanku," jawabnya terkekeh miris.
"Kalau begitu, kenapa tidak mencoba lagi? Kamu mempunyai kesempatan karena di sini tidak ada orang lain!" usul Juna, mengangkat sebelah alisnya dengan sikap yang begitu sombong. Dia benar-benar melupakan, jika dulunya wanita itu sangat dicintai sebelum dirinya cinta pada sang istri.
__ADS_1
"Juna, jika kamu tidak peduli denganku, setidaknya pedulilah dengan anakmu. Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup, seharusnya kamu berterima kasih karena anakmu masih selamat," isak Laura menatap Juna dengan sedih.
Namun, Juna malah terkekeh. Lelaki itu menggelengkan kepala dan menatap Laura dengan jijik. "Benarkah saat kamu mengatakan jika itu anakku? Bagaimana jika itu anak lelaki lain? Bukankah dulunya kamu seorang ******?"
Gigi Laura bergemeletuk mendengar hal tersebut. Dia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk terbangun. Wanita itu mengusap pipinya kasar yang bekas air mata. Berusaha bersikap berani dan baik-baik saja bahkan setelah Juna menghinanya dengan kejam.
"Meskipun aku dulunya seorang ****** sekalipun, tapi saat bersamamu aku tidak pernah berselingkuh, Juna. Hanya kamu satu-satunya lelaki di hidupku yang aku pertahankan terlepas bagaimana masa laluku!" cetus Laura menggeram. Dia tidak tahan lagi dengan sikap Juna. Dia benar-benar tak lagi mengenal lelaki itu.
Mungkin Laura masih marah atas apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Dia berniat untuk balas dendam dan menghancurkan segalanya. Tapi dia sadar, dia tidak punya koneksi lagi. Sejak diusir dari rumah Juna, Laura mencoba menerima dirinya sendiri dan berusaha melepaskan Juna karena mau bagaimanapun dia tidak bisa mengharapkan lelaki itu lagi.
Namun, takdir berkata lain. Dia hamil, dan dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia sudah berusaha memberitahu Juna, datang ke rumah Juna, bahkan ke rumah orang tua Juna, tapi hasilnya sia-sia karena dia selalu diusir. Mereka benar-benar memblokir segala hal yang berkaitan tentangnya.
Dia diselamatkan, dan akhirnya hidup kembali. Seorang suster selalu mendesaknya untuk tahu tentang walinya, yang mau tak mau akhirnya Laura memberikan nomor Juna. Laura tak berharap lebih, dia hanya ingin anaknya diakui. Tak apa jika Juna tak menikahinya, lagipula dia sendiri pun sudah tak bisa mengharapkan lelaki itu.
Bayi yang dititipkan di kandungannya, benar-benar membuat pandangan hidup Laura berubah. Tapi sayang, Juna bahkan menghancurkan setitik kecil harapan bagi hidupnya.
Wanita itu menangis, melihat bagaimana tatapan hina yang dilayangkan Juna. "Jika kamu tidak menginginkannya, pergilah. Mungkin aku bisa merawatnya sendiri."
__ADS_1
"Pergi?" beo Juna terkekeh sinis. "Bahkan saat aku pergi sekalipun, masalahku tidak akan selesai begitu saja. Kamu wanita sialan, Laura. Jika memang berniat hidup sendiri, untuk apa mengabarkan hal ini padaku? Apa kamu tidak tahu jika gara-gara kabar kehamilanmu membuat rumah tanggaku di ujung tanduk?" Lelaki itu berteriak marah, napasnya memburu dengan mata yang melotot.
"Aku tidak bisa membiarkanmu hidup!" Dia kalap, Juna yang emosi yang tak menemukan jalan buntu dari masalahnya membuatnya nekat.
Lelaki itu mendekati Laura tergesa, dengan tatapan yang tajam, Juna mengulurkan tangan untuk mencekik Laura. Hati Juna benar-benar telah tertutup, dan tak lagi mempunyai belas kasih.
Laura sendiri terkejut dengan ulah Juna. Wanita itu merasakan sakit di bagian dada akibat tak bisa mengambil napas. Cekikan Juna benar-benar membuat lehernya sakit, sampai-sampai tubuhnya hanya bisa mengejang tanpa arah. Laura berusaha menahan tangan Juna, sayangnya tenaganya yang lemah tak berarti apa-apa.
"Mati saja kamu, Laura! Dengan begitu kamu tidak bisa lagi mengganggu hidupku! Kamu tidak pantas untuk muncul di hadapanku lagi. Pergilah ke neraka sekarang juga!" Juna menggeram, tak peduli bahkan wajah Laura memerah dan mata Laura mulai mendelik, dia tetap mencekik wanita itu dengan cengkraman yang kuat.
Dihadapkan di situasi seperti ini membuat Laura sadar jika dirinya masih ingin hidup lebih lama. Apalagi untuk merawat bayinya. Wanita itu tidak ingin menyerah, masih berjuang untuk melakukan sesuatu. Sampai akhirnya, tangannya bisa merangkak untuk menggapai ke dinding bagian samping ranjangnya. Laura memencet tombol untuk memanggil suster secara berkali-kali.
Tepat saat napas Laura mulai habis dan nyawanya hampir melayang, pintu ruangan terbuka dengan sedikit kasar. Dua suster masuk ke dalam, dan langsung panik melihat apa yang terjadi. Praktis mereka langsung berteriak dan memanggil bantuan.
Kegaduhan itu langsung membuat para perawat bergegas datang. Melihat Juna berusaha mencekik pasien, mereka kompak untuk menarik Juna dan berusaha melepaskan cekikan tersebut.
Laura terbatuk ketika tangan Juna mulai terlepas dari lehernya. Wanita itu meraup udara sebanyak-banyaknya untuk bernapas. Tubuhnya terasa lemas, dan dia hampir pingsan. Seorang suster langsung mendekat dan membantunya.
__ADS_1
Sedangkan Juna, dia tampak berontak saat tubuhnya ditarik paksa menjauh. Lelaki itu meraung, meminta dilepaskan. Tatapannya masih tajam menatap Laura yang masih hidup. Bahkan saat banyak orang yang mengetahui tindakannya, Juna masih saja berambisi untuk membunuh Laura.
"Lepaskan aku, sialan! Aku harus melenyapkannya agar dia tak bisa lagi mengganggu rumah tanggaku. Lepaskan aku!" Juna terus berteriak histeris, bahkan saat dirinya mulai dibawa pergi oleh pihak keamanan.