SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 54


__ADS_3

"Benar-benar hari yang melelahkan," desah Zayyan, merebahkan tubuhnya kasar di sofa dengan embusan napas yang panjang. Lelaki itu menyandarkan kepalanya dengan mata yang terpejam sekilas.


"Kamu terlalu berlebihan, Zayyan. Kita masih bisa mengancamnya, tapi tidak dengan kekerasan. Kamu--"


"Sudahlah, Zavier. Aku tahu jika kamu juga sangat ingin menghajarnya, bukan? Santai saja, aku sudah mewakili perasaanmu. Lagipula, anggap saja ini balasan untuknya karena menyakiti adik kita," tutur Zayyan menyela ucapan kembarannya yang ingin menyudutkannya. Dia mulai terkekeh, saat Zavier mendesah kasar.


"Akan kuambilkan kotak obat, tanganmu berdarah," kaya Zavier kemudian berdiri.


Lelaki itu menuju ruang santai, di mana kotak obat selama ini tersimpan. Tepat ketika dia berbalik dan ingin kembali ke Zayyan, dia dikejutkan dengan kehadiran Zara di depannya.


"Zara."


"Kak Zavier? Apa yang kamu lakukan di rumah? Bukankah kamu tadi pergi ke kantor?" tanya Zara balik, dengan heran melihat keberadaan kakaknya.


"Em, anu ... itu." Zavier sendiri tampak bingung menjelaskan, dia terlihat kikuk sampai-sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Itu apa? Kenapa bawa perlengkapan p3k, memangnya siapa yang terluka?" tanya Zara kembali karena kakaknya tak kunjung menjawab.


"Ikut saja, ayo!" desah Zavier menarik tangan Zara tiba-tiba. Dia tidak ingin pusing kepala karena adiknya itu. Dia membawa Zara ke tempat Zayyan saat ini.


Hal yang sama, Zara lakukan saat melihat Zayyan ada di rumah. Dia begitu heran, tetapi kali ini disertai keterkejutan karena melihat kakaknya itu terluka.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu, Kak?" tanya Zara cemas menghampiri Zayyan. Dia menyahut kotak obat yang dipegang Zavier, dan membukanya cepat-cepat untuk memberikan antiseptik dan salep luka untuk sang kakak.


Zayyan tak langsung menjawab, dia malah melirik ke arah Zavier seolah sedang memberikan kode. Sampai akhirnya saudara kembarnya itu mengangguk barulah dia berkata, "Aku baru saja bertengkar dengan Juna."


"Lebih tepatnya, memukuli karena Juna tak membalas," sahut Zavier membenarkan.


Mata Zara langsung melotot mendengar hal tersebut. "Bagaimana bisa? Apa yang kalian lakukan? Kenapa dengan Juna?"


Embusan napas panjang keluar dari bibir Zayyan. "Kamu, bukannya menanyakan kondisi kakak malah tanya soal Juna," keluhnya dengan kesal.


Zara hanya melirik dengan kesal sebagai jawaban. "Ceritakan, Kak!" pintanya pada Zavier.


"Kami datang ke rumah Juna pagi tadi. Kami ingin memastikan tentang ucapanmu tentang Juna yang katanya mama mertuanya sedang menyesal," kata Zavier kemudian memulai.


"Tapi apa kamu tahu, Zara? Aku masih melihat Laura di sana. Juna masih belum menyelesaikan urusannya dengan wanita ular itu. Bagaimana bisa kami tidak marah? Aku langsung menghajarnya tadi!" sahut Zayyan ikut-ikutan menyela, dengan suara yang menggebu penuh ambisi.


Zara syok mendengarnya, ada sedikit perasaan kecewa yang membaur dalam hatinya mendengar jika Laura masih berada di rumah Juna. Dia terdiam, dengan pandangan kosong.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu dengannya, Zara. Tapi tidak bisakah kamu hilangkan saja Juna dalam hidupmu? Lelaki itu benar-benar tidak baik," kata Zayyan lagi.


"Aku ... aku mencintainya, Kak. Jika melupakan semudah itu, aku sudah pasti menyerah," lirih Zara menjawab dengan suara sedikit gemetar.

__ADS_1


Zayyan akan kembali menjawab, ketika dia ditatap tajam oleh Zavier. Hal ini membuat mendesah, dan mengacak rambutnya kasar lalu kembali terdiam.


"Zara." Lalu, kali ini Zavier yang berbicara. Lelaki itu memegangi pundak Zara penuh kasih sayang. "Kami sudah berbicara padanya, dia menyatakan penyesalannya dan ingin bersamamu. Kami sebenarnya berat, tapi kamu mengizinkannya untuk menemui asalkan urusannya bersama Laura kelar. Aku tidak ingin saat Juna datang padamu, dia masih membawa masalah dengan Laura."


"Kamu terlalu baik hati, Zavier. Seharusnya lelaki seperti itu tidak usah diberikan kesempatan lagi!" sela Zayyan menyahut.


Dihadapkan dengan perdebatan kakak-kakaknya membuat Zara menjadi bingung. Kepalanya terasa berat memikirkan masalah yang terjadi saat ini. Tak ingin melihat kakak kembarnya bertengkar karena dirinya, Zara kemudian berkata, "Terima kasih karena kalian sangat memperhatikanku, Kak."


"Tapi, ini tetap masalah rumah tanggaku, Kak. Aku masih mencintainya terlepas selama ini dia menyelingkuhiku, tidur dengan wanita itu bahkan belum menyentuhku. Aku akui mungkin aku wanita paling bodoh yang ada. Tapi aku ha–"


"Apa kamu bilang!"


Zara belum menyelesaikan ucapannya, ketika suara dingin menyahut dari arah samping. Saat melihat siapa yang datang, mata Zara melebar penuh keterkejutan. Reflek dia berdiri dengan takut. "Papa," sapanya dengan lirih.


"Ulangi lagi apa yang kamu katakan tadi, Zara. Apa Papa tidak salah dengar? Bukan hanya dugaan selingkuh? Tapi juga sering tidur bersama?" tanya ayah Zara lagi dengan suara dinginnya, menatap anak perempuan satu-satunya itu dengan tajam. Sebelumnya mereka sudah cukup syok saat tahu jika Juna selingkuh, tapi mengingat ucapan Zara jika Juna memperlakukannya dengan baik serta Zara sangat mencintai Juna, membuat kedua orang tua Juna mencoba untuk bersabar, tapi mendengar jika Juna sudah tidur dengan wanita itu bahkan yang lebih buruk lagi tidak pernah menyentuh Zara, semua itu bukan hanya pengkhianatan tapi juga penghinaan bagi mereka.


"Semua yang Papa dengar benar? Apa lagi yang kalian tutupi? Katakan semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi!" Nada bicara Emirhan terdengar begitu menakutkan, sebab sosok pria paruh baya yang selalu terlihat tampan dan beribawa itu hampir tidak pernah terlihat marah. Sekarang untuk pertama kalinya mereka melihat ayah mereka marah dan itu jelas menakutkan bagi mereka.


"Pa…"


"Katakan semuanya!"

__ADS_1


__ADS_2