SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 48


__ADS_3

Laura terbelalak tak percaya mendengar ucapan Juna, napasnya memburu penuh amarah lalu segera bangun dan mengejar Juna kembali.


"Juna, apa maksudmu, hah? Siapa yang kamu mjnta pergi!" teriak Laura bertanya sambil mengguncang tubuh Juna.


Tapi Juna yang kelewat kecewa mengabaikan wanita itu. Dia terus berjalan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Juna membiarkan Laura berteriak marah bahkan memakinya. Sesampainya di kamar, Juna lagi-lagi mendorong Laura menjauh lalu membanting pintu kamarnya kasar dan tak lupa menguncinya.


"Juna ... aku belum selesai bicara. Buka pintunya, Arjuna!" Laura menggedor pintunya dengan kasar. Berkali-kali dan terus berteriak meminta penjelasan sikap Juna malam ini.


Namun, hampir sepuluh menit berlalu Laura tak mendapat jawaban apapun. Kini bahkan tangannya terasa panas akibat ulahnya sendiri.


"Sialan!" makinya kemudian, pada akhirnya dia menendang pintu kamar Juna.


Wanita bernama Laura itu mendesah kasar, sambil memegangi keningnya karena kepalanya terasa pusing. Sekali lagi dia melihat ke arah pintu kamar dengan nanar. Merasa jika Juna dalam kondisi buruk dan tak akan menjelaskan apapun, membuat Laura menyerah malam ini.


Dia memutuskan untuk turun berdiam diri di kamarnya. Laura berpikir untuk beristirahat, tapi pikirannya terlalu gelisah yang membuat matanya tak kunjung terpejam.


"Ada apa sebenarnya dengan Juna? Tidak mungkin dia marah hanya karena aku tiba-tiba di rumahnya," gumam Laura.


Pagi harinya, Juna terbangun dengan kepalanya yang terasa pusing. Lelaki itu mendesah kesakitan saat berusaha untuk bangun. Sekelebat bayangan kejadian semalam membuatnya menghela napas panjang dengan frustasi.

__ADS_1


Andai saja dia bisa melewati hari ini? Gumam Juna dalam hati.


Lelaki itu bangun, membersihkan dirinya sebentar sebelum memutuskan untuk turun. Perutnya terasa sangat lapar karena semalaman tidak makan. Ditambah alkohol yang dia konsumsi semalam masih terasa panas di perutnya.


"Juna."


Juna terdiam saat melihat Laura ternyata ada di ruang makan. Wanita itu menghampirinya dengan wajah tak senang, yang dibalasnya dengan tatapan datar.


"Kamu sudah baikan?" tanya Laura penuh perhatian.


Hanya anggukan kecil yang diberikan Juna sebagai jawaban. Dia berusaha mengabaikan wanita itu, dan terus berjalan sampai ke meja makan. Tanpa memperdulikan Laura, dia mulai makan roti bakar yang telah disiapkan oleh Ina.


"Sudahkah kamu ingat yang terjadi padamu, Juna? Jika iya, bisakah kamu jelaskan semuanya?" tanya Laura terdengar mendesak.


"Harus sekarang! Aku tidak bisa tenang sebelum kamu menjelaskan siapa yang kamu usir semalam! Kamu mengusirku?" paksa Laura sampai memegang bahu Juna dan mengguncangnya kecil.


Hal ini membuat Arjuna merasa tidak senang. Spontan dia menoleh dan menatap Laura tajam. 'Itu adalah kamu.' Ingin sekali Juna meneriakkan kata-kata itu di hadapan Laura. Tapi entah mengapa dia merasa tidak tega.


Lelaki itu akhirnya membuang wajah, dan kembali melanjutkan sarapannya. Mendengar Laura terus mendesaknya, dia akhirnya berkata, "Aku hanya terlalu mabuk semalam."

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Laura kembali memastikan.


"Ya." Dan Arjuna menjawab dengan serius.


Perlahan, senyum Laura kembali merekah. Dia menarik tangan Juna dan menggenggamnya lembut. Tapi dia terkejut saat Juna menarik tangannya menjauh. Meskipun begitu, Laura tak mempermasalahkan. Baginya, ada hal yang lebih penting untuk sekarang.


"Bagaimana dengan kelanjutan hubungan kita, Juna. Kapan kamu akan menikahiku? Kamu sudah berbicara dengan orang tuamu, kan?" tanya Laura tiba-tiba. "Aku tidak sabar menunggumu berpisah dengan Zara. Tak bisakah kamu menikahiku secara siri lebih dulu?" tanya Laura.


"Aku tidak akan berpisah dengan Zara, Laura. Lagipula, aku akan memilih Zara dan melepaskanmu," jawab Juna dengan tegas mengatakannya.


Tubuh Laura mendadak menegang, dan tatapannya berubah menjadi tajam. "Juna!" panggilnya sedikit membentak. "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal tersebut? Apa maksudmu?"


"Aku tidak main-main, Laura. Itulah keputusanku sekarang. Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku dan mengakhiri hubungan terlarang kita." Kali ini, Juna berkata sambil menatap ke arah Laura dengan lekat. Dia terlihat serius, seolah ucapannya bukanlah sebuah candaan belaka.


"Bagaimana bisa?" tanya Laura tak percaya dan terkekeh pelan menyembunyikan ketakutannya. "Hubungan kita jauh lebih lama daripada hubunganmu dengan Zara. Aku yang mengenalmu lebih dulu, Juna. Bukan wanita itu. Aku yang memilikimu pertama kali!" imbuhnya, yang kini dengan suara sedikit lantang. Terlihat jelas sekali Laura sangat marah.


"Tapi aku tidak suka dengan kebohongan! Aku tidak suka dibohongi terlebih dari orang yang sangat aku percaya," balas Juna yang ikut meninggikan suara. Kali ini, dia dengan berani membentak Laura.


"Apa maksudmu?" Laura bertanya bingung, sampai dahinya berkerut dalam.

__ADS_1


Juna tak langsung menjawab, tapi menoleh lebih dulu untuk menatap Laura dengan lekat. Raut wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi sama sekali saat dia bertanya, "Aku ingin kamu jujur, Laura. Aku akan memaafkanmu jika kamu memberitahuku tentang apa yang kamu sembunyikan selama ini. Ceritakan padaku tentang masa lalumu dan jangan ada yang kamu tutupi lagi."


Mendengar itu tubuh Laura langsung menegang. Matanya bergerak tak beraturan dan tak berani membalas tatapan Juna. Wanita itu tampak gugup dan gemetar.


__ADS_2