SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 42


__ADS_3

Hari ini menjadi hari H pernikahan saudara sepupu Zara. Zara yang saat ini tengah berada di depan cermin menatap penampilannya yang terlihat sangat cantik.


Wajah yang terlihat begitu cantik serta senyuman yang begitu manis itu dapat membuat siapa pun menjadi sangat tenang melihatnya.


Mata yang selalu dapat membuat siapa pun terpanah melihatnya itu justru terlihat sendu. Kesedihan menyelimuti mata cantik itu.


Harapan Zara selalu saja musnah karena Juna. Meski Zara sadar jika Juna tidak akan datang dan lebih memilihnya dibandingkan Laura. Namun, Zara masih saja berharap jika Juna akan datang menyusulnya ke Jambi, seperti yang sempat Juna katakan.


Hari H sudah tiba dan belum juga ada tanda jika Juna akan datang. Tanpa Zara sadari, air matanya telah mengalir keluar dan itu membuat kedua saudaranya yang tengah berada di depan pintu kembali diselimuti amarah.


Zayan berusaha untuk tenang, dan lebih dulu masuk ke dalam kamar menghampiri adik kesayangannya. "Kehadiranmu akan membuat perhatian semua orang bukan tertuju pada Yumna, melainkan padamu," ucap Zayan memegang bahu Zara, memutar tubuh Zara agar menghadapnya, setelah itu menghapus jejak air mata di wajah cantik Zara.


"Itu wajar, Zara Emirhan adalah wanita paling cantik yang pernah aku lihat dalam hidupku dan keluarga Emirhan sangat beruntung karena memilikimu," sahut Zavier turut menghampiri Zara, mengecup sayang pucuk kepala Zara.

__ADS_1


"Kak," ucap Zara lirih berusaha menahan tangisnya.


"Za. Tolong. Lepaskan dia!" pinta Zavier dengan sangat lembut menatap penuh harap pada adiknya.


"Aku sangat mencintainya, Kak. Aku tahu jika semua orang tahu, maka mereka akan mengatakan aku bodoh. Namun, tetap saja, aku mohon. Tolong biarkan aku bertahan sampai dimana aku dapat bertahan," ucap Zara yang lagi-lagi membuat Zayan dan Zavier harus menahan diri untuk tidak menghancurkan Juna, sebab menghancurkan Juna akan berdampak pada Zara. Karena perasaan sayang dan cinta yang sebenarnya adalah akan ikut merasakan jika orang yang kita sayang tersakiti. Itulah yang membuat si kembar menjadi serba salah.


"Aku janji. Dua bulan, tolong. Hanya dua bulan. Jika dalam dua bulan mas Juna tidak juga melepaskan wanita itu, maka aku akan pulang. Aku akan melepaskannya," ucap Zara lagi.


Zayan yang mendengar itu seakan setuju pada Zavier, mereka tidak akan bisa mengingkari janji mereka, karena itu mereka tidak akan berjanji pada Zara untuk tidak ikut campur dalam urusan Zara.


Baik Zayan atau pun Zavier jelas sadar jika mereka tidak bisa sepenuhnya mengatur hidup Zara lagi setelah mereka menikah, tapi mereka sama sekali tidak peduli akan hal tersebut, karena memastikan kebahagiaan Zara adalah tugas mereka. Hanya itu yang mereka tahu.


Ketiga bersaudara itu keluar dari kamar dan bergabung bersama semua orang yang sudah berkumpul menyaksikan acara ijab kabul Yumna dan suaminya. Kata sah terdengar menandakan Yumna telah resmi mengganti statusnya menjadi seorang istri. Semua orang terlihat bahagia, tapi tidak dengan ketiga anak Emirhan yang tengah larut dalam kesedihan dan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Zara kembali teringat pada acara pernikahannya empat bulan yang lalu, mengingat jelas bagaimana wajah bahagia dari semua orang yang hadir di pernikahannya. Begitu juga wajah bahagia yang diperlihatkan Juna. Zara sama sekali tidak menyangka jika wajah bahagia Juna tidaklah nyata. Jika saja Zara menyadari semua itu, maka Zara akan mencoba untuk menghentikan pernikahan mereka.


'Aku berharap pernikahanmu menjadi pernikahan yang benar-benar bahagia dunia akhirat, Yumna.' batin Zara.


Di tempat yang berbeda. Juna mencoba untuk tetap tenang menemani Laura, meskipun setiap waktu berjalan maka rasa rindu dan gelisah Juna semakin bertambah memikirkan Zara dan juga ancaman mamanya.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Laura yang memperhatikan itu semua sejak semalam Juna bersamanya.


"Juna. Jangan katakan kamu berubah pikiran. Kamu sudah janji padaku akan membahas semua ini pada keluargamu," ucap Laura kembali mengingatkan Juna akan keputusan dari pembicaraan mereka semalam.


"Benarkah? Jika benar maka bicarakan semua itu sekarang. Kami di sini!" ucap seseorang yang baru saja menerobos masuk ke ruang rawat Laura, membuat Juna dan Laura sontak menatap ke arah pintu.


"Pa," ucap Juna panik.

__ADS_1


__ADS_2