
"Tolong bantu membuka pakaiannya, Kak, aku akan ganti baju dulu" pinta Zara begitu tubuh Juna sudah berada di kamarnya dan kini tengah dibaringkan oleh salah satu kakak kembarnya.
Zayyan tak mendengkus kesal, meskipun begitu tetap menuruti permintaan sang adik. Dia melepaskan baju luar Juna, dan meninggalkan celana boxer. Setelahnya, dia menyelimuti lelaki yang menjadi adik iparnya itu.
Setelahnya, Zayyan tampak berduri di dekat ranjang dengan tangan bertolak pinggang. Lelaki itu menatap Juna dengan tajam, dan berharap bisa memukuli lelaki itu saat bangun nantinya.
"Kak Zayyan, kamu harus ganti baju," kata Zara yang sudah keluar dari kamar mandi memakai pakaian hangat.
"Baiklah, aku akan keluar kalau begitu. Jika ada apa-apa, berteriaklah, oke?" tutur Zayan menatap adiknya lekat.
Zara mengangguk dan memaksakan senyum tipis. Setelah sang kakak keluar, Zara segera menutup pintu kamarnya. Dia segera mendekati Juna yang masih pingsan, dan duduk di tepi ranjang di sebelah lelaki itu.
"Mas Juna," panggilnya lirih sambil mengusap pipi lelaki itu. Tatapan Zara begitu sendu saat ini. Tanpa sadar, setetes air mata kembali membasahi pipi.
Dia baru saja beranjak untuk mengambilkan Juna selimut lagi, ketika pintu kamarnya dibuka dengan keras. Ayahnya dan salah satu kakak kembarnya yang lain itu masuk dengan wajah yang datar.
"Papa," lirih Zara memanggil.
"Mana dia?" tanya Emirhan masih tampak emosi.
__ADS_1
Hal ini membuat Zara panik, dia menoleh cemas pada Juna yang masih tak sadarkan diri. "Dia belum bangun, Pa. Mas Juna pingsan," kata Zara cepat-cepat.
Emirhan mendesah kasar, lalu membuang wajah. Setelah kembali tenang, dia menatap Zara dengan lekat. "Suruh suamimu untuk menemuiku setelah dia bangun!" ketus Emirhan, lalu berbalik dan pergi begitu saja.
Kini tertinggal Zavier dan Zara yang ada di sana. Zara terlihat sedih, dan Zavier mendekat langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Apa keputusanku salah, Kak?" tanya Zara meratap.
"Entahlah, Zara. Kakak tidak bisa memberi jawaban sekarang," kata Zavier menjawab dengan bingung.
Zara mengangguk, lalu melepaskan pelukan sang kakak. Setelahnya dia kembali bertanya, "Bisakah aku meminjam sepasang baju dari Kakak? Baju mas Juna basah, dan tak bisa dipakai lagi."
Zara tersenyum melihat itu. Dia kembali mendekati Juna ketika Zavier pergi keluar dari kamarnya. Tak selang lama, kakaknya itu kembali dan membawa pakaian lengkap.
"Kak, bisakah aku meminta tolong untuk memasangkan pakaian pada mas Juna?" pinta Zara sekali lagi.
"Kenapa tidak kamu saja?" tanya Zavier mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak," jawab Zara menggeleng dengan wajah malu-malu. "Zara tak pernah seintim itu dengan mas Juna. Jadi tolong, ya," pintanya memelas.
__ADS_1
Zavier hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Membiarkan Zara meninggalkannya di kamar, lalu segera memasangkan baju di tubuh Juna. Lelaki itu mendesah saat tubuh Juna terasa berat saat diangkat. Setelah selesai, dia kembali memanggil adiknya itu.
"Terima kasih, Kak," kata Zara tulus.
Zara langsung mendekati Juna lagi, setelah Zavier berpamitan padanya untuk turun. Kini hanya mereka berdua di kamar, dan Zuna terus-terusan memandangi wajah Juna yang tampak berantakan. Zara menggenggam tangan Juna yang terasa dingin baginya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, saat Zara mulai mengantuk, dia terkejut saat mendapati Juna mulai sadar. Wanita itu tampak senang, akhirnya sang suami membuka matanya kembali.
"Mas Juna," panggil Zara dengan antusias.
"Zara ... benarkah ini kamu? Aku tidak sedang bermimpi, kan?" Juna langsung terbangun duduk, menangkup kedua pipi Zara dengan mata yang berkaca-kaca.
Zara menangis haru, dan dia mengangguk dengan cepat. "Ini nyata, Mas. Ini aku Zara, istrimu."
Reflek Juna langsung menarik Zara ke dalam pelukan, dan terus-terusan minta maaf. Dia baru saja memohon, ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata Juna melebar melihat ayah Zara masuk dengan wajah marahnya.
Dia tak bisa mengelak, ketika Zara ditarik dari pelukannya. Lalu dirinya terhempas jatuh akibat menerima pukulan yang keras.
"Papa!" Zara berteriak panik dengan histeris melihat ayahnya datang-datang memukul sang suami.
__ADS_1