SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 55


__ADS_3

"Apa kalian juga tahu tentang hal ini, Zayyan, Zavier? Kalian juga menutupi itu semua?" tanya Emirhan lagi dengan marah. Suaranya menggelegar di ruangan itu.


"Pa." Tubuh Zara gemeteran, dia mulai melangkah mendekati ayahnya dengan senyum keterpaksaan. "Pa, Papa salah dengar. Apa yang Papa bicarakan?" tanya Zara, mengusir rasa gugupnya dengan menarik tangan sang ayah untuk digenggam.


Namun, sepertinya Emirhan tampak sangat marah. Dia dengan segan melepaskan tangan Zara dengan sedikit kasar, dan kembali menatap anak perempuannya itu dengan tajam. "Telinga Papa masih sangat normal, Zara. Jangan coba-coba membodohi, Papa!" bentaknya marah.


"Sebelumnya kalian hanya mengatakan jika Juna selingkuh, tapi ternyata jauh lebih buruk dari itu. Kenapa kalian menyembunyikan itu semua dari papa?" ucap Emirhan lagi mengusap kasar wajahnya.


Zavier yang melihat itu, ikut mendekat untuk menenangkan sang ayah. "Tenanglah, Pa. Jangan marah-marah, nanti tekanan darah Papa tinggi lagi. Kita duduk dulu, oke?" ajaknya sambil memasang wajah tersenyum.


Emirhan mengembuskan napas kasar, meskipun begitu dia menuruti permintaan salah satu anak kembarnya yang mendorongnya ke sofa itu. Tepat saat dia duduk, dahinya berkerut dalam melihat anak kembarnya yang lain terluka di bagian tangan.


Lelaki tua yang masih tampak gagah itu, memejamkan mata terlihat lelah. Dia menarik napasnya dalam berkali-kali, dan mencoba menenangkan diri. Setelahnya, barulah dia berkata, "Ceritakan semuanya. Papa ingin mendengar keseluruhan ceritanya. Jangan coba-coba kalian berani menutupi sekecil apapun itu, atau Papa tak segan memberikan kalian hukuman."


Emirhan menoleh pada Zara. "Dimulai darimu, Zara!" perintahnya tegas.

__ADS_1


Zara menggigit kecil bibir bawahnya tampak ketakutan, dia terlihat gelisah sampai-sampai meremas jari-jari tangannya yang saling bertautan. Dia bahkan menunduk dan tak berani menatap sang ayah.


"Zara!" panggil Emirhan dengan suara dinginnya.


"Biarkan aku yang bercerita, Papa." Zayyan menyela, melihat adiknya itu akan bungkam seolah terus menyembunyikan kejahatan Juna membuatnya tidak tahan.


Zayyan melihat adiknya menatapnya memohon sambil menggeleng kecil. Tapi dia tak peduli lagi. Baginya, hal ini memang harus dibicarakan pada keluarga besarnya. Dia tak bisa menanggung sendiri rasa sakit hatinya pada Zara yang terluka.


Melihat ayahnya sudah menunggunya, dengan cepat Zayaan berkata, "Selama ini, Juna telah selingkuh. Dia telah menduakan Zara, dan membawa wanita lain di rumah tangga mereka. Juna bahkan membawa wanita selingkuhannya untuk pulang. Selama ini, Juna tidak pernah menganggap serius pernikahannya dengan Zara. Zara berbohong mengatakan jika itu baru terjadi, pasalnya semua terjadi sejak awal mereka menikah. Zara mengetahui semua itu sejak hari pertama dia tiba di rumah Juna. Juna selalu pulang tengah malam, bukan cuma sekali dua kali, tapi selalu tengah malam.


Tak hanya itu, Pa. Juna sering tidue bersama wanita itu, tapi tidak pernah sekali pun menyentuh Zara. Meski pun ada bagusnya itu semua jika Juna tidak menyentuh Zara, tapi tak dipungkiri juga jika itu juga sangat menyakiti Zara." Zayan menjelaskan semua hal yang dia tahu baik dari Zara atau pun dari orang suruhannya.


"Lanjutkan, Zayyan!" perintah Emirhan tegas. Rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk.


"Aku mendatanginya pagi ini bersama Zavier, dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika wanita itu masih ada di sana. Juna mengatakan dia menyesal, dan ingin kembali pada Zara." Zayyan menimpali dengan apa yang terjadi padanya hari ini.

__ADS_1


"Tidak!" sahut Emirhan dingin. "Papa tidak akan membiarkan Zara kembali pada lelaki brengsek seperti itu! Papa tidak akan sudi, anakku disakiti seperti ini. Lebih baik dia menjadi janda, daripada harus bersama lagi dengan Juna. Papa pikir pengkhianatan itu baru terjadi dan berpikir mungkin saja masih ada kemungkinan semua bisa diperbaiki, tapi jika sudah sejauh itu, papa tidak bisa membiarkan Zara kembali pada Juna." Dengan tegas Emirhan mengatakan keputusannya.


"Papa!" raung Zara histeris mendengar penuturan sang ayah. Dia menjadi sedih, dan hatinya begitu sakit. Mau bagaimanapun, dia masih sangat mencintai Juna dan berharap rumah tangganya akan kembali baik-baik saja. "Pa, jangan berkata seperti itu. Zara--"


"Tolong pahami juga perasaan Papa, Zara. Papa sangat menyayangimu, dan Papa tidak ingin melihatmu seperti ini. Hati Papa sakit, Nak. Dunia Papa terasa runtuh mendengar kehidupan rumah tanggamu yang hancur. Kenapa kamu tidak mengatakan apapun pada Papa? Kenapa kamu menyembunyikan semua perlakukan suamimu dan selalu berlagak baik-baik saja? Apa kamu tidak mempercayai, Papa selama ini?" Emirhan berkata panjang lebar, menatap anak perempuannya itu dengan sorot kesedihan. Matanya bahkan tampak berkaca-kaca, seolah ingin menangis.


Melihat itu, Zara merasa sangat bersalah. Dia menganggap dirinya sendiri egois selama ini. Wanita itu mulai menangis, lalu berdiri untuk meminta pelukan dari sang ayah.


"Maafkan, Zara, Pa...," lirihnya dengan tubuh yang gemetar.


"Zara, maafkan Papa juga, Nak. Papa bersalah karena terlalu mempercayakan kamu pada lelaki seperti Juna." Emirhan membalas pelukan anaknya dengan erat, mengusap rambutnya dan sesekali mencium kening untuk memperlihatkan penyesalannya.


Zayyan dan Zavier yang melihat itu juga ikut sedih. Mereka sama-sama menahan tangis, dan berusaha bersikap tegar. Mereka tidak mau terlihat lemah, karena mereka adalah penopang keluarga untuk tetap kuat.


Ayah dan anak itu masih terus berpelukan, menangis dan melupakan kesedihan di hati. Sampai beberapa waktu berlalu, dan akhirnya mereka mulai tenang.

__ADS_1


Emirhan mengusap pipi sang anak dengan lembut, menatapnya penuh kasih sayang yang sangat tulus. "Zara," panggilnya tiba-tiba dengan sikap yang serius. "Maukah kamu bercerai dengan Juna?"


Praktis mata Zara langsung melebar. Dia tak menyangka jika ayahnya akan membahas hal ini saat ini juga. Hati Zara masih bimbang, dan benaknya bercampur aduk. Dia benar-benar bingung untuk memilih keputusan.


__ADS_2