
"Bagaimana keadaan papa, Kak?"
Setelah meninggalkan Juna tadi, Zara langsung menyusul ke rumah sakit dengan ibunya diantar oleh sopir. Sepanjang jalan wanita itu menangis, bukan hanya tentang khawatir dengan kondisi sang ayah, dia juga menangis tentang kenyataan yang baru saja terjadi dalam pernikahannya.
Ibunya curiga, karena dia terlalu mendramatisir keadaan dengan tangisan yang histeris. Tapi Zara sama sekali tidak mau bercerita tentang apa yang telah dia dengar di ruang makan tadi. Zara hanya beralasan, karena dia begitu panik dengan ayahnya dan takut jika terjadi sesuatu yang buruk.
"Syukurlah, papa baik-baik saja, Zara. Dia masih ada di IGD, sebentar lagi akan dipindah ke ruang rawat," jawab Zavier yang paling dekat dengan sang adik.
Zara mulai tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih saja terpancar kesedihan. Apalagi dengan matanya yang kini begitu sembab dan terlihat sipit.
"Zara, di mana mama Camila dan juga Juna?" Candra yang ada di sana, menanyakan anak dan istrinya yang tidak muncul.
Praktis tubuh Zara menegang, matanya mendelik dan dia terlihat bingung untuk menjawab.
"Mungkin saja mereka sedang menyelesaikan sesuatu!" Tiba+tiba-tiba Zayyan menyela sebelum Zara sempat untuk menjawab.
"Menyelesaikan sesuatu? Apa ada masalah?" tanya Candra bingung, dia sendiri yang belum tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Zayyan tiba-tiba tersenyum sinis pada mertua Zara itu. "Aku tidak tahu pasti masalah yang sebenarnya terjadi. Tapi tadi sebelum papa pingsan, dia mengatakan jika Juna kembali menyakiti Zara dan telah berkhianat lagi," ucapnya dengan kesal.
"Zayyan, apa maksudmu?" tanya Zavier menyela dengan bingung.
__ADS_1
Zara yang tahu masalah apa yang dimaksud, mendadak kaku dengan tubuh yang gemetar. Wanita itu menunduk, tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap semua orang.
"Aku akan menelpon dan menanyakannya!" gumam Candra bertutur.
"Tidak perlu, aku sudah di sini!"
Tapi baru saja dia mengambil teleponnya, dia mendengar suara sang istri. Saat Candra mendongak, dia melihat Camila sudah berjalan menuju ke arah mereka. Dahi Candra berkerut dalam melihat wajah istrinya yang tampak marah.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Candra sambil memeluk istrinya sekilas.
Camila menghela napas panjang, dia memijat keningnya sebentar sebelum menatap semua orang. Dia berhenti saat melihat Zara. Wanita paruh baya itu merasa sakit hati melihat Zara yang begitu menyedihkan.
Perlahan wajah Zara terangkat, dan matanya terlihat mengembun penuh dengan air mata. Mungkin sebentar lagi bendungan itu akan meledak, dan membanjiri wajah cantiknya. "Mama," panggil Zara lirih dengan sedih.
Semua orang yang melihat interaksi itu terlihat bingung, tapi tidak dengan Zayyan yang sudah menahan emosi seolah bisa menebak ada hal buruk yang akan terjadi.
"Maafkan Mama, Nak. Mama gagal mendidik putra Mama. Sekarang, apapun keputusanmu akan Mama terima. Mama tidak akan menuntutmu lagi untuk bersama Juna," kata Camila kemudian terisak.
"Camila, apa maksudmu? Apa kamu sadar dengan yang kamu katakan!" bentak Candra yang terlihat bingung dengan sang istri.
Tangis Zara pecah, dan dia hanya bisa tertunduk gemetar. Ibu Zara yang sejak tadi berdiri tak tahu dari anaknya, segera menggiring untuk duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Sedangkan Camila, menatap Candra dengan wajah penuh kekecewaan. "Kita tidak bisa lagi membiarkan Zara terluka. Juna kembali membuat kesalahan, dan kini benar-benar sangat fatal."
"Jelaskan, Camila, jangan membuat teka-teki seperti ini!" pinta Candra mendesak.
Camila menangis, dengan sesegukan dia menjawab, "Dia menghamili Laura, dia akan mempunyai anak dari wanita ****** itu."
Candra, Zavier dan ibu Zara syok mendengar penuturan Camila. Sedangkan Zayyan, tampak marah dan langsung meninju dinding dengan keras. Kemarahan terlihat jelas di wajah Zayyan, matanya melotot tajam, dengan napas memburu tak beraturan.
"Apa kabar ini juga yang membuat papa terkena serangan jantung?" Zavier menyela, bertanya dengan tatapan kosong.
"Sudah kuduga, dia pasti akan berulah kembali. Dia tak pantas diberi kesempatan, Juna benar-benar lelaki brengsek yang pernah kutemui selama ini!" geram Zayyan marah, mengeluarkan emosinya. "Di mana dia, Tante? Dia harus diberi pelajaran sekarang juga!" imbuhnya menatap mertua Zara.
Candra yang menyadari jika Zayyan akan bertindak kasar pada putranya menjadi sigap untuk menahan. Meskipun dia tahu jika anaknya itu salah, tapi melihat anaknya akan dihajar membuat hati nuraninya tidak tega. Lelaki paruh baya itu menghampiri kakak kembar menantunya itu.
"Zayyan, mari kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin. Jangan gunakan kekerasan, karena itu akan membuatmu rugi sendiri. Lagipula, kita harus menunggu ayahmu sadar. Biarkan dia yang memutuskan apa yang terjadi," kata Candra menatap Zayyan lekat, dia terlihat meminta dengan tulus.
"Enak sekali Anda berbicara seperti itu!" Sayangnya, Zayyan terlihat tak bisa diajak damai. "Apa Anda bisa tetap diam jika melihat keluarga Anda disakiti? Mungkin sekali dua kali Anda bisa memaafkan, tapi bagaimana jika berkali-kali, hah? Putra Anda itu bahkan sudah menghancurkan kehidupan adikku!" bentaknya marah menatap ayah Juna tajam.
Suasana itu benar-benar terlihat tegang dengan permasalahan yang terjadi. Belum sempat mereka menemukan solusi untuk penyelesaiannya, Zara yang sejak tadi diam tertekan kini mulai pingsan tak sadarkan diri.
Teriakan panik dari ibu Zara dan Camila, membuat dua lelaki berbeda usia yang hampir melakukan pertarungan itu menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk menolong Zara.
__ADS_1