
"Di mana Zara?" tanya Zayyan yang tiba-tiba menyusul keberadaan semua orang. Lelaki itu terlihat lelah dan begitu tertekan dengan masalah keluarganya.
"Masih di dalam, belum sadar. Mama sedang bersamanya sekarang," jawab Zavier, yang menunggu di depan ruangan bersama dengan Camila. "Bagaimana dengan papa, Zayyan?" tanya Zavier tak kalah cemas.
"Papa sudah dipindah ke ruang rawat, pak Candra menemaninya selagi aku ke sini untuk mengecek keadaan Zara. Kondisinya membaik, hanya masih tertidur akibat obat bius," jelas Zayyan tentang keadaan sang ayah.
Embusan napas panjang keluar dari bibir Zavier. "Syukurlah, sepertinya kabar ini benar-benar membuat semua orang syok."
Zayyan yang diingatkan lagi tentang masalah yang terjadi, beralih padang pada satu-satunya wanita di antara mereka. Lelaki itu mendekat, dengan tatapan yang begitu tajam. "Di mana anak brengsekmu itu, hah?" tanyanya membentak.
Melihat itu, Zavier segera menahan saudara kembarnya. "Zayyan, yang salah Juna, bukan tante Camila. Kamu jangan melampiaskannya pada orangtua Juna. Redakan emosimu itu, kamu bisa kalap jika tidak tenang," ucapnya menenangkan.
"Tch!" Zayyan berdecak mendengar hak tersebut, meskipun sangat kesal tapi dia tetap mendengarkan kata-kata saudaranya. Dia memilih mundur dan duduk.
Sedangkan Camila tersenyum tipis dengan wajahnya yang tampak sayu habis menangis. "Terima kasih untuk pembelaanmu, Zavier," tuturnya tulus.
Zavier mengangguk, dia hanya tidak ingin masalah bertambah runyam. Dia tidak ingin saudara kembarnya itu menambah masalah yang malah membuat konflik semakin melebar.
__ADS_1
Di tengah kekalutan mereka, tiba-tiba pintu ruang ugd terbuka. Zayyan langsung mendekat melihat ibunya keluar memapah adiknya.
"Zara!" panggil Zayyan memekik, dia langsung menggantikan sang ibu untuk merangkul adiknya itu.
"Kenapa keluar, kamu masih lemas dan perlu dirawat," tutur Camila menatap cemas sang menantu.
"Dia bersikeras tidak mau dirawat, Zara ingin bersama ayahnya," balas ibu Zara menjelaskan pada semua orang.
Zavier menghela napas panjang. "Baiklah, sepertinya memang baik kalau kita semua berkumpul saja. Ayo, kita ke ruangan papa," ajaknya yang kini menggandeng tangan sang ibu.
Lima orang itu akhirnya beranjak pergi dari sana. Mereka naik lift, ke ruang rawat Emirhan yang terletak di atas dengan akses VVIP.
"Aku baik-baik saja, Kak. Aku masih kuat," jawab Zara lirih.
Zayyan mendengkus kesal dengan jawaban Zara. Dia tahu adiknya itu selalu mengatakan hal tersebut untuk menenangkan orang-orang di sekitar. Karena tidak tega, akhirnya Zayyan meraih Zara dalam gendongannya. Dia tak peduli jika tubuh Zara berat, yang dia inginkan saat ini hanyalah agar Zara tak kelelahan.
Untungnya pejalan naik ke lantai atas begitu singkat, mereka sampai tak lama kemudian. Zayyan menunjukkan ruang paling ujung pada semua orang sebagai tempat rawat sang ayah.
__ADS_1
Saat mereka masuk, ternyata Emirhan sudah sadar. Lelaki paruh baya itu kini tengah berbincang dengan Candra. Dua lelaki paruh baya itu menoleh ketika melihat kedatangan mereka.
"Papa!" Zara meraung, tepat setelah dia diturunkan oleh Zayyan, dia langsung menghambur ke pelukan sang ayah. Wanita itu kembali menangis dengan terisak.
"Zara ... Zara, apa kamu baik-baik saja, Nak?" Bahkan di saat kondisinya yang sakit, Emirhan tetap saja mengkhawatirkan kondisi anaknya.
"Hiks, Papa...." Zara tak bisa menjawab, tangisnya semakin kencang dengan tubuh yang gemetar. Wanita itu terlihat melampiaskan semua kesedihannya pada lelaki cinta pertamanya itu.
Semua orang yang ada di sana melihat itu dengan sedih. Zavier memeluk sang ibu, Zayyan berdiri diam dengan kaku, sedangkan Candra merangkul istrinya yang kini juga ikut menangis.
Di tengah suasana yang kalut itu, tiba-tiba Candra berdehem. Lelaki paruh baya itu terlihat tertekan saat menatap semua orang. Setelah menarik napasnya dalam-dalam, dia akhirnya berkata, "Aku akan bertanggung jawab dengan masalah yang terjadi. Aku akan menyelidiki masalah ini. Jika terbukti Juna memang melakukan kesalahan, aku sendiri yang akan mengurus perceraian Juna dan juga Zara."
"Papa, kenapa Papa tega kepadaku?"
Tepat setelah Candra mengucapkan keputusannya, pintu terbuka dan sosok Juna masuk ke dalam. Lelaki itu terlihat kusut dengan penampilan yang berantakan. Sorot matanya terpancar kesedihan yang mendalam, dari gerak-geriknya, dia terlihat sangat frustasi.
Zara yang melihat kedatangan suaminya itu langsung menegang. Tubuhnya bergetar hebat, dan wanita itu perlahan mundur ke belakang. Dia yang tak hati-hati dengan langkahnya, membuatnya tertabrak meja di belakangnya yang membuatnya terjatuh.
__ADS_1
"Zara!" Praktis Zayyan dan Zavier langsung panik melihat adiknya.