
"Zara ... Nak, bangun, Sayang. Sudah siang, ayo sarapan."
Usapan lembut yang menerpa pipi Zara membuat tidurnya terusik. Wanita itu melenguh, sebelum mengerjapkan mata untuk bangun. Melihat ibunya ada di hadapannya, membuat senyum Zara merekah dengan tipis.
"Ma," panggilnya dengan manja. Zara terduduk, dan langsung memeluk ibunya dengan embusan napas yang panjang.
"Oh, Sayang. Bagaimana keadaanmu, apa kamu baik-baik saja?" tanya ibu Zara penuh perhatian, sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.
"Y-ya, Zara baik-baik saja," jawab Zara dengan suaranya yang tercekat. Dia melepaskan pelukan itu dan memasang senyuman yang lebar untuk menenangkan ibunya.
"Baiklah, segera sarapan dan bersiap. Hari ini papa akan pulang," kata ibu Zara.
Mendengar hal tersebut membuat dahi Zara langsung berkerut dalam. Dia menoleh, dan mendapati ayahnya tengah menatap dirinya sambil tersenyum. Zara langsung berdiri, mendekati sang ayah dengan tatapan yang cemas.
"Pa, mana bisa begitu? Kondisi papa, kan masih belum sembuh total. Kita di sini dulu saja sampai Papa sembuh, ya," ungkap Zara dengan khawatir.
Emirhan tersenyum. Meraih tangan anaknya dan mengusapnya lembut. "Papa baik-baik saja, Zara. Papa ingin pulang, di sini bau obat terpaku menyengat, Papa tidak suka."
"Mama!" keluh Zara langsung menoleh ke arah ibunya, seolah meminta bantuan untuk membujuk sang ayah.
Sayangnya, ibu Zara menggeleng. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mendekati Zara dan memegang pundak anaknya itu. "Ini sudah keputusan papa. Mama tidak bisa merayunya lagi.
Embusan napas panjang terdengar dari bibir Zara. Wanita itu menoleh lagi pada sang ayah, dan menatapnya dengan putus asa. Tapi sedetik kemudian, dia mencoba tersenyum. "Baiklah, asal setelah ini Papa rajin minum obat, ya, biar cepet sembuh."
"Tentu saja, asal kamu mau merawat papa." Emirhan terkekeh.
__ADS_1
Zara yang melihat itu tersenyum. Dia memaksakan diri untuk baik-baik saja di hadapan sang ayah, meskipun kondisinya saat ini benar-benar hancur. Fakta semalam yang dia tahu, membuat hatinya porak-poranda. Dia tak tahu bagaimana lagi caranya membenahi, karena itu benar-benar berantakan.
Entah kenapa dia tak bisa lagi menangis setelah semalaman penuh menangis. Dia benar-benar menumpahkan air matanya, dan tak lagi menyisakan walau setetes pun. Zara terlalu sakit hati atas kelakuan sang suami saat ini.
Tak ingin terus memikirkannya, Zara akhirnya menyibukkan diri untuk membantu sang ibu menyiapkan keperluan ayahnya untuk pulang. Tepat saat hari beranjak siang, Zara akhirnya pulang ke rumah bersama orangtuanya dijemput oleh sopir. Si kembar tidak terlihat, karena harus mengurus perusahaan yang mempunyai tugas penting.
"Istirahatlah, Papa. Zara akan menemanimu," kata Zara begitu mereka telah sampai di rumah. Dia langsung mengikuti ayahnya yang masuk ke kamar. Zara benar-benar terus berada di dekat ayahnya tanpa berniat meninggalkan sedetik pun.
Emirhan yang melihat itu merasa senang. Meskipun begitu tetap saja hatinya merasa sedih. Dia tahu jika Zara sedang bersikap ceria agar dirinya tak khawatir. Tapi, bagaimana bisa Emirhan bersikap acuh? Sedangkan dirinya saja merasa hancur mendengar kenyataan semalam, apalagi dengan Zara? Emirhan benar-benar tidak bisa mengabaikan anaknya itu begitu saja.
"Zara," panggil Emirhan tiba-tiba.
Zara mendongak, menatap sang ayah dengan senyum tipis. Tapi senyum itu lenyap melihat wajah ayahnya bersikap serius. Cepat-cepat, Zara langsung mengalihkan pandang. "Jika Papa ingin membahas hal yang semalam, hentikanlah dan jangan katakan apapun. Aku tidak ingin mendengarnya."
"Zara, ini waktu yang tepat untuk kita--"
Wajah Emirhan terlihat sedih, ingin sekali dia menceramahi anaknya, tapi melihat tatapan Zara yang begitu serius dan menyimpan banyak pikiran membuatnya urung. Lelaki paruh baya itu mengembuskan napas panjang, dan mulai membaringkan tubuhnya untuk mencari posisi nyaman di ranjang.
"Biarkan Papa istirahat, Zara. Jangan tinggalkan Papa, kemarilah, tidur bersamaku."
Menyadari ayahnya tak lagi memojokkannya, membuat senyum Zara perlahan merekah. Dia segera naik ke ranjang, menyusul sang ayah. Di bawah ketiak ayahnya itu, Zara membaringkan tubuh miring sambil memeluk ayahnya. Dia benar-benar merasa nyaman dengan kehangatan itu, yang membuatnya lama-lama terlena dan ikut tidur setelah semalaman tak bisa tidur dengan tenang.
Sedangkan Emirhan, masih terjaga tanpa rasa kantut sedikit pun. Lelaki paruh baya itu mengamati Zara dengan sendu. Bahkan saat Zara sudah tumbuh dewasa dan tingginya hampir menyamainya, dia tetap menganggap Zara sebagai anak gadis kecilnya yang dulunya selalu dia timang.
"Itu memang keputusanmu, Zara. Tapi jika kali ini kamu memilih kembali dengan Juna, aku tetap tidak akan membiarkan. Aku akan melakukan apapun agar kamu berpisah dengannya, tak peduli bagaimana nantinya bahkan jika kamu membenciku sekalipun," gumam Emirhan lirih, sambil mengusap rambut Zara.
__ADS_1
Di tengah-tengah suara hening itu, tiba-tiba pintu diketuk. Emirhan langsung menikah, mendapati dua anak kembarnya masuk ke dalam dia dengan cepat menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Pelan, adikmu sedang tidur," lirih Emirhan menatap Zayyan dan Zavier.
Si kembar mengangguk, dan menuruti permintaan ayah mereka. Zayyan berdiri di dekat ranjang, sedangkan Zavier memikuh berjongkok di lantai mendekati sang ayah.
"Bagaimana kabar, Papa? Kenapa Papa pulang tanpa memberitahukan hal ini pada kami?" tanya Zavier cemas.
"Tidak apa, aku hanya ingin tenang di rumah. Di rumah sakit terlalu berisik," jawab Emirhan tersenyum.
Embusan napas panjang keluar dari bibir Zavier. Lelaki itu mengangguk pasrah. Lalu, matanya melirik ke arah Zara. "Bagaimana dengan dia, Pa?" tanya Zavier sambil mengangkat dagunya menunjuk Zara.
Emirhan menoleh sekilas pada Zara, sebelum kembali memfokuskan dirinya pada Zavier. "Bagaimana dia bisa baik-baik saja setelah mendengar kabar suaminya mempunyai anak dari wanita lain?"
"Sebenarnya, aku mendengar kabar kurang enak hari ini. Entah aku harus senang, atau malah merasa sedih," ucap Zayyan tiba-tiba menyela.
"Apa itu?" tanya Emirhan penasaran.
"Juna dipenjara, Pa," jawab Zavier yang berada dekat dengan Emirhan. Mimik wajahnya terlihat begitu frustasi.
"Bagaimana bisa? Apa yang dia lakukan?" tanya Emirhan, dengan dahinya yang berkerut dalam.
"Dia mencoba membunuh Laura, Pa. Dia tidak mau mengakui anak yang dikandung Laura. Dia ingin Laura lenyap agar rumah tangganya dengan Zara kembali baik-baik saja." Zayyan menjeda kalimatnya dengan sekali tarikan napas. "Itulah yang dikatakan tante Camila. Tadinya aku dan Zavier datang ke rumah Juna ingin memberikan pelajaran. Tapi siapa sangka, kamu malah mendengar kabar tersebut. Kejadian itu terjadi semalam, dan kini Juna berada di penjara. Om Candra sedang mengurusnya di kantor polisi terdekat."
"Dia benar-benar lelaki brengsek. Bagaimana bisa aku membiarkan Zara hidup dengan lelaki seperti itu? Oh, Ya Tuhan ... semoga Zara benar-benar membuat keputusan yang tepat kali ini!" desah Emirhan dengan frustasi. Raut wajahnya yang sedikit keriput itu tampak kelelahan memikirkan tentang nasib satu-satunya anak perempuannya itu.
__ADS_1
Tanpa disadari tiga orang yang sedang berbincang itu, ternyata Zara telah mendengar semuanya. Dia terbangun karena suara obrolan itu. Tapi saat dia mendengar tentang Juna, dia berpura-pura memejamkan mata untuk menguping. Hati Zara kalut mendengar kabar suaminya.
Meskipun begitu dia tetap diam, dan tak ingin melakukan apapun. Entah apa yang dipikirkannya sekarang, dia sendiri pun bingung.