
"Pa, Zara mohon," pinta Zara sekali lagi, menatap sang ayah penuh permohonan.
"Keputusanku bersifat mutlak, Zara, dan itu tidak bisa diganggu gugat. Aku tidak akan menerima keluarga suamimu untuk menginjakan kaki lagi di sini!" tegas Emirhan dengan suara lantangnya.
Kehebohan ini ternyata membangunkan si kembar yang kamarnya terletak tak jauh dari kamar orang tua mereka. Keduanya mulai keluar, dan bingung dengan apa yang mereka lihat. Meskipun begitu penasaran, mereka masih menutup mulut untuk tidak bertanya.
"Sekali ini saja, Pa. Bawa dia masuk, sekarang sedang hujan, dia bisa sakit!" raung Zara sedikit histeris.
"Berhenti dengan sikapmu ini, Zara. Papa tidak suka. Papa tetap tak akan mengabulkan permintaanmu," tolak Emirhan begitu serius. Dia menatap Zara tajam.
Melihat ayahnya mengabaikan dirinya dan mulai kembali masuk ke dalam kamar, membuat Zara menjadi nekat. Wanita itu meraih vas bunga di dekatnya, lalu dipecahkan begitu saja. Zara mengambil pecahan vas itu, dan menempelkannya pada pergelangan tangan.
"Zara!"
Praktis, ibu Zara dan si kembar memekik ketakutan. Hal ini membuat Emirhan kembali menatap sang putri, dan matanya melebar melihat hal gila yang dilakukan Zara. Dengan cepat dia mendekati Zara, berniat untuk menghempaskan pecahan vas itu, tapi Zara malah mundur menjauhinya.
"Tolong, Pa. Zara sangat mencintai mas Juna. Jangan buat aku hancur dengan keputusan Papa. Jika tidak, lebih baik aku mati saja," tutur Zara terisak.
"Lepaskan itu, Zara. Melakukan bunuh diri adalah dosa besar!" sahut Zayyan dengan panik.
__ADS_1
"Zara, lepaskan, Nak!" pinta sang ibu ketakutan, dan menangis. Zavier memeluk ibunya untuk menenangkan.
"Pa...," panggil Zara lagi memelas.
Hal ini membuat Emirhan memejamkan matanya, hatinya terasa panas dengan amarah yang begitu bergejolak. Tanpa sadar, dia memukul dinding di sebelahnya dengan kasar sebagai pelampiasan.
Dia sangat membenci Juna, dan tak ingin melihat wajahnya lagi ataupun mendengar lelaki itu bernapas. Tapi tetap saja, jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia lebih tak ingin Zara meninggalkannya dan melakukan hal bodoh seperti ini.
"Pa," panggil Zayyan mengingatkan karena sang ayah malah terdiam dengan kepala menunduk.
Sedangkan Zara semakin menekan pecahan vas pada pergelangan tangannya, yang kini menimbulkan goresan kecil yang mengeluarkan darah.
Senyum Zara mulai terpancar, dia tidak mengucapkan apapun, dan langsung berbalik dan berlari keluar. Wanita itu kembali menerobos hujan, untuk membuka gerbang dan menemui sang suami.
"Non, Anda tidak bisa melakukan hal ini. Kami bisa dimarahi tuan nanti," larang sang satpam mencoba menahan Zara.
"Lepaskan Zara, Pak. Papa sudah mengizinkan." Dari belakang, ternyata Zayyan menyusul menggunakan payung dia berniat untuk membantu sang adik.
Akhirnya pintu gerbang mulai dibuka, dan Zara berlari mendekati Juna begitu saja. Di tengah hujan itu, Zara menangis dengan histeris.
__ADS_1
Juna sendiri kaget dengan kedatangan sang istri. Lelaki itu masih duduk di tempat tadi, tanpa beranjak sedikit pun meskipun sedang hujan. Tubuhnya menggigil karena kedinginan, dan kini dia terlihat pucat. Lebam di wajahnya bahkan terlihat membengkak dengan jelas.
"Mas Juna ... Mas Juna kamu baik-baik saja?" tanya Zara panik.
"Zara." Juna tak bisa menjawab sama sekali. Dia hanya merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan istrinya lagi. Dia menarik Zara ke dalam pelukannya dengan erat. "Zara, maafkan aku," ucapnya untuk pertama kali.
"Ssst ... jangan katakan apapun. Sebaiknya kita masuk dulu," ajak Zara mulai menarik Juna.
Juna menurut, dia hanya mengangguk dan mulai berdiri. Kakinya begitu kesemutan setelah berdiam dengan lama. Dengan langkah tertatih, dia mengikuti Zara. Juna hanya tertunduk saat berpapasan dengan Zayyan yang menatapnya tajam.
Zara memeluk suaminya dengan erat. Senyum tipis terpancar di bibirnya. Dia baru saja akan mengajak lelaki itu berlari, ketika tiba-tiba tubuhnya ditarik dengan keras sampai membuatnya terjatuh. Saat itulah, dia baru sadar jika Juna pingsan.
"Mas Juna ... Mas, bangun, Mas!" teriak Zara panik, menepuk-nepuk pipi Juna.
Zayyan yang melihat itu segera mendekat. Dia berjongkok, dan memberikan patungnya pada Zara. "Biarkan aku yang memapahnya," ucapnya dengan tulus..
"Terima kasih, Kak." Zara tersenyum, meskipun di bawah guyuran hujan itu dia juga sedang menangis. Dia begitu khawatir dengan keadaan sang suami. Dalam hatinya terus berdoa, agar Juna selamat.
Zara sadar jika dirinya adalah orang yang paling bodoh, karena mau mempertaruhkan hidupnya pada lelaki yang pernah mengkhianatinya itu.
__ADS_1