
Seminggu berlalu, akhirnya Zara dan keluarganya tiba di Jakarta semalam. Mereka memutuskan langsung beristirahat setelah kelelahan di pesawat.
Pagi ini, Zara terbangun seperti biasa. Dia sedang berada di dapur membantu pelayan membuat sarapan ketika kakak kembarnya datang.
"Pagi," sapa Zara yang melihat dua kakaknya itu duduk siap di meja makan.
"Pagi juga, Zara. Ada apa dengan wajahmu itu, kenapa kamu terus-terusan tersenyum seperti itu? Apa kamu sedang bahagia?" tanya Zayan, salah satu kakak kembar Zara yang menyadari tingkah Zara. Lelaki itu mengerutkan dahi dalam melihat sikap tak biasa dari adiknya itu.
"Tentu saja. Aku sangat-sangat bahagia saat ini. Hatiku bahkan terus berdebar sampai-sampai rasanya sedikit sesak. Aku seperti merasa bagaikan padang tandus yang kini ditumbuhi banyak bunga sekarang." Zara terus berbicara dengan senyum di wajahnya, sambil membawa piring-piring berisikan makanan ke meja.
Reflek, Zayyan langsung menoleh pada kembarannya. Mereka sama-sama menatap dengan bingung, sedetik kemudian sama-sama menggelengkan kepala dan mengangkat kedua bahu.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Zavier dengan bingung.
"Entahlah," sahut Zayyan langsung mengerutkan dahi tidak senang.
Lelaki itu langsung menarik Zara yang berada di dekatnya, untuk duduk di sebelahnya. Zayyan menahan pundak Zara untuk tetap duduk. Barulah saat Zara tenang, dia bertanya, "Kamu baik-baik saja, kan?"
"Aku baik-baik saja, kok, memangnya kenapa?" tanya Zara balik.
"Kamu aneh," sahut Zavier menimpali.
Meskipun begitu, Zara masih tetap menampilkan senyum manisnya. "Ini bukan aneh, ini adalah hal wajar ketika kamu mendapatkan kabar bahagia."
"Oh, ya? Memangnya kabar bahagia apa sampai-sampai kamu terlihat seperti orang gila pagi ini?" tanya Zayyan penasaran.
"Ish Kakak ini!" keluh Zara memukul pelan tangan Zayyan. Meskipun begitu, dia masih bersemangat untuk menjelaskan, "Aku akan kembali ke rumah hari ini."
__ADS_1
"Rumah mana? Bukankah ini rumahmu, Zara?" tanya Zavier.
"Rumahku bersama Juna, Kak," kata Zara kemudian. "Hari ini aku akan pulang ke rumah." Zara menarik Zayan dan Zavier untuk sedikit menjauh dari sana agar obrolan mereka tidak ada yang mendengarnya.
"Kemarin, mama Camila menelponku dan meminta maaf atas sikap mas Juna. Aku tidak tahu mereka tahu dari mana yang jelas mama bilang jika mas Juna datang ke rumah dan mengungkapkan penyesalannya. Mertuaku benae-benar menyesal dan kecewa pada Juna, tapi Juna memohon maaf dan bilang menyesal, mereka juga yakin, jika mas Juna tidak akan melepaskanku. Mereka bilang mas Juna akan melepaskan wanita itu dan memilihku," ucap Zara dengan begitu riang menceritakan hal itu.
"Tidak bisa!" Zavier dan Zayyan menjawab serempak dan menolak dengan tegas.
Zara yang mendengar itu sampai terkejut, dan menatap kakak-kakaknya bingung.
"Kamu ini wanita, jangan rendahkan dirimu untuk pulang sendiri. Jika memang Juna memilihmu, seharusnya dia yang datang ke sini dan menjemputmu. Bukannya malah kamu yang berinisiatif untuk pulang lebih dulu," sahut Zavier berbicara menggebu.
"Meskipun kamu membiarkan Juna kesempatan, setidaknya biarkan dia untuk berjuang dulu. Biarkan dia datang ke sini dan meminta maaf padamu, baru mengajak kamu pulang. Pokoknya, aku tidak akan setuju kalau kamu balik sendiri!" kata Zayyan menambahi dengan tegas.
"Itu benar, Zara. Suruh Juna datang ke sini untuk menjemputmu. Papa juga ingin berbicara dengannya."
Zara baru saja ingin menyahut ucapan kakak kembarnya, ketika sebuah suara mendominasi membuat mulutnya hanya terbuka tanpa bisa berkata-kata. Saat dia menoleh, dia mendapati ayahnya masuk ke ruang makan dengan wajah yang sangat serius.
Zara benar-benar tidak menduga jika papanya akan mendengar pembicaraan mereka, tapi satu hal yang membuat Zara bingung, kenapa Papanya bersikap seolah sudah mengetahui itu semua. Tatapan Zara beralih pada kedua kakaknya dan menatap penuh selidik pada keduanya.
"Bagaimana bisa kamu berpikir merahasiakan semua ini dari papa?" ucap Emir mendekat dengan mata berkaca-kaca menatap Zara yang tanpa bisa dicegah mengeluarkan air matanya.
Zara teringat pada kejadian dua hari lalu dimana mereka terpaksa menunda kepulangan mereka dari kota Jambi karena Ibunya tiba-tiba sakit. Zara mengingat jelas ucapan dokter yang mengatakan ibunya sakit karena stres berlebihan, sekarang Zara sudah mendapatkan jawaban akan penyebab keadaan ibunya memburuk tempo hari.
"Maaf," cicit Zara yang saat ini berada dalam pelukan Emirhan–papanya.
Dari kejauhan, Zara melihat sosok wanita yang telah melahirkannya juga berada di sana dan menangis menatap ke arahnya. Zara melepaskan pelukan ayahnya dan berlari menghambur dalam pelukan ibunya yang sudah menangis deras menatapnya.
__ADS_1
"Ma, maafkan Zara…," ucapnya.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Renata, hanya suara tangisnya yang terdengar begitu memilukan sembari mengusap lembut punggung Zara. "Maafkan aku…," ucap Zara lagi.
"Mama minta maaf karena tidak bisa menyadari apa yang telah terjadi padamu, Za. Maafkan mama yang tidak peka akan keadaanmu, maafkan mama yang telah membuatmu menanggung semua ini sendiri, maafkan mama," ucap Renata membuat Zara melepaskan pelukannya dan berulang kali menggelengkan kepalanya menatap mamanya.
"Tidak, Ma. Jangan menyalahkan diri kalian atas apa yang terjadi, ini sudah takdirku," ucap Zara berusaha mengusap air mata Renata yang terus saja mengalir.
"Mama tidak akan melepaskanmu, mama tidak akan membiarkan mereka menyakitimu," ucap Renata berulang kali mengecup sayang wajah Zara.
"Papa juga tidak akan membiarkanmu pergi," sahut Emirhan dengan tegas.
Zara sontak menoleh pada papanya mendengar ucapan papanya. Zara sangat takut jika papanya sudah turun tangan, dirinya tak akan bisa lagi membantah.
"Dengarkan nasihat kakak-kakakmu," kata ayah Zara, mendekati satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Lelaki paruh baya itu mengusap kepala Zara penuh kasih sayang.
Zara menatap kedua kakak dan orang tuanya, Zara sadar cintanya pada keluarga jauh lebih besar dari cintanya pada Juna.
"Baiklah, Pa." Zara tak berani membantah, dan akhirnya mengikuti keinginan keluarganya. Dia akan membiarkan Juna datang, untuk menjemputnya jika Juna benar-benar ingin bersamanya.
'Sekarang keputusan ada di kamu, Mas. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan jika keluargaku sudah mengetahui semuanya. Aku harap semuanya belum terlambat,' kata Zara memohon dalam hati.
Mereka semua akhirnya berkumpul dan melakukan sarapan bersama. Saling bercanda satu sama lain dan membuat suasana yang tadinya diselimuti tangis menjadi kembali hangat, meskipun semua orang tetap saja menyimpan kesedihan di hati mereka.
Setelah sarapan, Zara dan Renata langsung menyibukkan diri untuk ke taman melihat tanaman-tanaman mereka. Ayah Zara pergi ke kantor lebih dulu. Sedangkan Zayyan dan Zavier masih berdiam di tempatnya.
"Apa kamu sepemikirkan, Zayyan?" tanya Zavier tiba-tiba.
__ADS_1
"Ya, kita harus menemui Juna sekarang," jawab Zayyan bersemangat.
Senyum Zavier merekah karena saudara kembarnya itu bisa mengerti apa yang dipikirkannya. Akhirnya, mereka segera bersiap-siap. Keduanya pergi dari rumah, bukannya menuju kantor tapi malah ke rumah Juna.