SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 72


__ADS_3

"Pa, bagaimana keadaan Juna?" tanya Camila cemas, melihat suaminya baru saja turun dari mobil dia dengan cepat mengikuti.


Candra mendesah, dia berjalan sambil memijat pangkal hidungnya akibat rasa kepalanya yang pusing. Dia terus melangkah, sampai tiba di ruang tamu. Setelahnya dia menjatuhkan tubuhnya kasar di sofa. Lelaki paruh baya itu memejamkan mata, menyandarkan tubuh dengan kedua tangan terentang terlihat lelah.


"Dia benar-benar sudah tidak waras. Juna telah gila, Ma," lirih Candra sambil menggelengkan kepalanya pelan dengan frustasi.


"Lalu bagaimana? Apa yang kita lakukan sekarang, Pa?" keluh Camila bertanya. Wanita itu duduk di sebelah sang suami, lalu memegang paha dengan lembut. "Urusan dengan keluarga Emirhan saja belum selesai, bagaimana bisa dia membuat masalah lain yang lebih runyam lagi."


"Entahlah, Ma. Aku juga tidak bisa menebak bagaimana pikiran anak itu!" cetus Candra. Dia menarik sang istri ke dalam pelukan. "Mari kita selesaikan ini satu-satu, kita pasti bisa membantunya."


"Bagaimana dengan Zara?" tanya Camila lagi, dia masih saja mengkhawatirkan kondisi menantunya itu. "Aku takut dia akan memilih berpisah dengan Juna, Pa. Meskipun aku bilang akan menerima keputusannya, tapi tetap saja aku tidak akan rela," imbuhnya lirih.


"Jangan memojokkan Zara. Apapun keputusannya nanti, kita harus terima. Aku juga tidak rela kehilangan menanti sebaik Zara, tapi kita tidak bisa memaksanya. Jadi bersiaplah untuk kabar baik bahkan buruk sekalipun," tutur Candra menenangkan.


"Oh, Ya Tuhan ... kepalaku terasa hampir pecah!" pekik Camila menghela napas kasar dengan frustasi.


Candra yang melihat itu, hanya bisa mengusap lembut bahu sang istri. Dengan sesekali mencium pucuk kepalanya dengan lembut. Kedua pasangan paruh baya itu saling menenangkan atas rasa stres dengan masalah yang terjadi.


"Pa," panggil Camila tiba-tiba, mendongak menatap sang suami. "Bagaimana jika kita menjenguk Emirhan? Aku ingin melihat Zara."


"Dia tidak ada di rumah sakit, aku baru saja mampir setelah menjenguk Juna di kantor polisi tadi. Dia ada di rumah sekarang," jawab Candra.


"Kalau begitu ayo ke sana, aku yakin Zara bersama mereka." Camila berusaha membujuk.


"Apa kamu tidak lelah?" tanya Candra menatap istrinya cemas. Mau bagaimanapun, dia tahu sang istri belum beristirahat dengan tenang sejak kejadian semalam.

__ADS_1


"Tidak, Pa. Ayo!" Wanita itu mendesak, bahkan langsung berdiri dan menarik tangan Candra. Dia bahkan tak peduli dengan suaminya yang baru saja pulang dengan lelah.


Candra mengembuskan napas panjang. Meskipun dirinya sangat butuh tidur saat ini, tapi dia tak mampu menolak keinginan sang istri. Akhirnya mereka pergi, kali ini Candra ingin diantar sopir karena dirinya tak yakin bisa menyetir. Mau bagaimanapun, dia dalam kondisi lelah dan sangat butuh istirahat.


Camila tidak datang dengan tangan kosong, saat di perjalanan tadi dia sengaja membeli buah-buahan sebagai buah tangan. Mereka disambut baik di sana, bahkan langsung diantar ke kamar tempat Emirhan beristirahat sekarang.


"Bagaimana kondisi Anda, Pak Emirhan?" tanya Camila berbasa-basi saat pertama kali bertemu.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih telah datang ke sini." Bahkan saat dia sangat membenci Juna, dia tak bisa bersikap acuh pada besannya itu. Emirhan tahu, jika perbuatan Juna tak ada sangkut pautnya dengan Camila dan juga Candra.


"Aku mendengar jika Juna...." Emirhan tak meneruskan ucapannya, tapi dia menatap bergantian dengan serius pada dua besannya itu.


Camila yang tahu maksud Emirhan segera tersenyum tipis. Menyembunyikan raut wajah lelahnya yang begitu frustasi. "Entahlah, Pak. Aku sendiri tidak tahu apa yang anak nakal itu lakukan. Atas namanya aku minta maaf, semoga saja Anda bisa memaafkannya."


"Semoga Zara bisa memaafkan Juna dan memberinya kesempatan lagi," tutur Candra menyahut.


Emirhan yang mendengar itu menggeram. Dalam hatinya tampak marah dan tidak terima. Bagaimana bisa besannya itu berdoa agar Zara menerima Juna lagi setelah apa yang dilakukan lelaki itu selama ini. Meskipun begitu, Emirhan menahannya dan tak meluapkan perasaan kesalnya terang-terangan.


"Boleh aku tahu di mana Zara, Pak?" tanya Camila celingukan mencari menantunya itu.


"Dia pergi bersama kakak-kakaknya, aku tidak tahu di mana dan apa yang dilakukan sekarang," sahut Emirhan.


Camila merasa kecewa mendengar hal tersebut. Pasalnya dia sengaja datang menjenguk hanya untuk bertemu dengan Zara. Tapi menyadari jika Zara tidak ada di rumah, membuatnya terlihat lesu. Padahal dia sangat ingin berbincang dengan menantunya itu.


Kunjungan itu berjalan dengan singkat, mereka yang bersikap sama-sama canggung dengan masalah yang terjadi membuat mereka tak bisa mengobrol dengan leluasa. Tepat ketika hari beranjak sore, Candra dan Camila akhirnya berpamitan untuk pergi.

__ADS_1


Tapi kali ini, Camila tetap saja tak ingin pulang. Dia membujuk Candra lagi untuk mengantarnya ke tempat Laura. Dia ingin bertemu dengan wanita itu.


Untungnya Candra tetap menuruti permintaan Camila meskipun dengan sikap yang enggan. Mereka sampai satu jam kemudian di rumah sakit. Candra tak ikut masuk, karena dia ingin istirahat di mobil sebentar. Jadi hanya Camila yang menemui Laura saat ini.


"Apa Anda datang untuk membunuhku juga?"


Namun, sambutan yang diberikan Laura cukup sinis. Camila tak menyangka jika Laura terang-terangan menunjukkan tidak suka padanya.


Melihat bagaimana wanita itu tampak berantakan di atas ranjang pasien, entah kenapa membuat hati Camila tergerak. Apalagi dengan luka perban di pergelangan tangan dan lebam di bagian leher. Camila benar-benar merasa iba dengan kondisi wanita itu.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Camila kemudian.


Laura terkekeh sinis dengan pelan. "Pergilah, aku tidak membutuhkan kalian lagi. Setelah sembuh nanti aku akan menghilang seperti yang kalian inginkan."


Bukannya menanggapi ucapan Laura, Camila malah kembali bertanya, "Benarkah itu anak Arjuna?"


"Aku sudah lelah menjelaskan. Toh jika ini memang anak Juna, Anda tetap tidak akan peduli." Laura mengalihkan pandang, tak ingin menatap Camila.


Hal ini membuat Camila terdiam, wanita paruh baya itu menatap Laura dengan lekat. Dia tahu, dia sangat membenci wanita itu. Dia benci bagaimana dia mengingat Laura pernah menjadi wanita yang hampir saja melayani suaminya. Dan dia sangat benci, bagaimana Laura merusak kehidupan anaknya.


Tapi, melihat bagaimana wanita itu menderita dan tetap bertahan dengan sosok bayi yang sedang dikandung, entah kenapa membuat hati Camila tergerak. Wanita itu menjadi tidak tega dengan Laura. Apalagi mengingat jika anaknya sendiri dengan tega hampir saja membunuh wanita itu.


"Laura," panggil Camila tiba-tiba setelah lama terdiam. "Jika kamu mau membantuku mengeluarkan Juna dari penjara, aku janji akan membantumu untuk merawat bayimu."


Tentu saja hal itu membuat Laura syok, dia tak menyangka jika ibu Juna masih mempunyai hati untuk menghadapinya. Padahal dia sudah yakin, jika ibu Juna itu akan memaksanya untuk menggugurkan kandungan dan pergi sejauh mungkin dari hidup Juna. Tanpa sadar, Laura menangis. Dia menatap nanar sosok wanita paruh baya di depannya itu.

__ADS_1


__ADS_2