
57
"Sialan, apa yang terjadi?" gumam Camila memaki. Keanggunan yang selama ini tampak di dirinya, lenyap seketika karena digerus oleh amarah. Wanita itu bahkan tak mempedulikan lagi sopan dan santun. Terus berteriak dan menggedor gerbang dengan kasar.
Candra yang melihat itu sampai menggelengkan kepala. Dengan cepat dia menyusul istrinya dan memeluknya untuk memberikan ketenangan. "Sudahlah, Sayang. Sayangi suaramu, jangan berteriak seperti itu," tuturnya dengan lembut.
"Apa mereka sudah tahu semuanya?" lirih Juna tampak stres dengan tatapan yang kosong.
"Sepertinya, iya." Candra menyahut, karena mendengar apa yang dikatakan Juna. Tembakannya benar, jika keluarga Emirhan tahu permasalahan yang terjadi sebenarnya, makanya mereka tidak diperbolehkan untuk masuk.
"Lebih baik kita kembali saja. Kita bisa ke sini lain kali setelah keadaannya sudah dingin," ajak Candra menatap anak dan istrinya. Di situasi seperti ini, hanya dia yang tampak waras.
"Tidak, Pa. Juna akan tetap di sini, Juna tidak mau pulang," tolak Juna dengan tegas.
"Mereka tidak menerima kita, Juna. Jangan keras kepala!" sahut Camila yang masih tampak kesal.
"Kalian pulang saja, Juna akan tetap di sini. Juna akan terus menunggu sampai mereka membukakan pintu gerbang dan menerima kedatanganku," kata Juna menggeleng, tanpa menatap orang tuanya.
"Juna! Kamu--"
"Sudahlah, Camila. Ini keputusan anakmu, kamu harus mendukungnya. Percaya saja padanya jika semuanya bisa diatasi," tutur Candra menyela saat melihat istrinya hampir menceramahi sang anak.
Hal ini membuat Camila mengembuskan napas panjang dengan mata terpejam dan tangan yang menempel di kening. Wanita paruh baya itu tampak letih, dan kepalanya begitu pusing dengan masalah yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Melihat anaknya tak bisa dibujuk, membuat Camila akhirnya pasrah. Dia hanya memeluk Juna sebagai dukungan. "Semoga kamu berhasil, Nak."
"Terima kasih, Ma," ucap Juna menyambut pelukan sang ibu.
Setelahnya, Juna hanya diam melihat kedua orang tuanya itu kembali masuk ke dalam mobil. Dia memasang wajah penuh senyuman, dan lambaian tangan saat menyambut kepergian mereka.
Melihat mobil orang tuanya tak lagi terlihat, Juna kembali mendekat ke arah gerbang. Dia mengintip lagi di lubang gerbang yang sedang dijaga oleh satpam. "Tidak bisakah aku masuk sebentar saja, Pak?" tanya Juna memelas.
"Maaf, Tuan. Saya tetap tidak akan melanggar perintah tuan Emirhan," jawab sang satpam mengangguk sopan.
Hal ini membuat Juna mendesah napas kasar. Dia lalu berbalik, duduk di depan gerbang dengan perasaan gelisah.
Hari sudah malam, tapi Zara terus-terus kepikiran tentang Juna. Dia mendengar dari seorang pelayan, jika tadi keluarga Juna datang tapi ayahnya itu tak mengizinkan mereka untuk masuk.
Zara merasa sedih karena itu. Dia terus mengunci diri di kamar dan sesekali menangis. 'Apa yang harus kulakukan, Ya Allah?' gumamnya penuh putus asa.
Wanita itu baru saja akan berbelok di persimpangan, ketika mendengar suara pelayan yang sedang bergosip. Langkahnya terhenti, ketika dia mendengar nama Juna disebut. Setelahnya, dia mencoba untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dia masih ada di luar."
"Benarkah, siapa?"
"Itu, suaminya non Zara. Orang tuanya sudah pulang lebih dulu, tapi dia tetap menunggu."
__ADS_1
"Kamu, kok bisa tahu?"
"Iya, tadi para satpam sedang bicara saat aku mengantarkan kopi mereka."
Jantung Zara berdegup kencang, dan entah kenapa dia merasa khawatir. Dia langsung melihat ke arah luar jendela, dan menyadari jika malam ini hujan datang.
Wanita itu langsung keluar dari tempat persembunyiannya, yang membuat dua pelayan yang sedang berbicara itu terkejut. Zara mengabaikan ekspresi wajah mereka, dan langsung menanyakan, "Apakah mas Juna masih di luar?"
"S-sepertinya iya, Non," jawab salah satu pelayan gugup dengan tidak yakin.
Zara langsung berlari meninggalkan mereka. Dia menerobos hujan dan langsung mendatangi pos satpam. Dia menanyakan hal yang sama tentang Juna, dan para satpam menjawab jika suaminya itu masih ada di luar.
"Pak, tolong bawa suamiku masuk. Dia bisa demam karena hujan-hujanan," pinta Zara dengan mendesak penuh permohonan.
"Maaf, Non, kami tidak bisa. Ini sudah perintah mutlak dari tuan besar. Kamu tidak mungkin melanggarnya."
Mendengar itu, Zara menjadi geram. Dia kembali berlari masuk ke dalam rumah. Kekhawatirannya pada Juna, membuatnya kalap dan tak mengindahkan ucapan sang ayah.
Wanita itu menuju kamar orang tuanya. Menggedor pintu kasar dan berteriak, sampai akhirnya ayah dan ibunya keluar.
"Zara, ada apa?" tanya Emirhan cemas melihat keadaan anaknya.
Bukannya menjawab, Zara malah langsung bersujud di kaki Emirhan. Wanita itu menangis yang membuat Emirhan panik.
__ADS_1
"Pa, tolong biarkan mas Juna masuk. Dia masih di luar sekarang."
Namun, mendengar ucapan Zara membuat Emirhan merasa geram. Belas kasihnya lenyap, digantikan dengan kemarahan. Dia langsung mundur dan menjauhi Zara.