SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 73


__ADS_3

"Zayyan, Zavier, kenapa hanya pulang berdua, di mana Zara?" tanya Emirhan cemas, melihat anak kembarnya baru saja masuk ke dalam rumah.


Tiga hari waktu berlalu, Zara berpamitan pergi bersama Zayyan dan Zavier. Wanita itu bilang ingin menenangkan diri, dan Emirhan menyetujuinya. Tapi, kini setelah Emirhan sudah beranjak sembuh dan mulai bisa berjalan ke sana-kemari, putri satu-satunya itu tak kunjung pulang juga yang membuatnya khawatir. Terlebih, si kembar yang katanya menemani kini malah berada di hadapannya.


"Zara masih belum ingin pulang, Pa. Dia ingin istirahat sebentar dan tidak mau diganggu. Kami diminta pulang olehnya. Dia bilang akan kembali secepatnya." Zavier menyahut, menatap ayahnya dengan lekat seolah memberikan ketenangan.


"Jangan khawatir, Pa. Aku sudah memberikan penjagaan ketat untuknya. Ada seseorang yang kusuruh untuk mengawasinya." Kali ini, gantian Zayyan yang berbicara.


Embusan napas panjang keluar dari bibir Emirhan. Lelaki paruh baya itu terlihat begitu frustasi, memikirkan masalah yang tak kunjung selesai. Raut wajahnya yang biasa tampil ceria penuh senyuman, kini tergantikan dengan guratan-guratan halus penuh kecemasan.


"Pa, jangan terlalu dipikirkan. Kita harus memberi kepercayaan pada Zara. Lebih baik Papa istirahat juga, agar kondisi Papa bisa segera sembuh." Istri Emirhan itu menimpali, mendekat sang suami sambil mengusap punggungnya dengan lembut.


Diperlakukan seperti ini, membuat Emirhan mengangguk dengan pasrah. Ingin sekali dia berontak, terus menanyakan tentang Zara bahkan berkeinginan untuk menyusul anaknya itu. Tapi dia sadar, jika kesehatannya sendiri pun masih belum stabil. Emirhan tampak pasrah, tatkala sang istri dan kedua anak kembarnya itu memaksanya untuk kembali ke kamar.


Sedangkan di tempat lain, Zara terlihat benar-benar terpuruk. Wanita itu murung, hanya bisa terus melamun sambil memeluk kedua lututnya dengan erat. Kesendiriannya dalam keheningan membuat dirinya merasa nyaman. Dia begitu senang, karena tak ada lagi yang mengusik ataupun wajah-wajah yang mengkhawatirkannya tampak di matanya.


"Apa yang harus kulakukan, Tuhan?" gumam Zara dengan embusan napas yang panjang. Wanita itu memejamkan mata sekilas, merasa pusing dengan beban hidup yang sedang dia jalani saat ini.


Hatinya terpuruk. Bagaimana tidak? Wanita mana yang tidak sakit hati mendengar suaminya kini mempunyai anak dari wanita lain? Zara benar-benar merasa hancur, dia tahu inilah resikonya dia menerima Juna kembali. Dia sudah siap menanggung masa lalu tentang Juna. Tapi bagaimana bisa dia menanggung masa depan Juna jika lelaki itu mempunyai darah daging lain yang bukan darinya?


Ingin sekali Zara bersikap egois. Mempertahankan cintanya, dan melupakan segalanya. Dia hanya ingin Juna, tak ada yang lain. Bahkan orang taunya sekalipun. Tidak juga dengan calon anak Juna yang dikandung Laura sekarang.


Namun, bisakah dia seperti ini?


Selain mengorbankan dirinya, dia juga akan mengorbankan keluarganya yang telah menyayanginya selama ini. Terlebih dengan anak yang tak berdosa, yang harus menanggung beban karena hadir di dunia ini.


Tapi, jika dia merelakan untuk melepaskan segalanya, bisakah dia bertahan hidup dengan kehampaan dari jiwanya yang hilang? Hidupnya hanya ada karena raga, tapi tidak dengan jiwanya yang mungkin saja akan kosong. Mampukah dia menerima resikonya? Mampukah dia melepaskan cinta yang selama ini dia perjuangkan mati-matian?

__ADS_1


Tangis Zara kembali pecah. Setelah berhari-hari bersikap baik-baik saja di depan dua kakak kembarnya itu, kini dia terlihat sangat kacau dan berantakan.


Tubuhnya gemetar, meluapkan segala kesedihan yang hanya bisa dia rasakan saat ini. Zara meraung, berteriak dengan histeris sambil memukul-mukul dadanya yang kini terasa sangat nyeri. Sampai-sampai dia tak bisa menghirup udara dengan normal untuk bernapas.


"Tuhan ... kenapa Engkau tidak adil padaku? Kenapa Engkau membuat hidupku terombang-ambing seperti di tengah lautan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" raung Zara terisak, terlihat begitu menyedihkan.


"Jika saja aku bisa kembali memutar waktu, aku tidak ingin mempunyai perasaan cinta yang pada akhirnya membuatku menderita!" imbuhnya, dengan suara serak yang begitu lirih.


Zara merasa hidupnya hancur, dan dia tak tahu harus melakukan apa. Bisakah memilih hilang saja dari dunia ini?


Memikirkan hal ini, membuat pikiran Zara kosong. Benaknya tiba-tiba membisikkan kata mati terus-terusan yang membuatnya frustasi.


Wanita itu menggeleng, memukuli kepalanya sendiri yang berpikir dengan tidak jernih. Tapi sekuat apapun imannya, sepertinya hatinya tetap menang saat ini.


Zara tiba-tiba berduri, berjalan panik dengan mata yang sudah sembab. Sesekali memegang dinding, untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Dia terus melangkah, sampai akhirnya kakinya membawa dirinya ke depan kolam renang.


Bahkan, di dalam air pun Zara masih sempat untuk menangis. Tubuhnya masih saja gemetar, dan dia menutup matanya rapat-rapat.


'Maafkan aku, Pa ... maaf karena telah mengecewakanmu,' batin Zara dalam hati.


**


Matahari belum menampakkan sinarnya, tapi Emirhan sudah mendatangi kamar Zayyan. Lelaki paruh baya itu membangunkan anak kembarnya paksa, karena merasa gelisah sejak tadi malam.


"Papa, ada apa?" Melihat keberadaan ayahnya di kamar bahkan di jam yang masih menunjukkan pukul lima, tentu saja membuat Zayyan terkejut. Dia segera bangun, dan bertanya pada sang ayah.


"Boleh Papa tahu nomor yang suruhanmu yang menjaga Zara?" tanya Emirhan to the point.

__ADS_1


"Memangnya ada apa, Pa? Kenapa dengan ekspresi Papa? Papa terlihat tidak tenang?" tanya Zayyan, menatap sang ayah lekat.


"Papa tidak bisa tidur semalaman. Entah kenapa Papa selalu kepikiran Zara. Beberapa kali Papa menghubungi nomornya, dan itu tersambung meskipun dia tidak mengangkatnya. Tapi sekarang, nomornya sudah tidak aktif lagi. Papa khawatir, Zayyan. Papa takut Zara kenapa-napa." Emirhan berterus terang dan menceritakan kegelisahannya pada sang anak.


Zayyan yang melihat itu tersenyum, mengusap pundak sang ayah dengan lembut untuk menenangkan. "Jangan khawatir, Pa. Jika terjadi sesuatu pada Zara, anak buahku pasti sudah menelpon."


"Bagaimana jika dia lengah? Atau malah ketiduran, Zayyan?" tanya Emirhan lagi, berpikiran negatif.


"Apa Papa tidak percaya padaku? Papa ingin aku menelponnya sekarang?" tanya Zayyan mengusulkan.


Dengan cepat, Emirhan mengangguk dengan panik. "Ya, ya, telepon sekarang. Suruh dia memberitahu apa yang dilakukan Zara sekarang. Pastikan anak buahmu melihat jika Zara baik-baik saja," pinta Emirhan.


Embusan napas panjang keluar dari bibir Zayyan. Lelaki itu menahan uap, dan mulai mengangguk untuk melaksanakan perintah sang ayah. Lelaki itu mengambil teleponnya, dan langsung menghubungi anak buahnya yang dia tugaskan menjaga Zara di villa.


Telepon berdering, tapi saat sambungan pertama tidak diangkat. Zayyan kembali menelponnya, sambil sesekali mengusap matanya yang masih menahan kantuk.


"Halo, Tuan."


Sapaan dari seberang yang terdengar serak membuat Zayyan mengerutkan dahi dalam. Penasaran, dia segera bertanya, "Liam, kamu baru bangun?"


"Ya, saya bergantian tugas dengan Pram. Dia yang berjaga sekarang," jawab Liam, anak buah Zayyan.


"Baiklah, karena sekarang kamu sudah bangun, bisakah kamu mengecek keadaan adikku?" tanya Zayyan, yang terdengar bukan seperti permintaan melainkan sebuah perintah yang mutlak.


Zayyan menunggu dengan harap-harap cemas, ketika panggilan itu tak ada suaranya. Dia yakin, jika Liam sedang berjalan menuju kamar sang adik. Sesekali Zayyan menoleh pada ayahnya, dan memasang senyum manisnya untuk menenangkan lelaki yang telah membuatnya ada di dunia itu.


"Tuan ... Tuan, kabar buruk!"

__ADS_1


Baru saja Zayyan ingin berbangga jika Zara tak akan kenapa-napa, suara Liam dari seberang telepon menyahut dengan panik. Hal ini membuat Zayyan langsung mematung, apalagi saat sang ayah menatapnya tajam karena ikut mendengar panggilan tersebut yang telah di-loudspeaker.


__ADS_2