
"Kakak," panggil Zara dengan suara yang tercekat, ketika kakak kembarnya itu datang untuk menolongnya. Wanita itu langsung memeluk tubuh Zavier dengan erat, dan bersembunyi di dada. "Aku tidak mau bertemu dengannya saat ini. Bawa aku pergi, Kak, tolong."
Hati Juna bagaikan diremas dan dilempar begitu saja dari tempatnya. Lelaki itu merasakan sakit yang teramat dalam pada hatinya. Dia menangis, berjalan maju dengan tertatih dengan tangan terulur untuk mendekati sang istri. Tetapi, gerakannya terhenti saat melihat ayahnya menghadang dan menatapnya tajam.
"Pa, biarkan aku menjelaskan pada Zara. Aku tidak mau pisah dengannya, aku ingin bersamanya. Aku tidak peduli dengan anak yang dikandung Laura, aku tidak menginginkan--"
Plak!!!
Candra melayangkan tamparan yang sangat keras pada pipi Juna, yang membuat Juna tak bisa melanjutkan lagi ucapannya. Lelaki itu begitu terpukul, dan menatap ayahnya dengan pandangan nanar.
"Bahkan jika kamu meninggalkannya, itu masih saja darah dagingmu, Juna!" ketus Candra menggeram. Tiba-tiba saja, dia menarik tangan Juna dan mencengkramnya kuat. Setelahnya dia menatap keluarga Emirhan dengan serius.
"Kami akan memberi kabar secepatnya pada kalian, untuk sekarang biarkan aku yang mengurusi semuanya!" Setelah itu, Candra menarik Juna pergi dari sana.
"Pa, lepaskan aku, Pa. Aku ingin bertemu Zara, aku masih ingin menjelaskan semuanya, Pa!" Tetapi lelaki itu berusaha keras untuk berontak.
__ADS_1
Camila yang melihat suami dan anaknya mulai pergi, memejamkan mata dengan lelah. Dia memaksakan senyum untuk mendekati Zara yang ada di pojok ruangan. Wanita paruh baya itu, mengusap kepala Zara dengan lembut. "Tenang saja, Nak. Bahkan jika Juna anakku sekalipun, aku tidak akan membiarkannya menyakitimu," ucapnya dengan suara yang tercekat.
Melihat Zara tak meresponnya, Camila langsung keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan sekalipun. Wanita paruh baya itu berjalan tergesa untuk menyusul sang suami dan anaknya.
Sepanjang jalan, Camila tampak menangis. Dia tidak menyangka jika masalah ke bari menimpa rumah tangga anaknya dan juga Zara. Dia kira semuanya akan berjalan lancar setelah semuanya berakhir dan Laura pergi dari kehidupan anaknya. Tapi ternyata dia salah, nyatanya wanita ****** itu masih saja menjadi benalu untuk anaknya.
Camila turun lift sendirian, begitu sampai di lantai bawah dia terlihat celingukan mencari keberadaan Candra dan juga Juna. Dia terus berjalan sampai halaman rumah sakit, dan akhirnya melihat keberadaan mereka.
Dua lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya itu tengah bertengkar di bawah pohon beringin. Candra tampak berkali-kali memberikan Juna pukulan, sedangkan Juna tampak pasrah menerimanya.
Hati Camila begitu miris mendengar penuturan sang anak. Dia tahu Juna sudah berubah, anaknya itu telah mencintai Zara begitu dalam. Tapi tetap saja dengan kesalahan yang terjadi, bagaimana bisa Camila mempunyai wajah lagi untuk berhadapan dengan keluarga Emirhan.
"Di mana wanita itu sekarang?" tanya Camila menyela pembicaraan ayah dan anak itu.
"Ma, aku tidak tahu. Itu bukan urusanku lagi. Aku tak peduli dia bunuh diri, bahkan hamil sekalipun. Aku tidak mau--"
__ADS_1
"Juna!" bentak Camila berteriak lantang seolah meluapkan segala emosi yang sejak tadi telah terpendam.
"Kamu harus menerima resikonya, Juna! Meskipun kamu tidak mau lagi bersama Laura, tapi Mama yakin jika Zara tak akan lagi menerimamu. Kesalahanmu sangat fatal, dan merugikan semua pihak. Jika kamu benar-benar mencintai Zara, maka ceraikanlah istrimu itu sekarang!" imbuhnya berkata tegas.
"Ma, kenapa Mama malah menyudutkanku? Kenapa Mama tidak mau membelaku dan membantuku?" tanya Juna dengan suaranya yang tercekat.
"Karena Mama tidak ingin kamu menelantarkan anakmu sendiri. Meskipun Mama benci yang kamu lakukan, tapi jika Laura memang hamil itu adalah darah dagingmu sendiri. Anak itu masih mempunyai darah yang sama dengan kita, dan kamu tidak pantas menyia-nyiakannya," kata Camila panjang lebar. "Lagipula, kamu sudah menghancurkan kepercayaanmu pada Zara. Tak ada lagi kesempatan untukmu, Juna. Meskipun kamu menangis darah sekalipun, Mama yakin Zara tak akan menerimamu kembali. Apalagi dengan keluarga Emirhan yang kini sangat membencimu."
Tubuh Juna gemetar, dan dirinya ambruk. Dia memeluk lututnya sendiri dan menangis histeris. Dia masih tidak terima dengan semua keputusan yang diambil ibunya begitu saja. Mau bagaimanapun, hanya Zara yang berhak untuk membuat keputusan, bukan orangtuanya bahkan dengan orangtua Zara sekalipun.
Rumah tangga ini hanya Juna dan Zara yang menjalani, jadi semuanya harus dibicarakan pada orang yang bersangkutan.
"Juna tetap tidak ingin pisah!" ucapnya penuh ambisi dan tekad. Dia mengusap wajahnya kasar, dan menatap orangtuanya dengan tajam. "Kalian seharusnya tak ikut campur dalam masalah ruang tanggaku. Aku tak akan membiarkan siapapun menghasut istriku untuk pisah dariku. Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya!"
"Juna!" teriak Candra yang melihat anaknya itu tiba-tiba pergi meninggalkan mereka. Dia mendesah kasar, dengan tangan terkepal meninju udara.
__ADS_1
Camila sendiri hanya bisa diam, menatap anaknya dengan sendu. Dia mendekat pada suaminya, untuk meminta kekuatan dalam pelukan hangat. "Pa, kenapa perasaanku tidak enak? Apa yang akan dilakukan Juna sekarang?" tanyanya mengungkapkan perasaan gelisah yang melanda hatinya saat mengingat lagi tatapan tajam Juna seperti orang nekat yang akan melakukan apapun saja.