
Teriakan Zara membuat semua orang yang sedang berbincang santai di ruang makan itu langsung menoleh. Mereka panik melihat Juna tergeletak lemas di lantai dengan Zara yang sudah menangis.
Camila yang pertama kali beranjak. Wanita paruh baya itu cemas, mendekati anaknya yang terlihat seperti orang linglung. "Juna, Juna kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
Candra tepat berada di belakang Camila. "Zara, apa yang terjadi? Ada apa dengan Juna?" tanyanya ikut cemas.
Zara menangis, sambil terus menggeleng dia menjawab, "Aku tidak tahu, Pa. Mas Juna syok setelah mendapat telepon dari seseorang."
Emirhan yang mendengar hal tersebut, segera mengawasi sekitar untuk mencari telepon Juna. Saat menemukannya, dia ingin mengecek. Tetapi dahinya berkerut saat mendapati panggilan masih tersambung. Lelaki paruh baya itu cepat-cepat mengangkatnya.
"Halo, ini siapa? Apa yang terjadi? Kenapa menantuku sangat kaget?" tanya Emirhan tanpa basa-basi.
Terdengar suara dengungan dari seberang telepon dari seberang. Sebelum ada yang berkata, "Maaf, Tuan, kami dari Rumah Sakit Permata. Pasien bersama Laura melakukan percobaan bunuh diri di saat kondisinya tengah hamil. Dia terlihat depresi, dan pasien menyarankan untuk menghubungi nomor ini."
Sama seperti Juna, Emirhan pun syok mendengarnya. Lelaki paruh baya itu tak bisa bernapas normal, dan seluruh tubuhnya lunglai dengan lemas.
Zayyan yang paling dekat dengan sang ayah, segera menangkapnya dengan panik. Dia membawa ayahnya ke tempat duduk yang paling dekat di sana. Melihat ayahnya hanya diam melotot sambil memegangi dadanya membuat Zayyan menjadi panik.
"Papa ... Papa kenapa? Ada apa, Pa?" teriak Zayyan bertanya.
Emirhan masih menatap depan dengan pandangan kosong, saat mulai menjawab dengan suaranya yang tercekat. "Lelaki bajingan itu menghamili kekasihnya."
"Apa maksud, Papa? Siapa, Pa?" tanya Zayyan lagi bingung.
Tangan Emirhan mulai terangkat dengan pelan, kepalanya pun mulai menoleh. Arah tujuannya adalah Juna, yang kini masih duduk linglung dikerubungi orang tuanya dan juga Zara. "Dia ... dia mengkhianati putriku lagi. Di--"
__ADS_1
Emirhan belum sempat menyelesaikan ucapannya, ketika tubuhnya mengalami kejang. Zayyan yang sejak tadi berada di depannya, berteriak panik dan mengguncang tubuhnya keras. Emirhan masih bisa melihat bagaimana sang istri menatapnya cemas, sebelum akhirnya kegelapan melanda dunianya.
"Papa ... Zavier, siapkan mobil cepat. Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Zayyan panik.
Zara yang sejak tadi berusaha membangunkan suaminya, kini mulai teralih dengan kondisi sang ayah. Wanita itu meninggalkan Juna, dan berlari mendekati ayahnya yang kini tengah dibopong Zayyan dan juga mertuanya.
"Apa yang terjadi pada papa, Ma?" tanya Zara cemas, menangis histeris.
"Mama tidak tahu, Zara. Setelah menerima telepon, papamu tampak marah pada Juna. Dia sempat bilang suamimu kembali berkhianat sebelum akhirnya mengalami serangan jantung," jawab ibu Zara menangis, di pelukan Zara.
Camila yang sejak tadi memperhatikan, tampak syok mendengar kata-kata besannya. Wanita itu mulai menatap anaknya yang masih terdiam. Napasnya tampak memburu, dan saat dia kembali mendekati Juna, Camila langsung melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras.
"Ma." Sontak, hal ini membuat Juna tersadar. Dia menatap ibunya dengan sorot mata yang sangat rumit.
"Apa yang kamu lakukan, Juna? Apa yang terjadi, siapa yang menelpon?" bentak Camila bertanya dengan beruntun.
"Jangan bertele-tele, Juna! Katakan apa masalahnya? Jelaskan semuanya!" pinta Camila lagi dengan begitu tegas, bahkan sedikit mundur agar anaknya itu tak bersujud di kakinya lagi.
Juna gemetar, lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Berkali-kali dia menarik napasnya dalam, tapi hasilnya sia-sia karena dirinya tak bisa tenang sedikit pun.
"Juna!" Camila meninggikan suaranya untuk memanggil anaknya.
Perlahan, wajah Juna mendongak. Lelaki itu tampak begitu ketakutan. "A-aku ... a-aku mendapat kabar dari rumah sakit jika Laura melakukan percobaan bunuh diri, Ma."
"Lalu apa urusannya denganmu? Bukankah kamu sudah memutuskan untuk pisah dan tak lagi berhubungan dengannya?" tanya Camila penuh selidik.
__ADS_1
"Masalahnya ... masalahnya sekarang dia sedang hamil anakku."
Prank!!!
Tepat setelah Juna mengatakan hal tersebut, suara benda pecah terdengar begitu nyaring. Dari pintu masuk ruang makan, Zara berdiri dengan tubuh yang kaku dan sangat syok. Di bawahnya kini terdapat gelas kaca yang sudah berserakan.
Jantung Juna berdegup kencang melihatnya, dia segera bangun tertatih untuk menghampiri Zara. Tatapan Juna begitu lekat, penuh ketakutan dan rasa penyesalan. "Zara," panggilnya dengan suara yang tercekat.
"A-apa aku tidak salah dengar, Mas?" tanya Zara lirih dengan pipi yang sudah basah karena air mata.
"Sayang ... dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan!" pinta Juna memelas, tangannya melambai berusaha untuk menggapai istrinya.
Sayangnya, Zara melangkah mundur. Wanita itu menggeleng dengan raut wajah penuh kesedihan. Tubuhnya gemetar karena tangis yang terdengar begitu menyayat hati.
Dia kembali ke ruang makan, berniat untuk mengambilkan ibunya minum karena masih syok dengan keadaan ayahnya. Tetapi siapa sangka, dia juga akan mendengar kabar yang begitu mengejutkan. Hati Zara remuk redam, tubuhnya bagaikan terombang-ambing di tengah lautan tanpa tepi saat mengetahui jika suaminya akan mempunyai anak dari wanita lain.
"Aku kecewa padamu, Mas. Aku kecewa!" kata Zara menekan suaranya dengan rendah. Sedetik kemudian, dia berbalik dan berlari begitu saja.
"Zara!" panggil Juna panik, dan berniat untuk mengejar. Tapi langkahnya terhenti karena sang ibu sudah menghadang di depannya. "Mama, biarkan aku lewat, Ma. Aku ingin mengejar istriku."
"Istriku?" sindir Camila menatap tajam sang anak. "Masih tak tahu malu, kah kamu menyebut Zara istrimu, sekarang? Juna, kamu benar-benar tidak waras!"
"Ma, tolong, Ma. Aku ingin menjelaskan pada--"
"Menjelaskan apa, hah? Menjelaskan jika kamu mempunyai anak dari wanita selingkuhanmu itu? Kamu gila, Juna. Kamu tidak punya perasaan. Bukan hanya Zara saja yang kamu kecewakan. Tapi kami semua, kami orang tuamu dan kami keluarga Zara juga. Kamu benar-benar brengsek! Jangan temui Zara lagi, urus saja urusanmu dengan jalangmu itu!" sahut Camila menyela ucapan Juna. Wanita itu berkata tegas penuh kekejaman, menatap anaknya tanpa belas kasihan sama sekali.
__ADS_1
Tubuh Juna mendadak kaku mendengar ucapan sang ibu. Lelaki itu lemah, dan terjatuh begitu saja di lantai. Dia kembali menangis dengan histeris penuh penyesalan. Dia tak menyangka rumah tangganya yang kembali membaik setelah dia menyelesaikan urusannya, kini kembali hancur karena masa lalu.
"Arrgghh! Sial, sial, sial!" Lelaki itu berteriak penuh frustasi, memukuli kepalanya sendiri dengan keras. Dia menangis, menyadari jika hidupnya sudah hancur saat ini.