
Camila pergi tanpa niat mengatakan apa pun lagi. Rasa kecewanya benar-benar besar pada Juna. Camila tidak sabar untuk pulang dan menceritakan semua itu pada suaminya, sebab saat ini Camila benar-benar butuh teman untuk bicara.
Tiba di rumah, Camila langsung menghambur memeluk suaminya dan itu jelas saja membuat Candra bingung dan cemas dibuatnya.
"Sayang, ada apa?" tanyanya melonggarkan pelukan Camila mengangkat wajah istrinya yang telah basah.
"Juna telah mengecewakanku, Mas. Aku tidak menyangka jika putraku akan berbuat seperti itu pada Zara," ucap Camila membuat Candra semakin bingung mendengarnya.
"Apa yang Juna lakukan? jelaskan dengan tenang. Tolong jangan menangis seperti ini," pinta Candra mengusap air mata istrinya.
Camila mencoba menghentikan tangisnya, setelah itu mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah Juna.
"Juna dan wanita ular itu masih bersama. Bahkan saat ini wanita ular itu ada di rumah Juna," ucap Camila membuat Candra amat terkejut mendengarnya.
"Bagaimana dengan Zara?" tanyanya panik.
__ADS_1
Sama seperti Camila yang sangat menyayangi Zara, Candra juga menyayangi Zara seperti putrinya sendiri. Melihat dan ikut mengikuti perkembangan Zara sejak kecil tentu saja membuat rasa sayang mereka pada Zara tak bisa diukur.
"Zara tidak ada di rumah. Untunglah dia tidak di rumah, setidaknya Zara tidak akan melihat perbuatan suaminya. Namun aku tidak rela Juna menyakiti Zara seperti iru, Mas. Tapi aku juga tidak rela jika Juna bersama wanita ular itu," ucap Camila.
"Di mana Zara?" tanya Candra lagi.
"Zara di rumah orang tuanya," jawab Camila yang belum mengetahui jika Zara beserta keluarganya sedang tidak berada di rumah.
"Bagaimana dengan Juna? Di mana anak kurang ajar itu?" tanya Candra yang sudah tersulut emosinya.
"Mungkin masih di rumah, atau justru di rumah sakit," jawab Camila.
"Aku akan menemuinya." Candra bangkit berdiri. Camila yang melihat itu segera menahan tangan suaminya. "Jangan sekarang!" ucapnya.
"Kenapa? Aku tidak bisa diam. Juna benar-benar telah mengecewakanku. Apa yang akan aku katakan pada keluarga Emir? Bagaimana caraku menatap wajah Zara setelah putraku sendiri menyakiti hatinya?" ucap Candra kembali terduduk lemas mengusap kasar rambutnya.
__ADS_1
"Jangan bertindak saat tengah diselimuti emosi seperti ini. Aku sudah menekankan ancaman kepada Juna. Dia harus memilih. Dia tidak bisa memiliki keduanya. Meski aku melihat cinta di mata Juna untuk wanita itu, tetapi aku sangat yakin jika Juna tidak akan mungkin mengabaikan Zara. Tidak akan ada yang bisa mengabaikan pesona Zara, apalagi setelah mendengar penjelasan para pelayan tentang Juna dan Zara saat di rumah. Karena itu aku percaya Juna memiliki perasaan pada Zara," kata Camila.
Candra yang mendengar itu terdiam. Candra coba mengatur nafasnya yang memburu karena kesal pada Juna.
"Jika pada akhirnya Juna memilih wanita itu. Maka aku akan memaksa Juna untuk melepaskan Zara," ucap Candra yang dianggukkan setuju oleh Camila.
***
Juna membawa Laura ke rumah sakit. Dari yang terlihat sebenarnya musibah yang menimpa Laura tidak begitu parah. Namun, karena Laura mengeluh kesakitan, di sinilah akhirnya mereka berada. Di salah satu rumah sakit terdekat yang ada di sana.
"Aku mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu," ucap Laura berulang kali mengatakannya.
Juna yang duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien mengembuskan nafas panjang, Juna benar-benar bingung harus melakukan apa. Di satu sisi Juna merindukan Zara, sangat merindukan Zara. Namun disisi lainnya Juna masih mencintai Laura.
"Juna. Harusnya ini bisa menjadi kesempatan untuk kita bersama. Lepaskan wanita itu. Aku mohon, demi aku. Aku janji akan menjadi wanita yang jauh lebih baik darinya," ucap Laura menatap penuh harap pada Juna yang hanya terdiam tanpa bisa menjawabnya.
__ADS_1
"Tolong jangan diam saja. Diam mu ini menyakitkanku, tolong bicara!" pinta Laura menggenggam kedua tangan Juna.