
Arjuna tidak main-main dengan niatnya untuk mengajak Zara bulan madu. Tepat setelah semua urusan keluarga telah selesai, kini lelaki itu memboyong istrinya ke Bali. Hanya mereka berdua, tanpa ada siapapun.
Penerbangan selama dua jam itu akhirnya berakhir, hari masih siang ketika mereka tiba di Resort. Juna sengaja memilih hunian yang mempunyai letak pantai pribadi, karena ingin menikmati keindahan pantai Bali tanpa adanya gangguan dari siapapun.
"Kamu lelah, Sayang?" tanya Juna perhatian pada sang istri, dia meletakkan koper yang sejak tadi diseretnya lalu menghampiri Zara yang kini bahkan langsung tiduran di tepi ranjang.
Wajah Juna diliputi kecemasan, saat melihat Zara terlihat pucat. "Sayang, kamu kenapa?"
"Tidak apa, Mas Juna. Aku hanya sedikit pusing, sepertinya aku mengalami jet lag," sahut Zara dengan lirih.
"Kamu 'kan sering naik pesawat, kok bisa jet lag?" tanya Juna lagi, mengerutkan dahinya dalam.
"Mungkin karena aku sedikit kurang enak badan." Zara berguling, mencari tempat ternyaman untuk memejamkan mata. "Aku ingin tidur sebentar, nanti bangunkan kalau sudah sore, ya, Mas. Aku mau main di pantai."
"Baiklah, Sayang. Tidurlah yang nyenyak," kata Juna kemudian, menunduk untuk mengecup kening sang istri.
Melihat napas Zara mulai teratur dan kelopak matanya tak berkedip lagi, Juna yakin jika istrinya itu sudah tertidur. Lelaki itu akhirnya beranjak, mendekati koper dan menata barang-barang miliknya dan milik Zara ke lemari.
Setelah selesai, Juna ikut berbaring. Lelaki itu terus-terusan menatap Zara dengan lekat. Bibirnya terus melengkung membentuk senyuman manis.
"Terima kasih, Zara. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku janji hanya akan ada kita dan anak-anak kita kelak di kehidupan kita tanpa adanya orang ketiga lagi," gumam Juna dengan lirih, sambil mengusap pipi Zara yang tampak halus.
"Aku mencintaimu, Sayang," lirihnya kembali mencium kening Zara lembut. Setelahnya, dia ikut memejamkan mata berniat untuk tidur.
Tapi sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikirannya. Juna kembali beranjak bangun, memanggil pelayan resort dengan telepon rumah yang ada di samping nakas. Setelahnya dia keluar untuk menunggu.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit, Juna berbicara dengan pelayan resort. Dia mengatakan keinginannya dan persiapan yang matang. Saat selesai, dia tak lupa untuk memberikan tips untuk pelayan resort tersebut.
Juna tersenyum, dalam hatinya terbayang-bayang bagaimana respon Zara nantinya dengan apa yang dia lakukan. Lelaki itu kembali ke dalam, dan menyibukkan diri dengan bermain game di telepon karena tak bisa tidur.
Zara mengerjap, dan langsung terbangun saat melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Wanita itu terlihat kesal karena sang suami tak membangunkannya. Tetapi saat dia melihat posisi suaminya saat ini, dia hanya bisa tersenyum dengan gelengan kepala.
"Rupanya dia juga tidur," gumam Zara beranjak untuk mendekati sang suami yang ada di sofa.
Wanita itu berjongkok di hadapan Juna. Lalu mengulurkan tangan untuk mengusap pipi sang suami dengan lembut. "Mas Juna, bangun, Mas."
Melihat Juna hanya melenguh dan mengerutkan dahi dalam, membuat Zara terkekeh. Entah kenapa dia merasa senang mengganggu suaminya itu.
"Mas Juna." Bahkan kali ini, Zara memberanikan diri untuk mengecup pipi Juna.
Hal ini langsung membuat kesadaran Juna kembali. Lelaki itu tersenyum meskipun masih memejamkan mata. "Lagi, Zara," pintanya dengan suara yang serak.
Juna terkekeh mendengarnya, dia mengulurkan tangan untuk memeluk Zara. Dia membawa wanita itu menyandar di dada bidangnya.
"Mas, lepas!" pinta Zara menepuk-nepuk bahu Juna, karena merasa tidak nyaman dalam posisinya.
Sedangkan Juna malah mengindahkan, dan semakin memeluk Zara erat sambil sesekali mengecup rambut wanita itu.
"Argh!"
Sampai akhirnya, Juna kesakitan dan reflek melepaskan pelukan itu. Dia terbangun kaget, dan mengusap dadanya yang sakit. "Kamu menggigitku, Zara?"
__ADS_1
"Salah siapa kamu nggak mau lepasin aku!" tutur Zara tersenyum lebar.
"Awas kamu, ya!" Juna langsung beranjak, berniat memberikan pelajaran untuk istrinya itu. Tapi dia kalah cepat tatkala Zara menghindar dengan gesit. Wanita itu berlari saat dia akan menangkapnya.
"Ampun, Mas, ampun!" Zara berteriak dengan tawanya yang pantang. Dia mencoba bersembunyi, tapi tak ada tempat baginya karena Juna sudah melihatnya.
Ketika Zara sudah kebingungan, saat itulah Juna menangkapnya. Zara terkekeh saat suaminya itu memeluknya erat dan menjatuhkan tubuh mereka ke ranjang. Juna menggelitik, yang membuat Zara tak berhenti tertawa.
"Stop ... stop, aku menyerah!" tutur Zara kemudian dengan napas yang sudah tersengal lelah. Dia menatap sendu ke arah Juna.
Melihat istrinya seperti itu, Juna menghentikan tangan nakalnya. Lelaki itu mulai tersenyum, masih dengan posisi di atas tubuh Zara.
Tatapan keduanya bertemu, dan mereka saling memandang satu sama lain dengan lekat. Seolah bisa membaca pikiran, masing-masing mendekatkan bibir untuk sebuah ciuman.
Rasanya panas, ciuman itu begitu menggelora dalam hasrat penuh cinta. Saling beradu satu sama lain, dan menunjukkan dominasi perasaan yang kuat.
Napas Juna terengah ketika ciuman itu terlepas. Dia tersenyum melihat wajah Zara yang kini merah padam. Ingin rasanya Juna melanjutkan gairahnya yang menggebu, tapi mengingat lagi apa yang sedang dipersiapkan membuatnya urung melakukan.
"Bukankah kamu mau bermain di pantai untuk melihat sunset?" tanya Juna kemudian bangun dari tubuh Zara.
Zara sendiri tampak tercengang, dia bisa merasakan jika dirinya pun bergejolak sama seperti yang dia lihat di mata suaminya itu. Tapi dia tak menyangka, jika Juna akan menghentikan hal ini demi keinginannya tadi.
Senyum Zara merekah. "Tentu, maukah kamu menemani?" tanya Zara balik.
"Ayo!" Juna bangun, mengulurkan tangan pada Zara. Saat tatapannya tertangkap mata Zara, Juna hanya bisa terkekeh pelan.
__ADS_1
Juna membiarkan sang istri bersiap di kamar mandi. Sedangkan dia menunggu di sofa sambil meneguk banyak air putih. 'Sabar, Juna ... tahanlah sebentar lagi.' Lelaki itu bergumam sendiri dalam hati, untuk meredakan emosi hasrat yang sempat membuncah dan begitu menggebu untuk segera memiliki Zara seutuhnya.